KOREA UTARA : Padang Golf Di Tempat Wisata Negara Komunis
April 23rd, 2007 by Rebecca Henschke
Negara yang terutup ini, mengizinkan bantuan makanan dari luar negara itu Korea Utara juga meminta Badan Pangan Dunia atau (WFP) untuk meningkatkan bantuannya, untuk mengatasi kekurangan makanan. Padahal dalam beberapa tahun terkahir Korea Utara malah mengurangi bantuan dari WFP maupun badan internasional lainnya.
Tapi setelah direktur regional WFP Tony Banburry kembali dari kunjungannya ke Korea Utara selama enam hari, para pejabat negara itu mengatakan negaranya kekurangan satu juta ton makanan. Ia mengatakan, situasi ini malah akan bertambah buruk bila komunitas internasioal tidak bertindak.
“Bila para donor tidak menanggapi permintaan ini, jutaaan orang akan kelaparan.Bayi-bayi yang lahir tidak akan sehat dan jumlah kematian anak akan semakin meningkat. Kami meminta para donor untuk melihat situasi negara yang semkain sulit. Supaya memberikan bantuannya karena begitu banyak orang yang membutuhkannya dan ini terlepas dari pembicaraan politik. Seharusnya pertemuan itu juga membicarakan isu persedian makanan Korea Utara,”
Sementara itu, Korea Selatan akan melanjutkan bantuan makananya ke Korea Utara Namun di sisi lain, negara itu Korea mengklaim sedang membantu negara komunis itu, i melalui proyek pariwsata gabungan, di Gunung Kumgang Korea Utara.
Pemerintah Korea Selatan mempertahakan proyek ini sebagai simbol unifikasi yang berjalan dengan perlahan.
Namun pemerintahan Bush dan sejumlah partai oposisi sayap kanan di Seoul mengklaim pendapatanan dari proyek digunakan utuk mendanai program nuklir Korea Utara.
Rebecca Henschke berkunjung ke tempat wisata yang kontroversial itu. Laporannya disampaikan Citra Prastuti.
Pertunjukan spektakuler dilakukan para pemain akrobat Pyongyang untuk menyambut turis di Gunung Kumgang, surga bagi para pendaki gunung. Bagi warga Korea Selatan, gunung ini mesti didaki sebelum seseorang meninggal.
Gunung ini terletak di wilayah Korea Utara, tak berapa jauh dari zona demiliterisasi. Adanya proyek bersama antara Pyongyang dengan perusahaan besar, Hyundai-ASAN, membuat warga Korea Selatan bisa mendaki gunung itu.
“Tur ke Korea Utara sangat populer. Saat situasi aman, banyak orang ingin datang dan berkunjung ke sini karena ini adalah tempat yang sangat unik. Satu-satunya tempat di mana satu negara terpisah menjadi dua,”
Dalam ruang konferensi di salah satu hotel, Wakil Presiden Direktur perusahaan Hyundai menjelaskan bahwa tempat ini lahir dari gagasan bosnya. Ia dilahirkan di Korea Utara dan ingin memberikan sesuatu bagi kampung halamannya. Tujuan jangka panjangnya adalah reunifikasi Semenanjung Korea.
Perusahaan ini tak ingin cari untung. Tahun lalu saja, tak berhasil mencapai titik impas.
“Tak mudah mencari untung, tapi kami sudah berkomitmen dengan proyek ini. Saya yakin dalam 10 tahun, akan terjadi reunifikasi ekonomi di Semenanjung Korea. Program ini akan membuka peluang kunjungan antara Selatan dan Utara. Itu bisa terjadi sebelum reunifikasi,”
Ini sekaligus investasi bisnis jangka panjang; proyek gabungan antara Hyundai dan Kim-Jong Il, yang disokong penuh pemerintah Korea Selatan. Dengan optimisme yang mengiringi perjanjian nukilr 13 Februari silam, proyek ini terus berkembang.
Alaat-alat berat tengah sibuk bekerja. Tanah kosong ini akan diubah menjadi padang golf yang mewah.
“Lihat lubang nomor 3 di sana? Ini adalah jalur terpanjang di seluruh dunia! Par 7, 1100 meter,”
“Beberapa turis yang sangat kaya ingin bermain golf. Kami membangun kompleks pariwisata, sehingga harus ada padang golf,”
Pemandangan kontras antara lapangan golf dan desa, sungguh aneh.
“Ini sungguh aneh. Kami datang ke suatu tempat di mana kami sangat
diatur sepanjang waktu. Kami belum bicara sepatah kata pun dengan satu orang Korea Utara sejak kami sampai di sini. Kami juga tak bisa mengambil gambar. Mereka mengatakan kalau ini adalah tempat pariwisata, tapi di saat yang sama mereka mengatakan bahwa orang-orang diminta tetap berada di dalam rumah kalau ada turis lewat. Ini lebih dari aneh. Saya merasa seperti dalam cerita ’Alice in Wonderland’!”
Partai oposisi di Seoul punya pemikiran lain. Menurut mereka, proyek ini sangat tidak bertanggung jawab dan harus ditutup.
Jaewan Bahk adalah Sekretaris Partai Oposisi Nasional Raya, GNP.
“Uang dari sini langsung masuk ke kantong rezim diktator. Proyek ini sangat dibantu subsidi dari pemerintah Korea Selatan. Tak ada keuntungan atau apa pun, karena turis Korea Selatan tak bisa berhubungan dengan orang-orang Korea Utara, hanya pemandu wisata yang sangat terlati h. Tak ada kesempatan sedikit pun untuk bertemu dan belajar tentang sistem atau pasar di Korea Selatan,”
Pandangan serupa datang dari Jepang dan Amerika Serikat. Uji coba nuklir yang dilakukan November tahun lalu telah memicu tekanan kepada pemerintahan Roh untuk mengubah kebijakan mereka. Namun perusahaan Hyundai-ASAN menegaskan, uang dari proyek ini langsung dipakai untuk membantu warga Korea Utara.
“Di Pyongyang, banyak bus umum yang sekarang beroperasi. Juga ada pembangkit energi dan kami percaya sebagian besar uang masuk ke kantong rakyat. Sejak 2003, kami hanya membayar 1 juta dolar per bulan, itu sedikit. Standar hidup di Pyongyang semakin baik. Kami tak bisa menelusuri uang tersebut, tapi menurut rakyat, uang itu kembali ke mereka,”
Pemerintahan Roh di Korea Selatan tak mau mengikuti model reunifikasi ala Jerman. Mereka tak siap dengan beban ekonomi yang bakal muncul dengan reunifikasi yang tiba-tiba. Model reunifikasi yang dicari Korea Selatan adalah kerjasama ekonomi yang bergerak lambat.
Profesor Paik Nak-chung dari Universitas Seoul berpendapat, cara yang mesti ditempuh adalah membuat negara federasi.
“Jerman tidak mengikuti model federasi dan itu menimbulkan beban lebih besar kepada Republik Jerman. Dengan membuat negara federasi, Korea Utara tidak akan menggunakan mata uang yang sama dengan Korea Selatan. Mereka juga tak punya kebebasan penuh untuk melintasi perbatasan. Ini akan menjadi proses reunifikasi yang lambat dan bebannya akan terbagi sepanjang waktu itu,”
Ada jalan panjang yang harus dilalui, dengan berbagai rintangan.
Kembali mendaki Gunung Kumgang, saya mendapat kesempatan langka untuk berbicara dengan warga Korea Utara. Seorang pelukis yang membuat lukisan pemandangan di atas batu.
Dia sangat bangga sebagai warga Korea Utara, negara yang memiliki pemandangan indah seperti pegunungan ini.
Beberapa saat kemudian, jurnalis televisi dari Italia ikut mewawancarai dia. Ini menarik perhatian petugas pemerintah yang kemudian memerintahkan mereka untuk menghapus hasil rekaman. Mendung kembali meliputi perjalanan kami selanjutnya. Jendela kecil yang digambar sang pelukis, untuk mencari uang, mendadak tertutup.
Ini adalah simbol proses reunifikasi: satu langkah maju, dua langkah mundur.

Leave a Reply