Indonesia Membeli Pohon Hidup

July 18th, 2007 by Rebecca Henschke  Print This Post/Page
 

Indonesia_trees__web_.JPGIndonesia ada di kedua ujung perdebatan soal pemanasan global. Dengan 17 ribu pulau dan kekayaan alam nomor dua setelah Brasil, Indonesia sangat terancam dari kenaikan permukaan air laut dan perubahan iklim.

Tapi negara ini juga menjadi penyumbang polusi terbesar di dunia. Penggundulan hutan serta pembakaran lahan-lahan gambut di Kalimantan mendongkrak Indonesia ke posisi ketiga sebagai penyumbang gas rumah kaca terbanyak sedunia.

Seorang laki-laki di Universitas Palangkaraya, Kalimantan Tengah berupaya mengubah ini.

Suwido Limin, Kepala Pusat Kerjasama Internasional dalam Manajemen Hutan Gambut, CIMTROP, berkejaran dengan waktu menyelamatkan hutan gambut di Kalimantan Tengah.

Rebecca Henschke berbincang dengan laki-laki penuh inspirasi ini dan menengok hasl kerjanya. Ceritanya disampaikan oleh Citra Prastuti.

Kami berada di perahu kotok, perahu tradisional dari kayu, yang melintasi sejumlah rumah-rumah bambu yang berdiri di atas rawa-rawa. Kami memasuki sebuah laboratorium sains raksasa. Hutan gambut seluas 50 ribu hektar ini digunakan untuk mempelajari ekosistem yang rumit.

Suwido Limin dari Universitas Palangkaraya melihat hutan-hutan semacam ini sangat cepat menghilang.

“Kita waktu itu cepet-cepet mencari suatu kawasan yang relatif virgin untuk diselamatkan sebagai laboratorium atau museum, sehingga kalau daerah lain terbuka habis, minimal di situ ada yang masih virgin yang bisa jadi sumber iptek di masa mendatang untuk ilmu pergambutan.“

48 persen hutan gambut Indonesia telah menghilang, sisanya terancam pembalakan liar. Ini jelas punya dampak besar terhadap pemanasan global. Lembaga Wetlands International mengatakan, dari kekeringan lahan gambut saja, Indonesia menyumbangkan 632 miliar ton karbon dioksida per tahun.

Suwido dan timnya berupaya keras untuk melindungi hutan gambut ini dengan melibatkan komunitas sekitar.

Saya tiba di markas tim patroli, berupa rumah kayu di atas rawa-rawa. Anak-anak terlihat terjun ke air di sekitar kapal patroli.

“Ini kapal patroli digunakan tim patroli untuk perlindungan kawasan laboratorium alam hutan gambut di hutan Sebangau, untuk pengamanan kawasan dari kegiatan illegal logging, penebangan liar dan segala macam bentuk kejahatan hutan.�

Kris Yoyo yang berusia 26 tahun ini adalah bagian dari enam anggota tim patroli. Seluruh anggota tim patroli adalah warga setempat dari Kereng Bangkirai

�Trus juga menjelaskan kepada masyarakat di seputaran desa, untuk dampak buruknya kalau kita lakukan illegal logging, mungkin bisa terjadi bencana alam, banjir, air dalam atau tsunami atau seperti itu, atau hutan terbakar. Kita selalu jelaskan supaya masyarakat sedikit demi sedikit bisa tau bagusnya hutan kalau kita melestarikan hutan, termasuk satwa orang utan, gibon, burung dll. (jadi sekarang tim patroli sukses) ya, 90 persen sudah sukses untuk pengamanan kawasan laboratorium gambut, sukses sekali untuk illegal logging.�

Tapi, ada ancaman bahaya lain yang jauh lebih besar dan jauh lebih sulit untuk ditangani- api.

“Di sana tahun 2006 kemarin, mungkin liat hutan sedikit kering, kebakaran tahun kemarin. Lima hari lima malam tidur di situ sampai jam 4 pagi. Tidak terlalu banyak tidur, karena malam juga harus padamkan api.�

Tiap tahun tim patroli berubah menjadi petugas pemadam kebakaran, meskipun tanpa peralatan profesional. Kebakaran hutan yang terjadi tiap tahun memangsa hutan di daerah ini. Dan ini mengirimkan sekitar 1,400 juta ton karbon dioksida ke atmosfer.

Kami berkendara melewati proyek Mega Rice, salah satu proyek pertanian paling bermasalah di seluruh dunia. Satu-satunya yang dihasilkan area ini sekarang adalah asap beracun, seperti dijelaskan peneliti Sahara Alim.

“Setiap tahun khususnya daerah gambut, karena yang terbakar di daerah gambut, produk asapnya lebih banyak daripada yang terbakar di tanah mineral, karena kebakaran di tanah gambut lebih lama dan memakan bagian bawah. Asapnya sangat bahaya sekali. Kalau pembakaran di gambut tidak sempurna, produk asapnya sangat banyak sekali.�

Tindak kejahatan hutan yang paling sering terjadi saat ini adalah pembakaran hutan. Ada tanda-tanda di banyak tempat yang memperingati mereka yang tertangkap basah membakar lahan. Sanksinya adalah denda atau 15 tahun penjara. Namun bahkan di area konservasi masyarakat lokal ikut membakar lahan.

“Kalau pembakaran masih ada karena mereka merasa di pinggir jalan itu mereka punya lahan sendiri, untuk membersihkan lahan itu sendiri. Dia bakar, dia pergi, tidak kita tahu orangnya, kita tidak lihat. Kita lapor ke polisi, ya polisi datang lihat, kami tidak bisa tangkap karena kami tidak lihat. Kalau anda bisa bikin foto orang yang bakar, bisa kita tangkap itu orang.�

Jadi, ketimbang mengandalkan penegakan hukum, mereka mencari tahu sebab utama kebakaran hutan dan bekerja sama dengan warga setempat.

Hutan gambut yang sehat, yang tumbuh di tengah-tengah air, akan lebih sulit terbakar.

10 tahun lalu, Pusat Kerjasama Internasional dalam Manajemen Hutan Gambut atau CIMTROP memulai reforestasi beberapa blok dari proyek Mega Rice, mengubahnya menjadi hutan yang produktif untuk komunitas lokal.

Sambang, seorang guru setempat, memimpin tim penanaman kembali itu.

“Kita coba menerapkan konsep itu kembali sehingga masyarakat bisa memanfaatkan kayu ini untuk mereka. Kita tidak merusak ekosistemnya, tapi kita ’selective cutting’, kita pilih diameter yang besar.â€?

Dalam waktu hanya 10 tahun, daerah ini berubah menjadi hutan yang sangat mengesankan. Dari jalan raya, beberapa meter dari hutan, saya bisa melihat kadal berenang dan banyak jenis burung.

Di hutan baru ini, mereka menanami hutan dengan pohon-pohon yang bernilai ekonomis tinggi, seperti Balangeran dan Galam. Masyarakat diajak terlibat, lewat proyek membeli-pohon-hidup.

“Buy-a-living-tree ini kita beri satu KK itu misalnya 100 pohon, nanti mereka jaga, mereka bersihkan, rawat, nanti kita bayar 3 bulan sekali kompensasinya. Untuk jenis tahui, kita bayar per batang Rp 1500, untuk jerutung Rp 1500, untuk galam Rp 250 per batang. Itu manfaatnya besar bagi untuk mereka, untuk tambahan pendapatan keluarga. (berhenti apa gimana?) Karena mereka rawat lingkungan sekitar mereka, mereka tidak menggunakan pola bakar lahan lagi.�

Ibu Carmella memperlihatkan pohon-pohonnya kepada saya.

“Kita dikasih bibit, trus kita ikut mengelolanya. Itu memang membantu sekali kalau sudah kita gunakan nanti, kita hasilkan, dapat bantu kita juga. Dipasarkan lah, dijual.�

Seraya tertawa, Carmella mengatakan, mengapa harus berhenti membakar lahan atau membantu memadamkan api jika tak ada uang yang ditawarkan. Namun dengan program ini, tahun lalu tak ada satu pun kejadian kebakaran hutan di sana.

Kembali ke kantor CIMTROP, Kepala CIMTROP Suwido Limin berharap pemerintah Indonesia segera melakoni skema serupa dalam skala yang lebih besar, lewat perdagangan karbon.

“Negara-negara besar seperti Eropa, Amerika menghendaki ada kekuatan alam di daerah lain yang bis amenyerap karbon atau mempertahankan pelepasan yang maha dasyat dengan cara mengkonservasi hutan. Saatnya perlu direalisasi agar tidak terlambat. Sebab seperti Anda katakan lagi, masyarakat perlu makan dan sumbernya dari situ. Nah sekarang kita tinggal atur atau kendalikan gimana caranya membangun sumber pendapatan alternatif yang tidak merusak hutan, meskipun bisa dilakukan di dalam hutan. Seperti di Hutan Sebangau, itu hutan jelutung, banyak tumbuh yang diambil kulitnya untuk obat nyamuk, bisa dikembangkan sebagai komoditi yang bisa dikembangkan, dengan cara yang teratur atau disiplin sehingga hutan tetap lestari.�

Saat ini, CIMTROP tak menerima bantuan apa pun dari pemerintah. Lembaga ini bertahan lewat sokongan dana dari berbagai universitas asing dan badan donor.
Suwido harus menghabiskan berjam-jam menulis proposal untuk mencari uang. Tanpa bantuan, program mereka tak bakal bisa berjalan.

Leave a Reply

 


ON AIR THIS WEEK
 

Cyclone brings Burmese military to its knees: Now aid workers say at least 20,000 are dead and tens of thousands more injured. There are fears that the number will rise due cholera and other water-borne disease breaking out amongst the two million people made homeless by the cyclone.The Burmese military is under mounting pressure to allow UN aid workers unlimited access to deal with the disaster. However, as our correspondents report, they are resistant to receive outside help.

Cambodian school children drop out of school after the WFP stops providing rice: Global stocks of rice are at their lowest in two decades. As a result rice prices have more than doubled since the start of the year. The United Nations World Food Programme’s spokesperson, Paul Risley, says the “poorest of the poor” will go hungry because their agency can’t afford to buy rice. As of this month the United Nations World Food Programme has suspended free breakfasts to nearly half a million school children. Sorn Sarath from VOD went to visit one of the schools affected to see the impact.

Asia Calling : Your Window on Asia


 

RELATED POSTS