BIRMA : Aktivis Shan Yang Berusia 25 Tahun Memenangkan Penghargaan Perdamaian Trondheim

May 21st, 2007 by Ronald Aung Naing  Print This Post/Page
 

CharmTong__web_.JPGCharm Tong, adalah perempuan Birma yang berusia 25 tahun. Selama hampir satu dekade, ia berusaha mendidik anak-anak yang hidup dalam pengasingan. Anak-anak itu lari dari perang sipil di negara itu.

Charm, dibesarkan dalam komunitas pengungsi yang terletak di perbatasan Thailand dan Birma. Ketika ia berusia enam tahun, orangtuanya memindahkannya ke tempat itu. Di sana, ia hidup bersama anak yatim bangsa Shan.

Selama ia dibesarkan di tempat pengungsian, ia merasakan bagaiamana sulitnya mendapatkan pendidikan. Sehingga waktu Charm berusia 16 tahun, ia membantu mendirikan sejumlah untuk anak-anak seperti dia, di hutan.

Baru-baru ini, ia menerima penghargaan Student Peace Prize dari Norwegia. Ronald Aung Nai menceritakan kisahnya. Dan laporannya akan disampaikan oleh Fia Anwar.

Charm Tong lahir wilayah Shan, Birma.

Ayahnya adalah komandan Shan yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa Shan darinegara itu.

Ketika Charm Tong berusia 6 tahun, orantuanya memindahkanya ke sebuah panti asuhan di perbatasan Thailand dan Birma. Di sana, ia didik secara Katolik.

Inilah sekolah lama Charm Tong. Saat ini, ada sekitar 30 anak yang sedang belajar bahasa Mandarin. Salah satu gurunya, adalah Mary, yang sudah berusia 70 –an. Dulu, ia pernah mengajar Charm.

“Ia seperti anak-anak lainnya. Tapi prestasinya bagus sekali. Ia berusaha memberikan yang terbaik. Dia selalu sabar dan saya bangga sama dia. Setiap kali saya mengajar anak-anak, saya selalu bilang ‘kalian harus seperti Charm. Kalian harus berusaha. Saya mengajar, tapi kalian yang belajar jadi kalian haru terus berusaha. Dan saya guru yang sangat displin.�

Ibu guru Mary, mendidik Charm dengan sangat keras di panti asuhan ini.

“Saya pernah dididik para biarawati. Mereka mengajar saya dan cara didik itu yang saya terapkan kepada anak-anak. Jam setengah lima pagi, mereka harus bangun dan siap-siap. Setelah itu jam lima mereka kelas bahasa Inggris sampai jam 6.30. Selesai itu, mereka ambil uang jajan, ganti baju dan pergi ke sekolah Thailand. Sehabis sekolah, mereka kerjakan PR dan kalau sudah selesai, langsung makan malam. Dari jam 6 sampai -7 malam mereka belajar mengenai Shan. Kemudian jam 7-8 harus menyula. Kemudian jam 8 sampai jam 9 mereka kerjakan PR dan mengunlang pelajarannya. Baru jam 9 mereka tidur.�

Charm Tong dibesarkan di panti asuhan yang multi bahasa. Sehingga ia menguasai 4 bahasa yaitu bahasa Shan,Thailand, Inggris dan Mandarin.

Ia mengatakan, anak-anak sayang dengan ibu guru Mary. Tapi di saat yang sama mereka takut dengan ibu gurunya itu.

“Ibu Guru Mary itu perempuan yang sangat kuat. Dia bicara apa adanya dan seorang pekerja keras. Tapi di sisi lain Dia sangat baik sama anak-anak di rumahnya maupun dengan warga yang mengenalnya. Dia selalu mengajarkan ketrampilan dan pengetahuann ke semua orang.�

Di usia yang belia, Charm Tong begitu menghargai pendidikan dan pengetahun. Waktu berusia 16 tahun, ia mulai mengkampanyekan hak-hak rakyatnya.

Bahkan ketika ia berusia 17 tahun, ia berbicara di hadapan Komisi Hak Azasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia menceritakan bagaimana penderitaan rakyatnya selama ini, kepada para pemimpin dunia.

Kampanyenya tidak berhenti di situ saja. Charmpun mendirikan Jaringan Tindakan Perempuan atau SWAN.

Melalui organiasainya, ia telah membantu para perempuan Birma yang diperdagangkan dalam industri seks Thailand. Selain itu, ia membuat sejumlah sekolah, bagi anak-anak Shan yang tinggal di pengasingan.

Di sebuah kedai Universitas Chiang Mai, Charm menceritakan ,mengapa ia mendirikan sekolah di pengasingan.

“Kami membentuknya karena Badan PBB yang menangani pengungsi atau UNHCR belum mengakui pengungsi Shan. Jadi mereka sama sekali tidak mendapatkan bantuan seperti makanan, tempat tinggal, pendidikan dan pelayanan kesehatan. Bahkan kondisi anak-anak dan para perempuan lebih buruk lagi. Mereka bekerja hari demi hari hanya untuk bertahan hidup. Sekarang saya menjadi direktur sekolah. Kami mengajarkan berbagai pelajaran seperti hak-hak azasi manusia, demokrasi, komputer, dan ketrampilan bahasa Inggris. Supaya mereka nantinya bisa kerja di komunitasnya. Kami juga ingin mempromosikan hak azasi rakyat lain. Sekarang ini sebagian dari mereka menjadi penyiar radio komunitas dan pelatih soal HIV/AIDS. Jadi selain menjadi guru juga mereka juga jadi petugas kesehatan. Mereka bekerja sama dengan sejumlah kelompok perempuan maupun media dan organisasi internasional untuk meningkatkan kesadaran hak azasi Birma dan perempuan.�

Karena pekerjaan Charm untuk mendidik anak-anak dalam pengasingan, bari-baru ini ia diberikan penghargaan Student Peace Trondheim tahun ini, di Norwegia.

Bahkan pada tahun 2005, ia berbicara dengan Presiden Amerika Serikat, George Walker Bush, soal penderitaan rakyatnya.

Namun menurut Charm masih banyak yang harus dilakukan untuk mereka.

“Meski kami sudah mendapatkan banyak pengakuan internasional untuk usaha kami, di saat yang sama, kami sangat sedih dengan situasi yang sekarang. Seperti yang Anda ketahui, militer Birma melakukan begitu banyak kejahatan. Dan banyak hal yang buruk terjadi keapda rakyat kami. Menurut saya kami harus berasatu. Kami tidak akan menyerah walaupun kami tahu tujuan kami sulit dicapai. Tapi melalui upaya kami kami, kami berusaha membangun komunitas kami, dan mendapatkan dukungan internasional. Saya yakin, suatu hari nanti akan ada perubahan. Kami harus terus berharap, dan tidak menyerah meski ada banyak rintangan.�

Leave a Reply

 


ON AIR THIS WEEK
 

Cyclone brings Burmese military to its knees: Now aid workers say at least 20,000 are dead and tens of thousands more injured. There are fears that the number will rise due cholera and other water-borne disease breaking out amongst the two million people made homeless by the cyclone.The Burmese military is under mounting pressure to allow UN aid workers unlimited access to deal with the disaster. However, as our correspondents report, they are resistant to receive outside help.

Cambodian school children drop out of school after the WFP stops providing rice: Global stocks of rice are at their lowest in two decades. As a result rice prices have more than doubled since the start of the year. The United Nations World Food Programme’s spokesperson, Paul Risley, says the “poorest of the poor” will go hungry because their agency can’t afford to buy rice. As of this month the United Nations World Food Programme has suspended free breakfasts to nearly half a million school children. Sorn Sarath from VOD went to visit one of the schools affected to see the impact.

Asia Calling : Your Window on Asia


 

RELATED POSTS