KOREA UTARA : Upaya Perdamaian Lewat Kapitalis?
April 17th, 2007 by Rebecca Henschke
Sebuah kompleks industri di Korea Utara yang didanai Seoul, akan mendapatkan investor asing bulan depan. Hyundai Asan adalah pengembang kompleks yang terletak di kota perbatasan yaitu Kaesong.
Kompleks ini menggabungkan teknologi dari Korea Selatan dengan memperjakan tenagah buruh murah dari Korea Utara. Perusahaan tersebut mengklaim proyek ini adalah proyek perdamaian satu langkah maju untuk re-unifikasi semenangjung Korea.
Seperti yang dilaporkan Rebecca Henschke, mereka sangat mengharapkan dukungan Bush soal penguarangan tarif. Laporannya disampaikan oleh Citra Prastuti.
Pusat Industri Kaesong, masa depan dari Semenanjung Korea. Tadi adalah pesan film promosi ini. Perusahaan besar asal Korea Selatan Hyundai Asan membuka kompleks bisnis ini tahun 2004, di lahan seluas tiga ribu meter persegi, tak jauh dari Kota Kaesong di Korea Utara. Saat ini ada 23 pabrik Korea Selatan di sana, mempekerjakan sekitar 11 ribu pekerja Korea Utara.
Ini baru permulaan, kata Direktur Pusat Industri Mee Lee.
“Kami akan mempromosikan Pusat Industri Kaesong sebagai kesempatan investasi paling menjanjikan dan pusat kerjasama ekonomi industri perakitan di timur laut Asia. Saya tahu pertimbangan politik Anda, tapi saya percaya kalau kerjasama antar Korea seperti ini akan meredam ketegangan dan mendorong perdamaian,”
Ada rencana besar di kompleks kapitalis ini, dalam negara komunis Korea Utara.
Di ruangan kecil ini, Yugin Me menjelaskan soal model pembangunan Pusat Industri Kaesong. Yugin Me, lulusan jurusan Hubungan Internasional dari Universitas Pyongyang, berlaku sebagai juru bicara.
“Ini adalah zona komersil yang terdiri dari banyak bangunan bertingkat, hotel, tempat pameran serta pusat pelatihan. Ini akan menjadi zona industri kelas dunia. Anda bisa lihat di sini, kami membangun danau untuk mengontrol banjir, juga untuk pariwisata. Zona perumahan seluas 800 hektar akan menampung tiga ribuan warga Korea Selatan,”
Ini adalah tempat pertama di mana warga Korea Utara dan Selatan bekerja berdampingan dalam suasana harmonis, tambah dia.
Kami dibawa ke salah satu pabrik. Di sana, pekerja perempuan asal Korea Utara sedang menjahit pakaian. Mereka semua lulusan SMA dan dipilih negara untuk bekerja di pabrik ini. Di pojokan, ada toko modern yang menjual baju-baju produksi pabrik. Pabrik lainnya memproduksi jam, sepatu dan kabel listrik.
Pekerja Korea Utara mendapat penghasilan 57.50 dollar Amerika per bulan. Setelah dipotong pajak 7.50, penghasilan bersih yang mereka dapat hanya sedikit di atas batas upah budak seperti didefinisikan PBB, yaitu 2 dollar Amerika per hari.
Mee Lee terlihat bingung ketika saya katakan soal itu.
“Sejak kapan sistem penggajian seperti itu diputuskan? Di Cina, 10 tahun lalu upah minimumnya kurang dari 3 dollar per hari. Bagaimana dengan di Afrika, Vietnam atau negara-negara miskin lainnya? Saya rasa Anda keliru menafsirkan sistem pengupahan di dunia,”
Bagaimanapun, hampir 800 pekerja Korea Selatan dibayar lebih tinggi untuk pekerjaan yang sama.
Di salah satu pabrik, seorang pekerja Korea Selatan bercerita, ia senang bekerja di sana. Gajinya lebih baik dibandingkan bekerja di kampung halaman. Ia juga merasa nyaman bekerja dengan pekerja asal Korea Utara. Mereka hanya tak boleh berbincang soal politik atau ekonomi.
Ketika kami berkeliling pabrik, tak seorang pun berbicara. Ini adalah wilayah kerja lini produksi.
Menyusul perjanjian 13 Februari lalu tentang program nuklir Korea Utara, perusahaan Hyundai Asan membuka lahan ini untuk negara-negara asing. Rencananya adalah membangun tiga ribu pabrik sampai tahun 2024. Namun, Korea Selatan masih harus menyelesaikan perselisihan dengan Amerika Serikat yang meminta supaya barang-barang yang diproduksi di sana dianggap sebagai barang asal Korea Selatan.
“Amerika Serikat sudah mencap Korea Utara sebagai negara bermasalah. Namun barang-barang dari pabrik ini mesti dianggap produksi Korea Selatan, karena material barang-barang ini datang dari Korea Selatan. Kami menginginkan sistem tarif impor yang sama dengan perusahaan-perusahaan di Selatan,”
Isu ini tengah diperdebatkan dalam perbincangan soal perdagangan bebas antara kedua Korea. Mee Lee mengatakan, ia optimistis semua akan berjalan sesuai keinginannya. Namun ada kendala lain yang menghambat keberadaan pusat industri ini, yaitu kediktatoran Korea Utara dan kepemilikan senjata nuklir seperti yang diberitakan.
Partai oposisi utama di Seoul menginginkan pusat industri itu ditutup. Jewan Bahk adalah Sekrtaris Partai Oposisi Nasional Raya, GNP.
“Uang dari sini langsung mengalir ke kantong rezin diktator, proyek ini juga disubsidi oleh pemerintah Korea Selatan. Kita mesti menggunakan pendekatan ‘wortel dan tongkat’, hadiah dan hukuman. Tak bisa hanya pakai pendekatan hadiah saja dengan Korea Utara,”
Kaesong dan Gunung Kumgang adalah kompleks pariwisata yang telah menghasilkan sedikitnya 1 juta dollar.
Kekhawatiran GNP juga dirasakan oleh pemberontak Korea Utara yang sekarang tinggal di Seoul. Sung-Hee Han adalah seorang pemberontak yang ingin menyaksikan kejatuhan rezim Kim Jong-Il.
Menurut dia, kebijakan keterikatan adalah kesalahan besar. Kini rakyatnya menderita.
“Kebijakan ‘Matahari Bersinar’ atau Sunshine policy hanya didukung dan diperpanjang oleh rezim Kim Jong-Il dan membuat para pemberontak harus hidup lebih berat. Korea Selatan harusnya mendengarkan defectors Korea Utara, kami adalah satu-satunya yang mengerti apa yang dibutuhkan untuk menolong rakyat kami. Kebijakan ‘Matahari Bersinar’ tak menolong mereka.”

Leave a Reply