Thailand Selatan: Konflik Mengganggu Sistem Pendidikan
 

June 27th, 2007 by Besty Siregar  Print This Post/Page

Sekolah menjadi  tempat pertempuran di Thailand Selatan. Sementara  para guru dan sekolah menjadi sasaran empuk serangan para pejuang seperatis militan. Di sisi lain, militer Thailand mengintimidasi dan memata-matai para mahasiswa yang belajar di sejumlah universitas di luar negeri seperti di Indonesia. Nita Roshita yang disponsori melalui beasiswa SEAPA berkunjung ke Jogyakarta sampai Pattani, Thailand Selatan,  untuk mengivestigasi mengapa pendidikan menjadi senjata bagi kelompok militan.

 

‘Jangan Mata-matai Kami’ Kata Mahasiswa Thailand Selatan Di Indonesia

June 27th, 2007 by Nita Roshita
 

College_of_Islamic_Studies__Pattani__web_.JPGMiliter Thailand memperkirakan sepuluh ribu pelajar dari Thailand Selatan belajar di universitas di luar negeri, presentasi yang cukup besar diantaranya berada di … more

 

Angkhana Berjuang Untuk Keadilan

June 27th, 2007 by Nita Roshita
 

Angkhana with the victim of Ban Kampong incident (web)_1.JPGDi Asia ada sejumlah perempuan yang … more

 

Konflik di Thailand Selatan Menggangu Aktivitas Pendidikan

June 27th, 2007 by Nita Roshita
 

Al_Mahad_Islami_Darussalam__Tasik_Yala__web_.JPGSejumlah penyerangan terhadap para guru dan sekolah yang dilakukan kelompok militan seperatis, mengganggu jalannya pendidikan di beberapa provinsi selatan Thailand. Karena penyerangan tersebut, … more

 


ON AIR THIS WEEK
 

Topan Burma Menundukkan Militer Burma: Korban tewas akibat topan Nargis di Burma terus bertambah. Menurut pekerja kemanusiaan, jumlahnya  mencapai 20 ribu orang dan ribuan lainnya luka-luka. Ada kekhawatiran angka ini terus bertambah akibat kolera dan penyakit bawaan air lainnya yang menyebar diantara  penduduk yang kehilangan tempat tinggal, yang mencapai  dua juta orang. Militer Burma berada ditekan Perserikatan Bangsa Bangsa agar membiarkan pekerja  kemanusiaan bekerja tanpa batas menangani bencana ini. Koresponden kami  melaporkannya untuk Anda.

Para Pelajar Kamboja Putus Sekolah Karena Tak Lagi Menerima Bantuan WFP :  Persediaan beras dunia kian berkurang dan berada di titik terendah  dalam  20 tahun belakangan ini.   Alhasil, harganya melonjak  lebih dari dua kali lipat  sejak awal 2008. Jurubicara Badan Pangan Dunia (WFP), Paul Risley mengatakan orang yang paling miskin akan kelaparan,  karena badan itu  tak sanggup memebeli beras.  Sejak bulan ini, WFP menghentikan pengiriman sarapan gratis untuk setengah juta anak sekolah Kamboja. Sorn Sarath dari  Radio of Democracy (VOD) mengunjungi salah satu sekolah itu,  dan mencari tahu dampakbya pada mereka.