SRI LANKA : Para Perempuan Merubah Dunia Media Yang Didominasi Para Pria

May 21st, 2007 by Ruwani Gunewardena  Print This Post/Page
 

Sri_Lanka__web_.JPGSelama dua dekade terakhir, media Sri Langka didominasi laki-laki. Tapi hal ini mulai berubah dengan perlahan. Para jurnalis perempuan semakin berupaya untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam bidng media. Seperti yang dilaporkan Ruwani Gunewardena dari Televisi Young Asia. Simak laporannya bersama Nita Roshita

Kira-kira dua dekade lalu, profesi jurnalisme di Sri Langka hanya dibatasi pada laki-laki saja. Tapi kini para perempuan di negara itu, menduduki berbagai jabatan dalam kantor berita media cetak, televisi, radio maupun internet. Merekapun meliput berbagai isu, antara lain pendidikan, perang, maupun hak azasi manusia.

“Menurut saya, kami mengalami banyak kemajuan. Karena 20 tahun lalu waktu saya mulai terjun ke bidang jurnalisme, tidak banyak perempuan yang meliput isu-isu yang berat seperti pertahanan negara ataupun yang yang menjadi analis.�

“Tidak seperti sebelumnya, para perempuan mulai keluar dari bidang jurnlis yang biasanya diliput perempuan seperti dunia fesyen dan memasak. Sekarang mereka membuat laporan soal politik, konflik, hak azasi manusia, isu lingkungan. Dan ini membuat mereka menjadi jurnalis yang serba bisa dan menguasai berbagai isu.�

Namun, jumlah wanita yang memegang jabatan tinggi dalam media dan diberikan kepercayaan untuk membuat keputusan, masih sedikit.

Menurut sebuah laporan yang disusun Federasai Jurnalis Internasional, 40 per sen perempuan adalah jurnalis. Tapi hanya 3 sampai 5 per sen yang menjadi editor, kepala bagian atau direktur.

Hal ini mendorong, Institusi Pers Sri Langka, untuk membuat acara khusus bagi beberapa editor perempuan pertama di Sri Langka. Mereka adalah Hannah Ibrahim editor Sunday Standard dan Champika Liyanarnchi editor surat kabar Daily Mirror. Acaranya digelar oleh perkumpulan Women and Media Collective akhir Januari lalu. Acaranya dipimpin Mrinal Pande, editor Hindustan.

“Waktu saya pertama kali merintis karir saya, seperti kebanyakan jurnalis lainnya, kami dilarang berbicara mengenai uang haram. Padalah posisi kami sebagai jurnalis adalah melayani bangsa dan kami harus melaporkan apa yang terjadi.�

“Jurnalisme tidak membeda-bedakan perempuan dengan laki-laki. Tapi sebagai perempuan kadang-kadang kami berada dalam posisi yang sulit. Karena ada beberapa isu yang lebih sensitif bagi kami dibandingkan dengan laki-laki.�

“Saya ingat 20 tahun lalu waktu saya memulai pekerjaan saya. Orang tidak suka dengan saya Bahkan ada yang datang kepada saya, dan waktu buka pintu dan tahu saya seorang perempuan, mereka mencela saya. Mereka mengatakan ‘ wah editornya perempuan’. Kemudian mereka banting pintunya. Mereka tidak memperlakukan saya dengan baik.�

Hanna telah menjadi jurnalis selama 20 tahun dan biasanya menulis mengenai isu gender. Sementara Champika adalah editor surat kabar perempuan pertama dan termuda. Ia adalah kolumnis politik dan pertahanan, dan karyanya diterbitkan setiap mingu.

Kini konflik terus meningkat di Sri Lanka. Sehingga tugas bagi para jurnalis, seperti Hanna dan Champika, untuk melaporkan isu-isu yang krusial, menjadi lebih menantang.

“Menurut saya bidang media punya tanggungjawab yang besar. Kami harus berperan sebagai katalisator dalam proses perdamaian. Kami juga harus melaporkan isu-isu yang melanda negara kami. Jadi, para perempuan harus mampu melakukan hal itu.�

“Ini tantangan yang besar karena kami harus menghadapi isu tersebut dengan baik. Supaya informasi yang kami sebarkan tidak dipengaruhi oleh pihak manapun.�

Sayangnya, hanya beberapa perempuan saja yang berperan aktif dalam bidang jurnalisme. Karena, mayoritas perempuan tidak punya kekuasaan untuk membuat keputusan, dan posisi mereka di mediapun terbatas.

Dan saat ini, media Sri Langka punya tanggungjawab yang besar. Yaitu, berupaya menugurangi konflik melalui penyebaran informasi kepada publik, dengan cara yang baik dan tidak menimbulkan prasangka.

Leave a Reply

 


ON AIR THIS WEEK
 

Cyclone brings Burmese military to its knees: Now aid workers say at least 20,000 are dead and tens of thousands more injured. There are fears that the number will rise due cholera and other water-borne disease breaking out amongst the two million people made homeless by the cyclone.The Burmese military is under mounting pressure to allow UN aid workers unlimited access to deal with the disaster. However, as our correspondents report, they are resistant to receive outside help.

Cambodian school children drop out of school after the WFP stops providing rice: Global stocks of rice are at their lowest in two decades. As a result rice prices have more than doubled since the start of the year. The United Nations World Food Programme’s spokesperson, Paul Risley, says the “poorest of the poor” will go hungry because their agency can’t afford to buy rice. As of this month the United Nations World Food Programme has suspended free breakfasts to nearly half a million school children. Sorn Sarath from VOD went to visit one of the schools affected to see the impact.

Asia Calling : Your Window on Asia


 

RELATED POSTS