Perubahan Iklim Melanda ‘Atap Dunia’

July 9th, 2007 by Elise Potaka  Print This Post/Page
 

China__web_.JPGCina kini menjadi negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, mengalahakan Amerika Serikat. Akibatnya, Cina akan mengalami banyak kerugian karena pemanasan global. Baru-baru ini sejumlah ilmuwan menemukan, suhu di dataran Qinghai-Tibet yang dikenal sebagai ‘atap dunia’ meningkat.

Beberapa studi mengungkap, suhu di tempat itu meningkat 0,2 derajat celcius selama 30 tahun terakhir. Meski peningkatan itu tidak banyak, dampaknya sudah terasa.

Lapisan es di daerah itu meleleh, padang gurung berkurang, dan seperti yang dilaporkan Elise Potaka, salah satu danau Cina yang besar menyusut. Simak laporannya bersama Citra Prastuti.

Dari tempat yang tinggi, Danau Qinghai nampak seperti lautan. Luasnya sekitar 5.000 km persegi dan merupakan danau air asin daratan yang terluas di Cina.

Tapi sejak tahun 1970-an, permukaan air Danau Qinghai menurun sebanyak 3 meter.

Salah satu daya tarik danau itu adalah Niao Dao atau Pulau Burung, dimana 160 spesies burung bertelur. Tapi menurut He Yubang, Wakil Direktur Pelestarian Alam Danau, tempat itu sudah bukan pulau lagi. Permukaan air menurun tajam sehingga Pulau Burung sekarang terhubung dengan daratan.

He Yubang mengatakan turunnya permukaan air menyebabkan pulau-pulau baru bermunculan. Dan pulau lainnya yang tadinya terpisah oleh air, kini menyatu membentuk pulau yang lebih besar.

Para pakar lingkungan bependapat selain karena bendungan kecil dan pertanian, berkurangnya volume air di dataran Qinghai-Tibet disebabkan pemanasan global.

Selama lebih dari sepuluh tahun, Dr. Li Diqiang telah melakuan penelitian konservasi di sekitar danau.

“Secara keseluruhan cuaca di sini sudah banyak berubah, dan semakin kering. Dalam penelitian saya, saya menemukan banyak rawa-rawa yang hilang, banyak habitat burung yang juga ikut kering, dan gurun pasir semakin meluas.�

Kami naik mobil mengelilingi bagian barat danau, terlihat beberapa bukit pasir. Bahkan di beberapa tempat, bukit itu sampai ke pinggir danau. Supir kami mengatakan, beberapa tahun lalu, waktu ia pertama kali ke sini, tidak ada bukit pasir.

Tapi buka Danau Qinghai saja yang menyusut. Jauh di atas dataran Qinghai-Tibet, gletser mencair dan mengecil. Tahun lalu Akademi Ilmu Pengetahuan Cina memperkirakan gletser terbesar di Cina mengecil sebanyak 7 persen per tahun.

Li Yan pemerhati energi dan iklim dari Greenpeace Cina mengatakan, perubahan di dataran tinggi juga mempengaruhi saluran air di bawah.

“Dataran beku di tempat itu juga mengecil dan akibatnya tingkat air di danau dan sungai berkurang dan bahkan ada yang sudah hilang beberapa dekade belakangan ini.�

Sementara danau dan sungai mengering, gurun pasir yang terbentuk menimbulkan masalah besar di dataran Qinghai-Tibet, bukan saja bagi satwanya, tapi penduduk setempat.

�Sebenarnya pembentukan gurun pasir terjadi di seluruh daerah ini. Dan sekarang padang rumput telah kehilangan kelembapannya dan tanahnya berubah menjadi gurun pasir. Padahal sebagian warga itu menggembalakan ternak sebagai mata pencariannya. Sebagian warga meninggalkan kampung halaman mereka dan pindah ke tempat lain. Jadi mereka itu jadi pengungsi karena perubahan iklim.�

Bulan lalu Cina mengeluarkan strategi perubahan cuaca nasional yang pertama. Dalam rangkumannya, pemerintah Cina mengatakan tingkat suhu rata-rata meningkat 0.5 per sen hingga 0.8 per sen selama 100 tahun terakhir. Selain itu, permukaan air pantai naik 2.5 milimter. Kedua angka ini memang berada sedikit di atas angka rata-rata global.

Pemerintah juga menagatakan, banjir dan kekeringan semakin parah dan kini ada yang menjadi pengungsi karena perubahan iklim.

Baru-baru ini sebuah laporan mengungkap Cina adalah penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, mengalahkan Amerika Serikat.

Dan Cina mengalami dampak negatif dari pemanasan global.

Baru-baru ini para ilumuwan menemukan suhu di dataran Qinghai-Tibet, yang dikenal sebagai ‘atap dunia’, semakin meningkat.

Sejumlah studi menunjukkan, suhu daerah itu meningkat sebanyak 0.2 derajat dalam 30 tahun terakhir. Meski angka itu tidak terlalu tinggi, namun efeknya sudah terasa.

Kembali ke Pulau Burung, di dalam tempat pengawasan, He Yu-bang mengatakan, pentinganya dearah perairan dan rawa di bagian ujung danau. Disinilah burung bertelur dan memberikan makanan pada anak-anaknya.

Kalau daerah ini terus menghilang, burung-burung harus mencari tempat tinggal yang baru.

Atau itu bisa saja menjadi korban perubahan iklim.

Leave a Reply

 


ON AIR THIS WEEK
 

Cyclone brings Burmese military to its knees: Now aid workers say at least 20,000 are dead and tens of thousands more injured. There are fears that the number will rise due cholera and other water-borne disease breaking out amongst the two million people made homeless by the cyclone.The Burmese military is under mounting pressure to allow UN aid workers unlimited access to deal with the disaster. However, as our correspondents report, they are resistant to receive outside help.

Cambodian school children drop out of school after the WFP stops providing rice: Global stocks of rice are at their lowest in two decades. As a result rice prices have more than doubled since the start of the year. The United Nations World Food Programme’s spokesperson, Paul Risley, says the “poorest of the poor” will go hungry because their agency can’t afford to buy rice. As of this month the United Nations World Food Programme has suspended free breakfasts to nearly half a million school children. Sorn Sarath from VOD went to visit one of the schools affected to see the impact.

Asia Calling : Your Window on Asia


 

RELATED POSTS