Perubahan Di Kamboja
 

April 3rd, 2008 by Rebecca Henschke  Print This Post/Page

Cambodia_eviction__web_.JPGSetelah puluhan tahun perang dan pergolakan, termasuk ‘Ladang Pembunuhan’, kini Kamboja mengalami kemajuan yang pesat. Perekonomiannya meningkat sekitar 10 persen dalam lima tahun belakangan ini, menempati urutan kedua dalam bidang pertumubhan ekonomi setelah Cina. Alhasil harga tanah di Pnom Penh melonjak naik. Wajah Ibukota kemudian yang dulunya sepi, menjadi sebuah wilayah yang mulai ditumbuhi konstruksi bangunan. Pertumbuhan ini juga menyebabkan ratusan ribu orang miskin terpaksa meninggalkan rumah mereka. Dalam laporan khusus ini, kami menyoroti siapa saja yang diuntungkan dari ledakan ekonomi itu.

 

Ledakan Ekonomi Kamboja Membuat Harga Rumah Melambung Tinggi

April 3rd, 2008 by Rebecca Henschke
 

Cambodia_Economy1__web_.JPGSetelah masa perang puluhan tahun, termasuk adanya “Ladang Pembunuhan” Khmer Merah, Kamboja kini memasuki masa pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi mencapai 10 persen dalam … more

 

Penggusuran Paksa Di Kamboja Menghancurkan Kehidupan Warga Setempat

April 3rd, 2008 by Rebecca Henschke
 

Cambodia_Landgrabbing__web_.JPGSetelah masa perang puluhan tahun, termasuk adanya “Ladang Pembunuhan” Khmer Merah, Kamboja kini memasuki masa pertumbuhan ekonomi. Alhasil, harga tanah di Pnom Penh … more

 

Ketidakmampuan Bukan Penghalang Bagi Para Orang Cacat Untuk Berkarya di Kamboja

April 3rd, 2008 by Rebecca Henschke
 

Cambodia_Spotlight__web_.JPGAkibat perang yang melanda Kamboja selama puluhan tahun dan pelayanan kesehatan yang buruk, seperlima warga di negeri itu, cacat. Mereka termasuk bagian yang … more

 

‘Ray Charles’ Kamboja Melestarikan Musik Tradisional

April 3rd, 2008 by Rebecca Henschke
 

Children_at_the_relocation_centre__web_.JPGKong Nay dikenal sebagai sebagai Ray Charles-nya Kamboja. Dia memakai kaca mata hitam dan tergolong sebagai musisi yang bertalenta. Tapi hanya itulah persamaannya Ray … more

 


ON AIR THIS WEEK
 

Cyclone brings Burmese military to its knees: Now aid workers say at least 20,000 are dead and tens of thousands more injured. There are fears that the number will rise due cholera and other water-borne disease breaking out amongst the two million people made homeless by the cyclone.The Burmese military is under mounting pressure to allow UN aid workers unlimited access to deal with the disaster. However, as our correspondents report, they are resistant to receive outside help.

Cambodian school children drop out of school after the WFP stops providing rice: Global stocks of rice are at their lowest in two decades. As a result rice prices have more than doubled since the start of the year. The United Nations World Food Programme’s spokesperson, Paul Risley, says the “poorest of the poor” will go hungry because their agency can’t afford to buy rice. As of this month the United Nations World Food Programme has suspended free breakfasts to nearly half a million school children. Sorn Sarath from VOD went to visit one of the schools affected to see the impact.

Asia Calling : Your Window on Asia