Kerusakan Terumbu Karang Ancam Mata Pencarian Komunitas Nelayan di Filipina
July 7th, 2007 by Ariel Carlos
Perubahan iklim merusak terumbu karang di perairan, yang sebelumnya menjadi tempat penyelaman dan pemancingan ramai. Kini terumbu karang rusak karena mengalami pemutihan.
Dan hal ini membuat jutaan orang terancam kehilangan pekerjaan.
Ariel Carlos ikut bersama sejumlah nelayan di Palawan, Filipina Barat untuk melihat seberapa besar kerusakan itu. Laporannya disampaikan Arin Swandari.
Inilah suara mesin perahu motor yang sangat keras. Saking kerasnya kami tidak bisa bicara.
Tapi bagi warga desa kecil di Palawan Filipina Barat, suara ini bagaikan musik. yang mengawali kegiatan mereka memancing.
Air begitu tenang; angin berhembus sepoi-sepoi.
Ramon Abrina menjatuhkan jangkarnya ke dalam wilayah terumbu karang.
Kulitnya terbakar sinar matahari dan tangannya kasar. Nampaknya, dia sudah melaut bertahun-tahun.
Sementara ia menjaga pancingnya yang terbuat dari bahan nilon, dia bercerita, sedang mengalami masa yang sulit.
“Pada tahun-tahun sebelumnya kami bisa dapat banyak ikan. Waktu itu terumbu karang belum rusak.�
Tidak ada ikan yang makan umpan. Selama lebih dari 15 menit kami duduk dan menunggu.
Ramon mengatakan, sudah banyak nelayan yang memancing di perairan ini.
Tapi di bawah kapalnya, masih ada sisa -sisa pemutihan terumbu karang.
Ramon tidak sadar kalau terumbu karang semakin rusak. Dan kerusakan ini berkaitan dengan suhu air laut yang semakin meningkat, akibat perubahan iklim.
Kembali ke tepi pantai. Angelique Songco, ahli selam dan direktur Tubbataha Reef, taman air terbesar di Filipina, mengatakan kepada saya, dampak pemanasan global sangat terasa di Palawan.
“Waktu tahun 1998 ada satu kejadian di Tubbataha, insiden pemutihan terumbu karang pertama yang menyebarluas di dunia. Akibatnya, 21 persen dari seluruh terumbu karang kami rusak. Tapi kami masih untung, karena ada beberapa wilayah di Samudera Hindia dan Pasifik yang kerusakannya sampai 100 persen. Apa Anda bisa bayangkan kalau semua terumbu karang hilang?�
Direktur WWF Filipina Lori Tan mengatakan, pemutihan terumbu karang terjadi akibat peningkatan suhu air laut.
“Suhu yang semakin tinggi dan perubahan El Nino dan La Nina disebabkan pemanasan global. Bisa jadi nantinya akan semakin singkat atau semakin lama. Sementara itu pemutihan terumbu karang bisa saja semakin sering terjadi dan meluas.�
Dia menambahkan, hal itu akan sangat berdampak terhadap industri perikanan dunia.
“Kegitan memancing sangat tergantung pada cuaca. Cuaca mempengaruhi navigasi, bisa atau tidaknya kita memancing di suatu tempat, perpindahan spesis hewan laut, pola pembibitan dan bertelur ikan, produktivitas tempat-tempat perikanan, hutan bakau, dan suhu air laut. Semua itu mempengaruhi seluruh komponen ekosistem laut. Jadi perubahan pola cuaca mengubah lokasi dan waktu pemancingan maupun jumlah ikan yang bisa ditangkap.�
Tan menambahkan pulau-pulau kecil yang akan kena dampak paling parah.
“Ekosistem pulau kecil tidak seperti daratan yang luas, tidak ada sungai besar. Dan perkonomian Palawan sangat tergantung pada ekologinya.
Cleofe Bernardino, pimpinan salah satu NGO, sangat prihatin dengan masa depan komunitas nelayan miskin.
“Kalau itu terjadi, berarti kehidupan di Palawan akan berakhir. Seperti pepatah Filipina, kalau orang paling miskin saja tidak bisa makan ikan, itu tandanya, kami tidak punya sumber daya alam lagi.�
Tapi para pakar lingkungan Filipina tetap optimistis.
Ahli selam, Angelique Songco, mengatakan salah satu cara untuk melawan dampak perubahan iklim, adalah dengan memonitor terumbu karang
“Kami berupaya keras untuk menjaga daerah ini supaya bisa bertahan meski banyak perubahan alam yang terjadi. Terumbu karang seperti tubuh manusia. Kalau sistem kekebalan sudah lemah, tentunya mudah sekali diserang penyakit. Tapi kalau sistemnya kuat, tidak akan terlalu banyak mempengaruhi tubuh ketimbang tubuh dengan sistem kekebalan yang lemah.�
Direktur Nasional WWF, Lory Tan mengatakan harus ada tindakan pada tingkat lokal maupun global untuk memerangi perubahan iklim.
“Kita bisa berupaya mengurangi penggunaan energi di rumah, penggunaan transportasi seperti mobil ataupun bis, mengubah gaya hidup kita. Semua hal ini yang mempengaruhi kehidupan Anda dan saya, akan menjadi tanggungjawab bersama. Di sisi lain kami sebagai satu organisasi berharap, bisa mempengaruhi kebijakan negeri ini dan mendesak pembuatan rancangan undang-undang pembaruan energi.”
Sementara itu pada tingkat akar rumput, Grizelda Ande, bekerjasama dengan para nelayan. Mereka berupaya untuk menyelamatkan dan memperbarui terumbu karang.
“Kami berkerjasama dengan masyarakat untuk membuat penampungan air dan tempat perlindungan hewan laut karena rumput laut bisa menyerap karbon dioksida. Penyerap karbon seperti pohon dan rumput laut sangat penting. Kami mencoba membuat daerah-daerah yang terlindung, memobilisasi komunitas untuk menlindungi bakau.�
Kembali ke kapal nelayan, Isagani De Leon akhirnya berhasil menangkap ikan.
Tangkapannya sama saja seperti kemarin. Hanya cukup untuk makanan keluarganya yang berjumlah 5 orang.
Sementara saya berdiri di tengah kapal Isagani, sinar matahari yang terik mulai membakar kulit kami.
Sekarang waktunya bagi para nelayan lainnya untuk menjual hasil tangakapannya kepada para pelanggan yang menunggu di dermaga.
Mereka tidak menyadari bagaimana pemanasan global akan mempengaruhi kehidupan mereka.

Leave a Reply