Para ‘Penampung Hujan Di Rajastan India’

July 18th, 2007 by Vinod K. Jose  Print This Post/Page
 

India_Water_2__web_.JPGDulu Rajastan Timur merupakan provinsi yang paling kering di India. Pertambangan marmer yang tersebar luas dan penebangan pohon yang tidak terkendali mengeringkan persediaan air.

Selain itu kali dan sungai mengering dan daerah pertanian hilang. Tapi pada tahun 1985 ada upaya untuk menghidupkan kembali daerah Alwar.

Upaya ini digagas oleh Rajendra Singh. Ia menemukan cara untuk menampung air hujan secara efisien. Kini di Alwar ada persedian air, dan warga setempat yang tadinya pindah ke kota, kembali lagi untuk bertani.

Vinod K. Jose melaporkan dari sejumlah desa di Alwar, ,yang menjadi contoh bagi daerah-daerah yang kekurangan air. Simak laporannya bersama Sutami.

Beberapa tahun belakangan, Desa Gopalpura tidak punya pasar mingguan seperti ini.

Selama beberapa dekade, daerah ini tandus.

Karena kemarau dan kelangkaan air, warga desa terpaksa pindah jauh ke kota-kota lain dan menjadi buruh.

Tapi kini suasana di distrik Alwar jadi hiup, karena upaya pengembalian air yang dijalankan Rajendra Sing sejak tahun 1985.

“Dulu seluruh daerah ini tandus. Tanahnya kering, tidak ada yang bertani. Para petani malah pindah ke kota karena kemarau. Tidak ada air minum, atau air untuk pertanian dan peternakan. Hanya ada orang tua saja dan para laki-laki pindah ke kota. Mereka terpaksa pindah ke sana.�

Awalnya, Rajendra Singh datang ke daerah tertinggal ini untuk membuka kelas membaca dan menulis.

Tapi warga desa malah tidak tertarik.

Kepala suku, Manku Meena mengatakan kepada Singh, warga di sini baru mau belajar kalau mereka punya air dan bisa hidup.

Manku bertanya pada Singh,’Apa Anda bisa mendatangkan air ke daerah ini?’

Jadi itulah yang ia lakukan melalui program dua langkah yang sederhana.

Pertama, dia membuat wadah penampung air hujan seperti bendungan dan tangki air di desa-desa. Lalu menanam kembali pohon-pohon di lereng bukit yang tandus.

Upaya itu berhasil dan akhirnya air tanah terisi kembali

Warga distrik Alwar kemudian meluaskan upaya ini ke desa-desa lainnya.

Mereka membangun lebih dari 8000 bendungan lumpur di lebih dari 900 desa. Selain itu, menyelamatkan 5 sungai yang mengering.

Raja Meena sudah tidak ingat lagi berapa umurnya. Tapi warga desa mengatakan usianya hampir berumur 100 tahun.

“Perubahan ini belum pernah terjadi sebelumnya. Sekarang sudah ada air dalam sumur-sumur yang sebelumnya kering. Sayuran sudah tumbuh lagi di kebun. Dan air tanah semakin banyak. Para laki-laki yang tadinya pindah ke kota sudah kembali lagi. Dampak dari perubahan itu, begitu banyak.�

Mereka bahkan berhasil menyelamatkan kolam kecil yang tidak terurus, yang kini dijadikan kolam renang umum.

Anand adalah petani yangn masih muda.

“Kami bangga sekali karena desa kami jadi hijau lagi. Kolam-kolam penuh dengan ikan. Ini tanda kemakmuran.�

Pengeras suara mengumumkan Dewan Air sedang rapat.

Anggotanya adalah warga desa.

Rapat kali ini diadakan untuk meresmikan hutan terdekat sebagai tempat perlindungan alam.

“Pohon-pohon sudah tumbuh sejak kami menanamnya 15 tahun lalu. Sekarang bukit-bukit yang tadinya gersang sudah jadi hutan. Penebang pohon memang masih terjadi. Jadi kami harus melindungi hutan. Kami menjadikan tempat ini sebagai tempat perlindungan dan kami akan meldinungi hutan ini selamanya.�

Mereka juga memutuskan untuk membentuk tentara rakyat untuk menghentikan penebangan pohon.

Karena mereka tidak percaya dengan pemerintah, jadi mereka memerlukan sebuah tim penjaga hutan.

Bagi mereka, perlindungan alam sangat erat dengan kelangsungan hidup.

Leave a Reply

 


ON AIR THIS WEEK
 

Cyclone brings Burmese military to its knees: Now aid workers say at least 20,000 are dead and tens of thousands more injured. There are fears that the number will rise due cholera and other water-borne disease breaking out amongst the two million people made homeless by the cyclone.The Burmese military is under mounting pressure to allow UN aid workers unlimited access to deal with the disaster. However, as our correspondents report, they are resistant to receive outside help.

Cambodian school children drop out of school after the WFP stops providing rice: Global stocks of rice are at their lowest in two decades. As a result rice prices have more than doubled since the start of the year. The United Nations World Food Programme’s spokesperson, Paul Risley, says the “poorest of the poor” will go hungry because their agency can’t afford to buy rice. As of this month the United Nations World Food Programme has suspended free breakfasts to nearly half a million school children. Sorn Sarath from VOD went to visit one of the schools affected to see the impact.

Asia Calling : Your Window on Asia


 

RELATED POSTS