MALAYSIA: Anak Perempuan Mahathir, Sang Aktivis
May 21st, 2007 by Vanitha Nadaraj
Warga Malaysia sebelumnya mengenal Marina Mahatir, sebagai anak perempuan bekas Perdana Menteri Mahatir Mohamad. Tapi kini, ia adalah aktivis HIV/AIDS yang paling terkenal di negara itu.
Selain menjadi aktivis, Marina adalah kolumnis salah satu surat kabar di negara itu. Dalam tulisannya ia berbicara mengenai hak-hak perempuan.
Ketika pemerintah Malaysia menindak keras para blogger, karena dianggap terlalu bebas berbicara, iapun ikut memperjuangkan kekebasan berbicara online.
Vanitha Nadaraj mencari tahu, siapa sebenarnya Marina Mahatir. Laporannya akan disampaikan Sutami.
Program TV ‘3R’ memasuki musim tayangnya yang ke-12. Program ini paling lama disiarkan di Malaysia.
Ini hal yang luarbiasa bagi negara itu. Karena acaranya mengenai dua hal yang paling sensitif untuk dipberbincangkan yaitu: seks dan hak-hak perempuan.
Salah satu produser eksekutif acara tersebut adalah Marina Mahatir. Acara ini merupakan bagian kampanyenya untuk meningkatkan kesadaran anak muda mengenai HIV/AIDS.
“Waktu saya pertama kali membuat acara ini, hanya sebagian orang saja yang ingin berbicara soal HIV, karena banyak yang salah kaprah. Sehingga menurut mereka, ‘mengapa kita harus membantu orang dengan HIV/AIDS?’ Tapi selama beberapa tahun ini kami berupaya supaya penyakit tersebut menjadi isu publik. Dan sekarang lebih banyak orang yang mau membicarakannya. Tapi tentunya ada yang membicarakannya dengan cara yang kurang baik Jadi isu ini tidak diabaikan lagi. Sudah banyak orang yang membicarakannya dan ini bagus.�
Marina mengemukakan isu HIV/AIDS secara publik, ketika ayahnya masih berkuasa di negara itu.
Alhasil pemerintah mengalokasikan dana untuk berbagai program yang meningkatkan kesadaran masyararakat mengenai virus itu. Selain pemerintah, beberapa perusahaan pun memberikan sumbangannya. Bahkan berbagai sekolah mengadakan diskusi umum mengenai virus itu.
Kini Marina menbajat ketua Yayasan AIDS Malayasia. Ia mengatakan, pekerjaannya belum selesai.
“Saya sudah ikut rapat pemerintah. Waktu itu salah satu wakil menteri mengatakan ‘masalah AIDS sama saja dengan masalah narkotika. Karena pada akhirnya orang yang kecanduan atau terinfeksi penyakit itu meninggal dunia’. Wakli menteri saja bisa mengatakan seperti itu, bagaimana dengan warga lainnya? Berarti perjuagnan kami masih panjang. Mereka pun tidak melihat isu ini sebagai kontradikisi. Di sisi lain mereka menentang perang Irak tapi mereka tidak peduli dengan rakyat mereka sendiri yang meninggal dunia. Padahal kematian mereka bisa dicegah. Menurut saya salah satu tugas saya adalah menenkankan kontradiksi ini.�
Marina, sangat kritis dengan berbagai kontradiksi dalam masyarakat Malaysia.
Ibu yang berusia 49 tahun ini, juga berprofesi sebagai kolumnis surat kabar berbahasa Inggris, “The Star�. Tulisannya menantang pemikiran Islam konservatif maupun pemikiran kuno. Selebihnya dia banyak bicara soal isu hak azasi manusia
“Saya pernah menulis soal hak-hak perempuan, dan hak-hak perempuan Islam. Bahwa perempuan Islam tidak punyah hak yang sama seperti perempuan non-Islam dan ini sangat buruk, seperti apartheid. Banyak pihak yang mengatakan saya tidak berhak berbicara seperti itu. Karena menurut mereka ini membuat saya menjadi orang Islam yang tidak baik. Memang ini menyakitkan. Saya selalu mencoba melakukan yang terbaik tanpa menyakiti orang lain. Anehnya saya disebut orang Islam yang tidak baik. Karena saya memerjuangkan keadilan, dan menyerukan supaya memperlakukan orang lain yang tidak punya apa-apa dengan lebih manusiawi.�
Sebagai seorang aktivis, Marina tidak selalu mendapatkan kritik keras. Beberapa kali ia kerap meraih berbagai prestasi. Marina menceritakan salah satu pengalamannya itu.
“Tahun 1999 kami menjadi tuan rumah Kongres AIDS se-Asia Pasifik yang ke-5. Ini hal yang luar biasa bagi saya karena Malaysia sebagai negara Islam, berhasil menggelar konfrensi mengenai AIDS. Dan pertemuan ini dianggap seabgai konfrensi yang paling sukses. Bahkan menghasilkan beberapa keputusan politik. Setelah konfrensi ini para pemimpin negara-negara ASEAN bertemu untuk membahas isu HIV/AIDS. Hal-hal yang nyata seperti inilah yang membuat saya bangga.�
Marina menuturkan, orang tuanya punya peran penting dalam pencapaian prestasinya.
“Orang tua saya luar biasa. Mereka menanamkan nilai-nilai yang baik kepada kami. Padahal waktu itu kami tidak sadar kalau nantinya kami akan menerapaknnya seperti sekarang ini. Salah satunya, adalah kami harus mendapatkan pendidikan. Jadi pendidikan itu penting sekali. Yang kedua, kami harus berguna bagi masyarakat. Orang tua saya sering menjadi sukarelawan untuk berbagai asosiasi. Ibu saya ikut kampanye Keluarga Berencana sedangkan ayah saya pernah ikut kampanye anti TBC.�
Ia bersikeras, ayahnya yang kontroversial, tidak pernah ikut campur dalam pekerjaannya.
Ayah saya terlau sibuk mengurus negara ini. Jadi ia tidak dipusingkan dengan hal-hal kecil seperti ini. Ia tidak pernah mengatakan apa yang boleh ataupun yang tidak boleh kami lakukan. Ia tidak pernah memaksa saya melakukan suatu hal.

Leave a Reply