Laporan Eksklusif Tibet
 

Tibet exclusive

April 9th, 2007 by webmaster  Print This Post/Page

monks.jpgKnown as the �roof of the world� � Tibet has long remained a place of mystery. With it�s soaring mountain ranges and strong Buddhist culture, it�s perhaps best known for its exiled spiritual leader, the Dalai Lama. Governed as an autonomous region of China and bordered by Nepal and India, the territory has had a tumultuous history, with thousands of Tibetans believed to have been killed during periods of repression and martial law.

Responding to international pressure, China began to �open up� Tibet in the 1980s, introducing reforms and boosting investment. But some argue that this modernisation is coming at a high price, with Tibetans themselves having little say in their future. As part of an exclusive series of reports, our correspondent, Siska Silitonga, visited the region, speaking first hand to those involved in Tibet�s development.

 

TIBET: Penduduk Lokal Harus Bersaing Dengan Pendatang Untuk Menikmati Hasil Pembangunan

April 9th, 2007 by Siska Silitonga

tibet_railway_2.jpgKampanye Pemerintah untuk membangun wilayah Barat Cina telah mencapai Tibet. Terkenal sebagai �atap dunia�, wilayah Tibet berbatasan dengan Nepal dan India. Sejak … more

 

TIBET: Sekolah Braille Membuka Harapan Bagi Anak-Anak Tuna Netra

April 9th, 2007 by Siska Silitonga

sabriye_blind_kids_2.jpgDalam bagian kedua dari serial kami mengenai Tibet, kita akan melihat perjuangan seorang perempuan yang memberikan harapan bagi anak-anak yang kurang beruntung. … more

 

TIBET: Kehidupan Beragama Di Tibet Terancam Di Bawah Rezim Komunis Cina

April 9th, 2007 by Siska Silitonga

monks2.jpgDalam empat dekade terakhir, Tibet telah banyak berubah. Setelah pemerintah Cina membuka wilayah itu, banyak jalan raya yang dibangun. Modal asing dan … more

 

TIBET: Cina Merayakan 40 Tahun Otonomi Tibet

April 9th, 2007 by Siska Silitonga

pilgrims.jpgMinggu ini, Cina merayakan ulang tahun ke 40 Tibet sebagai wilayah otonomi. Pemerintah Beijing berjanji untuk meningakatkan perekonomian wilayah itu dan mempertahankan … more

 


ON AIR THIS WEEK
 

Topan Burma Menundukkan Militer Burma: Korban tewas akibat topan Nargis di Burma terus bertambah. Menurut pekerja kemanusiaan, jumlahnya  mencapai 20 ribu orang dan ribuan lainnya luka-luka. Ada kekhawatiran angka ini terus bertambah akibat kolera dan penyakit bawaan air lainnya yang menyebar diantara  penduduk yang kehilangan tempat tinggal, yang mencapai  dua juta orang. Militer Burma berada ditekan Perserikatan Bangsa Bangsa agar membiarkan pekerja  kemanusiaan bekerja tanpa batas menangani bencana ini. Koresponden kami  melaporkannya untuk Anda.

Para Pelajar Kamboja Putus Sekolah Karena Tak Lagi Menerima Bantuan WFP :  Persediaan beras dunia kian berkurang dan berada di titik terendah  dalam  20 tahun belakangan ini.   Alhasil, harganya melonjak  lebih dari dua kali lipat  sejak awal 2008. Jurubicara Badan Pangan Dunia (WFP), Paul Risley mengatakan orang yang paling miskin akan kelaparan,  karena badan itu  tak sanggup memebeli beras.  Sejak bulan ini, WFP menghentikan pengiriman sarapan gratis untuk setengah juta anak sekolah Kamboja. Sorn Sarath dari  Radio of Democracy (VOD) mengunjungi salah satu sekolah itu,  dan mencari tahu dampakbya pada mereka.