AFGHANISTAN : Perempuan Paling Terkenal Di Afghanistan Berbicara

May 21st, 2007 by Alice Brenan  Print This Post/Page
 

Joya_Afghan__web_.JPGMalalai Joya, anggota parlemen Afghanistan yang paling muda, tapi pekerjannya sangat berat. Ia mengatakan koalisi Amerika Serikat yang membantu negara itu gagal.

Kondisi warga Afghaisatn dan khusunya para perempuan, lebih buruk dibandingkan pada masa kekuasaan Taliban.Menurut perempuan yang berusia 28 tahun ini, parlemen dikusai oleh gembong perang dan narkotika dan kini mereka akan diberikan amnesti.

Baru-baru ini ia bertemu dengan Alice Brenan dan mengenai hal itu. Laporannya akan disampaikan oleh Vivie Zapkie.

Malalay Joya, adalah anggota parlemen Afghanistan yang paling muda. Pada tahun 2003 lalu, ia dikeluarkan dari Dewan Agung negara itu.

Anda mendengarkan pidato publik pertamanya setelah kelompok militan Taliban digulingkan. Perempuan berusia 28 tahun ini tidak berbicara mengenai kekebasan dan kemerdekaan, tapi ia mengadukan sekelompok orang yang terlibat dalam politik Afghanistan.

Ia menyebut kelompok ini sebgai gembong narkotika dan gembong perang atau bahkan mafia.

“Para gembong perang telah berbuat begitu banyak kejahatan kepada rakayat kami. Mereka menentang para warga yang menginginkan kebebasan dan menghancurkan negara kami.Seabgian dari mereka adalah anggota Taliban,jihad dan kaki tangannya Rusia. Jadi di Afgahnistan ada tiga macam penjahat dari tiga periode sejarah negara kami.�

Banyak orang membayangkan Afghanistan sebagai negara yang baru, yang menjalankan sistem demokrasi yang baru pula. Tapi Malaya Joya malah punya pandangan yang berbeda. Kalau menurut versinya, Ia menyebut Afghanistan sebagai demokrasi palsu.

“Saya yakin parlemen kami tidak akan demokratis. Anda bisa lihat sendiri. Contohnya tidak ada kebebasan berbicara maupun pers dan sudah dua kali mereka menyiksa wartawan. Bahkan setelah pidato saya di parlemen salah satu gembong berteriak ‘tangkap dan perkosa dia’. Saya punya banyak pengalaman pahit dalam parlemen dan itu menyiksa saya. Tapi karena saya berjuang untuk rakyat, saya sudah menerimanya. Saya ingin berbircara di parlemen karena sebagian gembong perang dan narkotika dan hanya memakai topeng demokrasi.�

Dia mengatakan demokrasi Afghanistan sebagai demokrasi palsu, sementara pada tahun-tahun sebelumnya, Afgahanistan dikuasai Taliban.

Sebut saja proses demokrasi akan memakan waktu. Tapi kalau dalam hal hak-hak perempuan apa sudah ada kemajuan?

“Ya memang benar kalau proses itu membutuhkan waktu. Kami mengerti hal itu setelah mengalami peperangan selama bertahun-tahun. Tapi rakyat selalu berharap demokrasi akan semkain membaik. Dimana partai-partai demokratis dapat dukungan dan dengan perlahan kami bisa bebas mengatakan apa yang kami inginkan. Tapi realitanya berbeda dan ada banyak kisah yang tidak diceritakan media.�

Kalau menurut dia, lebih baik masuk parlemen daripada jadi anggota Taliban. Apalagi jika Anda seorang perempuan muda.

“Hal utama yang ingin saya sampaikan kepada Anda adalah hanya sedikit saja yang berubah soal demokrasi. Perubahan yang terjadi selama ini bagaikan tetesan kecil di laut. Anggota Taliban masih berkuasa dan memakai topeng demokrasi dan sayangnya didukung Amerika Serikat.�

Sejak seruan publiknya yang pertama, Malalay kembali ke Afghanistan untuk mengadukan anggota parlemen yang sering ia sebut sebagai gembong perang di hadapan umum.

Karena pengaduannya nyawanya terancam. Ia jarang sekali menetap di rumah yang sama selama beberapa malam beruturut-turut Dan kalau ia keluar rumah ia harus memakai burka.

“Saya bukan saja generasi muda tapi juga perempuan yang berpendidikan. Itu sebabnya saya harus melayani rakyat. Saya peracya tidak ada satu bangsa yang menyodorkan kebebasan kepada negara lain dan hak-hak perempuan bukan sesuatu yang bisa diberikan dengan cuma-cuma kepada kami. Kami harus berkorban dan menghadapi segala resikonya. Kami harus bersusah payah untuk mendapatkannya. Itu sebabnya saya rela berkorban untuk negara dan rakyat. Dan saya menjunjung tinggi demokrasi dan hak-hak perempuan.�

Leave a Reply

 


ON AIR THIS WEEK
 

Cyclone brings Burmese military to its knees: Now aid workers say at least 20,000 are dead and tens of thousands more injured. There are fears that the number will rise due cholera and other water-borne disease breaking out amongst the two million people made homeless by the cyclone.The Burmese military is under mounting pressure to allow UN aid workers unlimited access to deal with the disaster. However, as our correspondents report, they are resistant to receive outside help.

Cambodian school children drop out of school after the WFP stops providing rice: Global stocks of rice are at their lowest in two decades. As a result rice prices have more than doubled since the start of the year. The United Nations World Food Programme’s spokesperson, Paul Risley, says the “poorest of the poor” will go hungry because their agency can’t afford to buy rice. As of this month the United Nations World Food Programme has suspended free breakfasts to nearly half a million school children. Sorn Sarath from VOD went to visit one of the schools affected to see the impact.

Asia Calling : Your Window on Asia


 

RELATED POSTS