Musim Kemarau Panjang Sulitkan Petani Kamboja

July 9th, 2007 by Khortieth Him  Print This Post/Page
 

Cambodia farmers (web)_1.JPGPemerintah Kamboja memperingatkan pemanasan global menjadi ancaman besar terhadap perekonomian negara itu.

Sekitar 80 persen penduduk di Kamboja adalah petani dan sangat tergantung kepada musim hujan.

Seperti yang dilaporkan Khortieth Him, para petani mulai merasakan dampak dari musim kemarau yang kini lebih panjang. Laporannya disampaikan Wildan Hakim.

Setiap pagi, waktu matahari mulai terbit, para petani dengan mengenakan syal warna-warni, muncul satu satu persatu, di sawah.

Menghidupkan suasana yang tadinya sepi.
Kegiatan mereka berjalan terus, tidak terganggu dengan  perang ataupun krisis ekonomi.

Tapi kini,  hal yang aneh sedang terjadi. Jea Kim Seng baru selesai membajak sawahnya.

“Musim kemarau begitu lama dan suhunya panas sekali. Akibatnya biji-biji mati dan waktu hujan turun, terjadi banjir. Tahun lalu,  juga terjadi kekeringan. Sekarang saya mengalami banyak kesulitan.�

Masih banyak petani yang menanam padi maupun memanen,  berdasarkan perhitungan bintang atau saat hujan mulai turun.

Tapi, Om Chuern seorang petani  mengatakan musim hujan sudah tidak teratur lagi dan hari-hari terasa semakin panas.

Para ilmuwanpun  belum sepakat   kalau hal ini akibat perubahan iklim.

Tapi  perdebatan mereka  tidak ada pengaruhnya bagi para warga yang merasakan perbuahan iklim itu.

Bagi Kong Phal, petani di provinsi Kandal, pekerjaannya lebih sulit.

�Suhu udara disini meningkat tajam dari tahun ke tahun dan musim hujan sudah tidak teratur lagi.�

Menteri Lingkungan Hidup, Mok Mareth yakin, masalah para petani itu, disebabkan oleh pemanasan global dan penebangan liar.

“Sebagian warga Kamboja tergantung kepada pertanian dan sumber daya alam. Dan  saat ini kedua sektor itu terancam. Karena semakin banyak orang yang menggunakan sumber daya  secara berlebihan. Dan  penebangan liar di beberapa daerah pegunungan semakin  meningkat.�

Bukan petani saja yang merasakan  dampak pemanasan gobal.

Srey Nar yang berusia 32 tahun adalah pedagang pakaian di sebuah pasar di ibukota, Phnom Penh.

“Di sini panas sekali, kami tidak tahan.  Ini bikin kami sakit  dan sering sakit kepala dan demam. Sekarang musim hujan tapi cuacanya terlalu panas. Tanpa kipas angin atau AC kami akan mati.  Saya tidak tahu kenapa, tapi mungkin saja karena perubahan iklim.�

Nop Polin, dari LSM Lingkungan Geres mengatakan,sementara bencana alam sering terjadi, penyakitpun semakin banyak.

“Menurut laporan menteri lingkungan hidup, banjir dan kemarau lebih sering terjadi karena perubahan iklim. Selain itu ada semakin banyak penyakit seperti malaria dan demam.�

Menurutnya, penebangan liar harus dihentikan dan pemerintah harus membantu para petani untuk membuat sistem irigasi yang lebih baik.

Leave a Reply

 


ON AIR THIS WEEK
 

Cyclone brings Burmese military to its knees: Now aid workers say at least 20,000 are dead and tens of thousands more injured. There are fears that the number will rise due cholera and other water-borne disease breaking out amongst the two million people made homeless by the cyclone.The Burmese military is under mounting pressure to allow UN aid workers unlimited access to deal with the disaster. However, as our correspondents report, they are resistant to receive outside help.

Cambodian school children drop out of school after the WFP stops providing rice: Global stocks of rice are at their lowest in two decades. As a result rice prices have more than doubled since the start of the year. The United Nations World Food Programme’s spokesperson, Paul Risley, says the “poorest of the poor” will go hungry because their agency can’t afford to buy rice. As of this month the United Nations World Food Programme has suspended free breakfasts to nearly half a million school children. Sorn Sarath from VOD went to visit one of the schools affected to see the impact.

Asia Calling : Your Window on Asia


 

RELATED POSTS