Indonesia Mengasapi Paru-Paru Dunia

July 9th, 2007 by Rebecca Henschke  Print This Post/Page
 

Indonesia_palm_oil__web_.JPGIndustri kelapa sawit yang berkembang pesat di Indonesia, turut mendorong pemanasan global, menjadikan negeri ini penyumbang emisi gas rumah kaca ketiga terbesar di dunia dunia.

Minyak kelapa sawit, dikombinasikan dengan diesel untuk menghasilkan bio-fuel, diusung sebagai calon penyelamat lingkungan.

Namun penelusuran lebih dekat menunjukkan  hal berbeda, penanaman besar-besaran kelapa sawit menyebabkan kerusakan hutan luar biasa. Rebecca Henschke berkelana melintas Kalimantan Tengah memotret kondisi di sana.

Pagi masih berkabut setelah semalaman hujan. Burung-burung dan monyet bergeliat di tengah hutan alami, dipenuhi pohon-pohon setinggi  lebih dari 3 meter.

Tak lama lagi hutan hujan dataran rendah di Katingan, Kalimantan Tengah ini akan habis, dijadikan berlajur-lajur pohon kelapa sawit.

Makin Grup, yang dimiliki perusahaan rokok raksasa Gudang Garam, berencana menghancurkan 40 ribu hektar hutan di sana. Begitu dijelaskan Kepala Kebun Basuki Suwarno.

“Kita tinggal menunggu instruksi dari Jakarta, kapan bukanya, kita akan melakukan land clearing, tahap demi tahap sesuai dengan program yang diinstruksikan dari Jakarta.�

Dalam tur keliling lokasi, mereka bercerita bahwa 80 hektar hutan telah dikosongkan.

Hutan ini adalah rumah bagi lebih dari seribu orangutan, kata Nandang Hermawan Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Kalimantan Tengah.

“Kawasan tersebut masih hitungan hutan belantara, masih virgin gitu. Saya merasa sayang kita kalau buka sekian puluh ribu hutan untuk cuma dijadikan perkebunan sawit, mono-komoditi, saya sangat tidak setuju. Saya sangat tidak setuju. Seandainya harus jadi hutan, butuh berapa puluh tahun untuk jadi hutan. Mungkin tidak akan pernah lagi bisa jadi hutan seperti itu kalau sudah dibuka jadi perkebunan sawit.�

Hardi Baktiantoro, Direktur Pusat Perlindungan Orangutan (COP) mengatakan, dalam pertemuan bulan Mei lalu, ia telah mengingatkan Makin Grup akan kerusakan lingkungan yang terjadi.

“Sepertinya Makin Group tidak peduli. Saya ketemu dengan Yosef Ilham, dia manager lingkungan. Kata dia, Makin Grup akan tetap maju, tapi mereka tengah melakukan riset, bagaimana supaya orangutan tidak terluka atau terbunuh. Bagi saya itu aneh saja dan itu sangat tidak mungkin. Orangutan butuh pohon, kalau pohonnya ditebang, orangutannya mau dipindah ke mana? Kebun binatang? Itu tidak masuk akal. Solusinya adalah stop membuka hutan di kawasan itu.�

Indonesia segera membuka jutaan hektar hutan, kebanyakan lahan gambut, untuk membuat kebun kelapa sawit di Kalimantan dan Papua.

Namun keberadaannya berbalik dan justru berubah menjadi ancaman besar terhadap lingkungan.

Industri kelapa sawit Indonesia bersikeras, perkebunan mereka dibuka di atas tanah yang sudah dibuka atau tanah yang sudah tak begitu subur. Tapi di lapangan, ceritanya sungguh berbeda.

Saya berdiri di atas kebun kelapa sawit yang sangat luas, sudah dua tahun berdiri. Sejauh mata memandang hanya terlihat deretan pohon kelapa sawit. Saya di sini bersama Nordin, Koordinator LSM lokal, Save Our Borneo.

“Sebagian bekas terbakar dan diameternya masih cukup) ketika kita liat kayu bergelimpangan, ini menunjukkan bahwa sebelumnya ini hutan. Dan ini baru dua tahun lalu dibuka.�

Setiap kali hutan gambut dikosongkan dan dibakar, terkirim sejumlah besar gas karbon dioksida ke atmosfere seperti yang dijelaskan oleh Laura Green dari pusat penelitian Pusat Kerjasama Internasional dalam Pengelolaan Lahan Gambut Tropis (CINTROP) di Universitas Palangkaraya.

�Lahan gambut sangat penting  apalagi kalau kita membicarakan perubahan iklim.Karena bisa menyerap karbon dioksida dalam daun dan kulit kayu. Selain itu gambut di bawah pohon menyimpan karbon dioksida. Seperti spons raksasa yang menghentikan karbon dioksida keluar ke atmosfer dan menyebabkan perubahan iklim.�

Setiap tahun, kebakaran hutan yang begitu luas dari wilayah ini mengasapi sebagian besar Asia Tenggara.

Pembukaan dan pembakaran lahan gambut menempatkan Indonesia sebagai penghasil gas rumah kaca terbesar nomor tiga di seluruh dunia.

Seperti dikatakan Norman dari Sawit Watch.

“Hasil penelitian Wetland Internasional yang menurut saya bukan temuan baru, menyebutkan 27 persen areal kebun kelapa sawit di Indonesia dulunya adalah lahan basah. Yang mengakibatkan dalam 10 dekade, hitungan mereka, menghasilkan 5 kali lipat emisi gas rumah kaca lebih besar dari kebakaran hutan dan lahan tahun 97-98 yang menghabiskan 10 jtua hektar hutan dan lahan terbakar. Artinya dari 27 persen itu dampak lingkungannya sudah luar biasa.�

Pohon kelapa membutuhkan antara 12 hingga 24 liter air per hari. Norman mengatakan, tanah di situ akan cepat kering, sehingga jauh lebih mudah terbakar.

Berhadapan dengan kritikan pedas terhadap industri minyak kelapa sawit mendorong terbentuknya Forum Rembug Kelapa Sawit Internasional, (RSPO) dengan
perusahaan-perusahaan Malaysia.

Di perkebunan yang sudah ada milik Makin Grup di Kecamatan Parengean, Kepala Kebun Sitepu mengatakan, mereka mendengarkan kritik yang masuk, sekaligus berupaya memperbaiki diri.

“(Kami) telah melakukan beberapa langkah-langkah. Yang pertama adalah membuka lahan dengan ‘gelo burning’. Yang kedua adalah pengelolaan lingkungan yang berbasis kepada pekerjaan agronomi. Dimana kami  berkomitmen untuk meminimalkan dampak-dampak lingkungan yang bisa mencemarkan linkungan, udara, air dan tanah.“

Saat tur ke perkebunan, ia menunjukkan kalau lahan telah ditanami dengan pohon dan tanaman merambat diantara pohon-pohon kelapa sawit, untuk mencegah erosi dan menahan air.

Tapi Norman mengatakan, Forum Rembug Kelapa Sawit Internasional, RSPO sebagai humas saja.

“Jadi kalau kita bicara bio-fuel dari minyak sawit, kita harus hentikan dulu dampak2nya, daripada further expanding, memperluas ekspansi lahan. Persoalannya, kita harus memitigasi dan mencegah kerusakan lebih lanjut. Karena hasil penelitian EU dan Departemen Kehutanan merekomendasikan 4,1 juta hektar lahan basah atau lahan gambut di Sumatera cocok untuk perkebunan kelapa sawit. Tapi pengeringan lahan gambut akan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih besar daripada kebakaran hutan dan lahan.�

Leave a Reply

 


ON AIR THIS WEEK
 

Cyclone brings Burmese military to its knees: Now aid workers say at least 20,000 are dead and tens of thousands more injured. There are fears that the number will rise due cholera and other water-borne disease breaking out amongst the two million people made homeless by the cyclone.The Burmese military is under mounting pressure to allow UN aid workers unlimited access to deal with the disaster. However, as our correspondents report, they are resistant to receive outside help.

Cambodian school children drop out of school after the WFP stops providing rice: Global stocks of rice are at their lowest in two decades. As a result rice prices have more than doubled since the start of the year. The United Nations World Food Programme’s spokesperson, Paul Risley, says the “poorest of the poor” will go hungry because their agency can’t afford to buy rice. As of this month the United Nations World Food Programme has suspended free breakfasts to nearly half a million school children. Sorn Sarath from VOD went to visit one of the schools affected to see the impact.

Asia Calling : Your Window on Asia


 

RELATED POSTS