Australia Mempertimbangkan Untuk Menggunakan Energi Nuklir
July 18th, 2007 by Erica Vowles
Australia menjelajahi kemungkinan untuk menggunakan energi nukli yang sebelumnya tidak diperhitungkan.
Industri uranium dan pendukunganya mempromosikan tenaga nuklir sebagai satu-satunya cara untuk mengatasi perubahan iklim dan melindungi perekonomian.
Seperti yang dilaporkan oleh Erica Vowles, kekhawatiran atas cara Australia mengurangi tingginya emisi CO2 telah menghidupkan gagasan yang sudah lama mati. Laporannya disampaikan Andre Nugroho.
“Tahun lalu kami tidak bisa membicarakan siklus bahan bakar nuklir di Australia dengan baik. Tapi sekarang masyakarat mau membicarakannya dan memberikan pandangan lain yang lebih berdasarkan pada fakta.�
Baru baru ini Dr. Ziggy Switkowski mencari tahu soal pengunaan energi nuklir di Australia berdasarkan pemintaan pemerintah.
Sebagai seorang ilmuwan nuklir, dia percaya kalau nuklir merupakan energi alternatif yang ramah linkungan ketimbang bahan bakar fosil. Karena menghasilkan gas rumah kaca yang lebih sedikit ketimbang energi yang dihasilkan oleh batubara.
Sehingga bisa memerangi perubahan iklim tanpa menggangu roda perekomoian negara.
Kepala Departemen Komunikasi World Nuclear Association Ian Hore Lacy yakin, pengurangan emisi CO2 besar-besaran bisa dilakukan.
“Kalau melihat siklus bahan bakar secara keseluruhan, hanya akan menghasilkan sekitar 2 per sen dari emisi CO2 ketimbang pembangkit yang menggunakan batubara. Itu perbedaan yang sangat besar. Kalau kita bicara soal nuklir di pembangkit dengan kekuatan 1000 megawatt, bisa menghemat sekitar 7 juta ton CO2 per tahun.�
Dia mengatakan pemanfaatan pembangkit listrik tenaga nuklir bisa mengurangi gas buang karbondioksida atau CO2 hingga 98 per sen daripada meggunakan tenaga batubara.
Persentase ini sudah termasuk polusi yang dihasilkan oleh penggalian uranium dari tanah dan pengangkutannya ke pembangkit listrik.
Tapi Steve Campbell dari Greenpeace mengatakan Ian tidak mempertimbangkan isu ini secara keseluruhan.
“Sayangnya persentase itu tidak tepat. Selama beberapa abad siklus bahan bakar, penambangan dan pengembangan uranium, pengangkutannya, pembakaran bahan bakar dan pengelolaan limbah justru lebih dari 2 per sen yang dihasilkan oleh pembangkit tenaga batubara. Persentase yang sebenarnya mungkin sekitar 50 per sen. “
Dan dia mengatakan, masih ada isu-isu penting yang diabaikan.
“Biaya untuk membangun pembangkit tenaga nuklir yang baru tinggi sekali dan butuh waktu yang sangat lama. Selain itu izinnya baru keluar puluhan tahun kemudian. Kita harus bertindak lebih cepat lagi. “
Menurut sebuah survei masyarakat Australia pada umumnya menentang pembangkit listrik tenaga nuklir.
Mereka khawatir soal kemanannya dan tidak ingin hidup berdekatan dengan pembangkit itu.
Dan belum ada solusi soal pembungan limbah nuklir yang beracun
“Industri nuklir belum menemukan cara bagaiamana membuang limbah nuklir dan ini masalah yang besar.�
Tapi Ian Hore Lacy bersikeras, industri nuklir telah menangai masalah seperti ini selama 50 tahun.
Menurutnya, teknologi bisa digunakan untuk menguburkan limbah itu di bawah tanah dengan aman. .
Namun metode ini belum pernah digunakan di negara manapun.
Tapi Ian Hore Lacy berpendirian, melihat dampak langsung dari pemanasan global, energi nuklir harus dipertimbangkan.
Listrik menghasilkan hampir 40 per sen dari emisi gas rumah kaca Australia.
Steve Campbell dari Greenpeace mengaku kalau Australia menggunakan energi nuklir, bisa mengurangi emisi C02 sebanyak 20 per sen. Namun ia masih meragukan penggunaan energi itu.
�Masalah terbesar saat ini hanya ada waktu 10 tahun untuk mengatasi masalah pemanasan global. Kita harus segara mengurangi emisi gas kita. Di Australia tidak mungkin pembangkit nuklir bisa dibangun dalam waktu 15 atau 20 tahun. Dan kita harus memikirkan tindakan apa saja yang bisa kita lakukan sekarang untuk mengurangi emisi itu. Seperti penggungaan energi yang efisien dan menggunakan energi yang bisa diperbaharui. Kita tidak bisa tunggu sampai tahun 2025 untuk membangun pembangkit nuklir karena tidak menyelesaiakn masalah dansudah terlambat sekali.�
Meski energi nuklir tidak populer, dan dipredkisi akan menimbulkan dampak yang negatif, pemerintah federal masih mempertimbangkan energi itu.
Pada bulan April lalu, Partai Buruh, partai oposisi utama di Australia, memilih untuk menghapus larangan pengembangan pertambangan uranium di negeri itu.
“Kita harus bicarakan efisiensi energi sebelum membahas sistem energi. Menurut sejumlah studi, Australia bisa mengurangi 20 persen emisi gas kalau menerapkan standar efisiensi yang lebih ketat.�

Leave a Reply