KAMBOJA: Mu Sochua, Pemimpin Wanita

May 21st, 2007 by Seang Soleak  Print This Post/Page
 

Mu_Sochour_Cambodia__web_.JPGDitempat kerja atau diirumah, para perempuan Kamboja seringkali mengalami diskriminasi. Mereka tidak mendapatkan pendidikan dan kesempatan yang sama seperti para kaum pria. Malahan, menjadi korban perdagangan manusia dan kekerasan dalam rumah tangga.

Mu Sochua perempuan asal Kamboja, menghabiskan sebagian besar hidupnya memperjuangkan hak azasi perempuan. Tidak cuma merevolusikan peran perempuan di negara itu, ia juga mengupayakan pembebasan para perempuan dari berbagai penderitaan. Upayanya ini menarik perhatian internasional. Ia bahkan sempat dicalonkan sebagai penerima penghargaan perdamaian Nobel pada tahun 2005.

Seang Seolak berbicara dengan Mu Sochua. Laporannya akan disampaikan oleh Roni Sitanggang.

“Saya memobilisasi para perempuan supaya saling bekerjasama. Jaringan global perempuan mendapatkan dukungan yang begitu banyak dari komunitas internasional. Kami berupaya membantu para perempuan dan masyarakat supaya bebas dari kemiskinan.”
Mu Sochua, meninggalkan Birma ketika negara itu dilanda perang sipil. Ia ke Perancis dan di sana ia mendapatkan pendidikan. Setelah itu dia pindah ke California sebagai pengungsi.

Ia bisa saja menikmati hidup yang lebih nyaman dibandingkan dengan negara asalnya. Tapi, setelah lulus dari salah satu universitas ternama di Amerika Serikat yaitu, Universitas Berkeley, ia kembali ke negara asalnya.

“Walaupun saya tinggal di Amerika Serikat, saya tidak pernah merasa nyamn di sana. Saya selalu bermimpi untuk kembali lagi ke Kamboja untuk membangun negara ini. Hati saya selalu bersama para perempuan Kamboja. Saya melihat mereka diperdagangkan dalam industri seks, didiskriminasi, dan terinfeksi HIV/AIDS. Mereka hidup dalam kondisi yang memprihatinkan�

Pada tahun 1989, Mu Sochua kembali ke Kamboja dan mendirikan organisasi perempuan Kamera. Organiasai ini merupakan LSM pertama, yang didirikan di Kamboja, setelah perang sipil di negara itu, berakhir. Setelah itu, ia membuat program Neary Ratanak atau ‘Perempuan : Permata Berharga’.

“Neary Ratanak adalah program nasional yang mempromosikan kesetaraan gender. Kami berupaya untuk merubah peribahasa Kamboja yang menyebutkan “Pria adalah emas sedangkan perempuan adalah kain putih. Setelah kain itu dinodai, maka akan ternoda untuk selamanya� Jadi kami merubah peribahasa itu menjadi “Pria adalah emas. Perempuan adalah permata berharga.�

Mu Sochua menikah dengan laki-laki Amerika dan memiliki tiga anak perempuan.�

Pada tahun 1998, ia menjadi salah satu calon wakil rakyat dan memenangkan satu kursi untuk provinsi Battambang. Setelah ia masuk dalam perpolitikan nasional, ia menjadi menteri.

Mu Sochua terlibat dalam berbagai kegiatan untuk memperkuat hak azasi manusia dan mencegah perdagangan manusia. Selain itu ia pernah mengikuti sejumlah kampanye untuk menghentikan kekerasan dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai HIV/AIDS.

“Waktu saya masih menjadi Menteri Urusan Wanita, saya punya kekuasaan. Saat itu saya berpikir, bagaimana saya bisa menghentikan ketidakadilan sosial ini. Salah satu jalan keluarnya adalah mendidik dan memberdayakan para perempuan.�

Selama masa pemerintahannya, Mu Sochua menghabiskan banyak waktu di luar kantor. Ia melakukanannya untuk merasakan keadaan nyata yang dihadapi para perempuan negara itu. Dan iapun membantu para korban perdagangan perempuan.

Karena kegiatannya ini, ia mendapatkan penghargaan anti perdagangan manusia dan hak azasi manusia Vital Voices.

“Saya sudah bernegoiasai dengan Thailand. Supaya para perempuan Kamboja korban perdagangan manusia bisa dipulangkan, daripada dimasukkan ke penjara seperti imigran gelap atau penjahat. Itu tidak adil. Kami harus membela para perempuan di negara ini. Kami tidak akan pernah mengerti keadaan yang sebenarnya bila kami hanya membaca laporan saja.�

Dari seluruh populasi warga Kamboja, 52% adalah perempuan. Mereka punya peranan dalam pembangungan sosial dan ekonomi Kamboja. Namun, hal ini seringkali diabaikan.

“Kemanapun saya pergi, saya melihat para perempuan berjualan di jalan, pasar dan sawah-sawah. Bahkan 90% pegawai garmen adalah perempuan. Setiap hari mereka memberikan kontribusinya untuk pembangunan negara ini.�

Tahun 2003 setelah masa jabatan Mu Sochua berakhir, ia bergabung dengan partai oposisi.�

Saat itu, ia mengusulkan kepada majelis nasional untuk membuat undang-undang anti kekerasan dalam rumah tangga.

“Kesetaraan gender bukan hal yang baru di Kamboja. Secara tradisional, jauh lebih banyak anak laki-laki yang punya pendidikan dibandingkan dengan anak perempuan. Saya mengajukan undang-undang ini karena tanpa hukum itu, para perempuan akan tetap menderita. Untungnya undang-undang itu diterima tahun 2006.�

Pada akhir tahun 2006, Mu Sochua terpilih menjadi Sekretaris Jenderal partai oposisi. Ia adalah perempuan pertama di Kamboja yang memegang jabatan ini.

“Menurut saya, para perempuan mampu menduduki posisi yang tinggi. Tapi mereka tidak punya kesempatan. Bahkan banyak yang bekerja lebih efisien dibandingkan dengan para laki-laki.�

Meski Mu Sochua adalah pejabat tinggi partai tersebut, nampaknya ia tidak terlalu mengkhawatirkan keamanannya.

“Saya tidak memerlukan pengawal karena kemanapun saya pergi para warga dan perempuan menjaga saya supaya aman. Tapi kadang-kadang saya merasa kesepian karena tidak banyak rekan perempuan yang berada pada tingkat ini.�

Walaupun Mu Sochua tidak lagi menjabat sebagai Menteri urusan Perempuan, ia tetap bertekad untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi para perempuan Kamboja.

Leave a Reply

 


ON AIR THIS WEEK
 

Cyclone brings Burmese military to its knees: Now aid workers say at least 20,000 are dead and tens of thousands more injured. There are fears that the number will rise due cholera and other water-borne disease breaking out amongst the two million people made homeless by the cyclone.The Burmese military is under mounting pressure to allow UN aid workers unlimited access to deal with the disaster. However, as our correspondents report, they are resistant to receive outside help.

Cambodian school children drop out of school after the WFP stops providing rice: Global stocks of rice are at their lowest in two decades. As a result rice prices have more than doubled since the start of the year. The United Nations World Food Programme’s spokesperson, Paul Risley, says the “poorest of the poor” will go hungry because their agency can’t afford to buy rice. As of this month the United Nations World Food Programme has suspended free breakfasts to nearly half a million school children. Sorn Sarath from VOD went to visit one of the schools affected to see the impact.

Asia Calling : Your Window on Asia


 

RELATED POSTS