KOREA UTARA : Pembelot Korea Utara Memperjuangkan Hak Siaran Radio di Korea Selatan
April 17th, 2007 by Rebecca Henschke
Pyongyang tidak akan menutup reaktor nuklirnya akhir pekan ini. Pemerintah Korea Utara mengatakan masih menunggu pencairan dananya sebanyak 25 juta dolar yang sebelumnya dibekukan oleh Amerika Serikat. Baru setelah itu Korea Utara akan menutup reaktor tersebut.
Hal ini juga membuat para pembelot Korea Utara frustrasi. Melalui program radio, sejumlah imigran atau pembelot mencoba menurunkan rezim Kim Jong Il. Mereka tidak melakukan kekerasan tapi mendidik warga Korea Utara mengenai demokrasi.
Rebecca Henschke berkunjung ke stasiun radio itu dan laporannya disampaikan Citra Prastuti.
Sung-Hee punya pengalaman serupa. Bagi dia, radio adalah medium yang sangat kuat.
“Perubahan hanya akan terjadi di Korea Utara jika warga membuka cara pikir mereka. Kalau saya katakan kita tengah menciptakan revolusi, maka ini bukan demokrasi. Kita mencoba membuka pikiran banyak orang sehingga mereka bisa memikirkan diri sendiri. Dengan begitu, akan lebih sulit bagi Kim Jong-Il untuk memiliki kekuasaan absolut. Kelak akan ada pengawasan, yang pada akhirnya menjungkirkan rezim penguasa,”
Ini bukan sesuatu yang menyenangkan bagi warga Korea Selatan dan bertentangan dengan pemerintah Roh Moo-hyun dengan kebijakan ‘Matahari Bersinar’ atau Sunshine policy-nya.
Sikap dari anak muda Korea Selatan serupa.
“Kalau soal ekonomi, jika kita melakukan reunifikasi, maka ekonomi kita akan menderita, seperti Jerman. Maksudnya, Jerman Barat sebelumnya adalah salah satu negara terkaya di dunia, namun ketika mereka reunifikasi dengan Jerman Timur, keadaan jadi sulit untuk Jerman Barat,”
Bagi Partai Oposisi Nasional Raya, mimpi paling buruk bagi Korea Selatan adalah jatuhnya rezim Korea Utara secara tiba-tiba.
Jaewan Bahk adalah Sekretaris Partai Oposisi Nasional Raya, GNP.
“Yang saya khawatirkan adalah skenario terburuk. Jika rezim Korea Utara jatuh tiba-tiba, akan ada gejolak di tengah masyarakat dan banyak pengungsi akan berupaya pergi ke Korea Selatan. Beban negara ini akan meningkat drastis. Kejatuhan rezim secara tiba-tiba mesti dihindari,”
Sung-hee mengatakan, karena kondisi politik inilah, banyak orang di Seoul ingin melihat Radio Pembebasan Korea Utara ditutup.
Saat makan siang, mereka berbincang soal ancaman-ancaman yang menghampiri. Hanya sepekan setelah Se-Jong bekerja di sini, sebuah kotak dikirim ke kantor mereka, dengan gambar wajah direktur stasiun radio itu dicoret dengan cat warna merah. Kritik yang datang kadang bersifat kekerasan fisik juga. Penjaga gedung bercerita, ada ‘orang-orang aneh’ yang datang memprotes radio mereka secara teratur.
Dua polisi sudah ditugaskan untuk berjaga-jaga 24 jam penuh. Namun staf di sana sambil bercanda mengaku tak yakin, apakah polisi itu untuk menjaga atau memata-matai mereka.
Kelompok Korea Selatan yang disebut Aliansi Unifikasi 6.15 adalah salah satu pengkritik terkeras stasiun radio ini. Mereka mengklaim Radio Pembebasan Korea Utara menentang rekonsiliasi dan kerjasama kedua Korea. Radio ini juga dianggap melanggar perjanjian antara Utara dan Selatan untuk menghentikan siaran propaganda.
Meski mengalami sejumlah tekanan, radio itu tetap siaran seperti biasa. Sung Hee percaya betul kalau mereka tak sedang memprovokasi perang, tapi mengarahkan orang menuju kebebasan.
“Kebijakan ‘Matahari Bersinar’ hanya akan mendukung dan memperpanjang masa berkuasa rezim Kim Jong-Il, juga membuat hidup para pemberontak makin susah. Korea Selatan harus mendengarkan suara pemberontak Korea Utara, kalau kami adalah satu-satunya yang tahu apa yang harus dilakukan untuk menolong rakyat kita. Kebijakan ‘Matahari Bersinar’ tidak akan membantu apa pun. Satu-satunya cara yang bisa ditempuh adalah membuka saluran informasi dan alternatif kehidupan yang ada,”
Tak seperti kebanyakan pemimpin negara, ia tak merasa optimistis atas perkembangan terkini dari pembicaraan enam negara tentang hubungan Korea Utara dan Amerika Serikat.
“Tidak, saya tidak optimistis. Pembicaraan antara Amerika dan Korea Utara hanya permainan antara Bush dan Kim Jong-Il untuk mendapat waktu. Keduanya butuh waktu. Bush butuh untuk terlihat seolah ia memperoleh sesuatu, demi mendapat dukungan dari negaranya. Pembicaraan antara Korea Selatan dan Utara pun hanya permainan, karena pemerintahan Roh hanya berpikir soal memenangkan pemilu terdekat. Kim Jong Il hanya menggunakan kartu as nuklir untuk mengancam dunia dan mendapat apa yang diinginkan,”
Karena itulah stasiun radio ini perlu lebih banyak lagi melakukan sesuatu.
Mereka berencana mulai siaran dua jam bulan depan. Radio ini bertahan berkat dana dari National Endowment for Democracy dari Amerika Serikat dan donasi individual.
Perdebatan di dalam Korea Selatan akan terus berlanjut untuk menentukan bagaimana cara terbaik menghadapi Korea Utara.

Leave a Reply