Angkhana Berjuang Untuk Keadilan

June 27th, 2007 by Nita Roshita  Print This Post/Page
 

Angkhana with the victim of Ban Kampong incident (web)_1.JPGDi Asia ada sejumlah perempuan yang dikenal sebagai janda hak azasi manusia. Di Thailand Selatan ada Angkhana Nelapaijit.

Dia adalah isteri dari Somchai yaitu pengacara hak azasi manusia. Somchai terakhir kali terlihat di sebuah hotel di Bangkok pada bulan Maret tahun 2004. Sejumlah kelompok hak asasi manusia khawati rdia dibunuh karena kritiknya terhadap tindakan para polisi di Thailand Selatan, dimana konflik terus terjadi.

Sementara Angkhana berjuang supaya kasus ini diselesaikan, ia mendapatkan ancaman mati. Namun disisi lain, menjadi simbol perjuangan hak azasi manusia di Thailand Selatan.

Nita Roshita bertemu dengan perempuan yang inspiratif ini.

Angkhana, yang memakai kerudung putih duduk dan memandang polisi Thailand di depan dia.Dia mengatakan, saya datang ke sini mencari tahu informasi soal Ban Kapong. Kami sudah capek menunggu.

Pada tanggal 9 April, para penduduk desa tersebut mengklaim, sebuah unit militer lokal menyerang mereka, menewaskan 5 orang dan melukai 8 orang lainnya.

Angkhana bersama organisasi barunya, Working Group on Justice for Peace, bersama pengacara mencoba mebawa kasus ini ke pengadilan.

“Tidak ada yang akan melindungi kami, jadi para korban harus belajar menuntut keadilan dan perlindungan. Mereka harus berjuang untuk mendapatkan keadilan, dan kasih pelajaran buat pemerintah.�

Dia mengatakan kepada saya, masalahnya, sebagian besar warga desa terlalu takut untuk menjadi saksi. Semenatra itu polisi mengatakan tanpa mereka tidak ada bukti.

Angkhana meneruskan apa yang dimulai oleh SOmchai, berjuang untuk mendapatkan keadilan bagi para korban hak azasi manusia.

“Keadilan menyangkut tanggungjawab. Pemerintah harus bertanggungjawab tidak hanya kepada korban tetapi juga kepada keluarganya, dan masyakarat. Mereka harus menjamin bahwa hal semacam ini tidak akan terulang kembali. Itulah keadilan.

Sementara dia memperjuangkan hak orang lain, ia masih mencari suaminya yang hilang.Yang jelas, Sampai saat ini baru ketahuan Somchai diculik oleh petugas pemerintah.

Pada tahun 2005, seorang mayor polisi dihukum karena mendorong paksa Somchai ke dalam mobil di Bangkok. Tapi 4 tersangka lainnya, dibebaskan karena kurang bukti yang jelas.

“Kasus Somchai sebenarnya kasus pertama dalam sejarah Thailand, dimana pengadilan menyatakan, dia diculik oleh pihak berwajib. Jadi bisa dibilang ini kisah sukses. Ini bisa terjadi karena tekanan internasional. Tapi sebenarnya yang saya inginkan dan perjuangkan adalah supaya saya bisa menemukan suami saya.�

Dalam proses memperjuangkan kasus suaminya, ia menjadi simbol perjuangan hak-hak komunitas Islam di Thailand Selatan. Dan kini ia menjadi bagian dari Peyusuan Rangacangan Konstitusi (CDA).

Sementara saya duduk dan berbincang dengan Angkhana di sebuah hotel,kekerasan di luar terus berlanjut.

Pengeboman, pemancungan kepala, serangan terhadap guru dan pembakaran sekolah sering terjadi di sini setiap hari. Sekitar 103 orang dibunuh bulan lalu, sehingga menjadi bulan yang paling berdarah sampai saat ini.

Lebih dari 2300 orang terbunuh sejak bulan Januari 2004 waktu kekerasan separatis memanas.

“Hukum harus ditegakkan supaya kekerasan di Thailand Selatan berakhir. Pemerintah harus menghentikan semua pelanggaran hak asasi manusia dan membuat wilayah ini aman bagi warga biasa. Semua orang di Thailand Selatan harus diperlakukan sama di hadapan hukum.�

Waktu pemerintah militer mengambil alih kekuasaan tahun lalu melalui kudeta, mereka berjanji membuat Thailand Selatan damai.

Pemerintah militer meminta maaf atas kekerasan terjadi sebelumnya dan berkomitmen untuk melakukan rekonsiliasi.

Tapi kekerasan malah meningkat. Angkhana menuturkan, pemerintah baru mengatakan hal-hal yang baik tepat tapi nayatanya, hanya ada sedkit perubahan.

“Menurut saya orang Islam di Thailand Selatan belum percaya pada pemerintahan baru. Apa yang diinginkan semua orang adalah keadilan tetapi pemerintah belum sanggup memberikan itu. Kami senang mereka sudah meminta maaf dan membawa rekonsiliasi polisi dan menarik beberapa pasukan militernya tetapi keadilan belum terjadi untuk kekerasan di masa lalu.�

Dia masih mendapatkan ancaman pembunuhan dan mengalami intimidasi. Angkhana hidup dalam ketakutan, sementara dia harus berperan ganda sebagai ibu dan seorang aktivis.

Sambil minum teh dan makan roti,dia menceritakan prestasi kelima putrinya. Mereka adalah calon hakim, wartawan dan akademisi.

“Ini menunjukkan anda bisa menjadi ibu yang baik dan aktivis sekaligus. Anak-anak dan ayah saya selalu mendorong saya. Tapi saudara-saudara saya yang lain mengabaikan dan menjauh dari saya, karena takut terjadi sesuatu sama mereka kalau terlalu dekat dengan saya.�

Tapi sambil bercanda ia mengatakan, tidak masalah karena sekarang dia punya keluarga yang besar, yaitu masyarakat Thailand.

Leave a Reply

 


ON AIR THIS WEEK
 

Cyclone brings Burmese military to its knees: Now aid workers say at least 20,000 are dead and tens of thousands more injured. There are fears that the number will rise due cholera and other water-borne disease breaking out amongst the two million people made homeless by the cyclone.The Burmese military is under mounting pressure to allow UN aid workers unlimited access to deal with the disaster. However, as our correspondents report, they are resistant to receive outside help.

Cambodian school children drop out of school after the WFP stops providing rice: Global stocks of rice are at their lowest in two decades. As a result rice prices have more than doubled since the start of the year. The United Nations World Food Programme’s spokesperson, Paul Risley, says the “poorest of the poor” will go hungry because their agency can’t afford to buy rice. As of this month the United Nations World Food Programme has suspended free breakfasts to nearly half a million school children. Sorn Sarath from VOD went to visit one of the schools affected to see the impact.

Asia Calling : Your Window on Asia


 

RELATED POSTS