MALAYSIA: Pendidikan Untuk Anak-anak Imigran
April 2nd, 2007 by Vanitha Nadaraj
Ada puluhan ribu anak-anak di Sabah yang tidak dapat masuk ke dalam sistem pendidikan Malaysia. Mereka adalah anak-anak pekerja migran Indonesia dan Malaysia. Mereka tidak diterima di sekolah negeri karena bukan penduduk lokal dan tidak memiliki dokumen identitas yang sahih. Tetapi kesempatan untuk belajar masih terbuka di jalur lain. Seperti yang dilaporkan oleh Vanitha Nadaraj, sekolah internasional mulai bermunculan di Sabah untuk menerima anak-anak ini. Laporannya akan disampaikan oleh ANDRE NUGROHO.
Di sebuah toko di atas bengkel mobil, lebih dari 200 anak-anak Indonesia dan Filipina belajar matematika. Ruangan kecil di kota Lahad Datu di wilayah pantai timur Sabah berubah menjadi Pusat Pendidikan Humana.
Setiap sudut ruangan itu dipenuhi oleh anak-anak kamu pendatang dalam seragam kuning-hijau.
Salah satunya adalah ARMANDIN, anak berusia 8 tahun yang memiliki orangtua Indonesia.
“Gurunya baik. Mata pelajaran favorit saya adalah bahasa Malaysia. Saya tinggal di dekat sekolah, jadi sangat mudah,�
Orang tua Armandin bekerja di Lahad Datu, kota berpenduduk 160 ribu orang. Banyak teman-teman sekolahnya yang tinggal di dekat perkebunan kelapa sawit, tempat orangtuanya bekerja.
Anak-anak ini tidak memiliki kartu identitas dan dokumen perjalanan yang valid. Biasanya, hal itu mencegah mereka untuk memperoleh pendidikan, tetapi tidak disini. Sekolah ini menerima anak-anak berusia 5 sampai 12 tahun dengan iuran sekolah 250 ringgit atau sekitar 625 ribu rupiah per tahunnya.
Seorang ibu asal Sulawesi yang berusia 30an tahun berharap, pendidikan dasar yang diperoleh dari Humana dapat memberikan masa depan yang lebih baik untuk putrinya.
“Ya, lebih bagus di sinilah. Di sini pelajarannya OK juga. Terpaksa bawa balik kampung kalau gak ada Humana disini. Ya kita mau bangkitkan anak kita supaya dia boleh dapat macam mana anak lainlah, dapat pelajaran yang baik,�
Sekolah itu dijalankan oleh Masyarakat Bantuan untuk Anak, HUMANA. Mereka memulainya pada tahun 1991, dengan tujuan memberikan pendidikan dasar kepada anak-anak pendatang gelap sampai umur12 tahun. Sekarang, mereka menjalankan 55 sekolah dengan jumlah murid mencapai TIGA PULUH EMPAT RIBU di seluruh Sabah.
Ide awal sekolah Humana digagas oleh TORBEN VENNING, warga Denmark yang menikah dengan perempuan lokal.
“Kami punya sejumlah kisah sukses mengenai anak-anak yang kembali bersekolah di Indonesia. Ada satu murid perempuan yang menjadi pemimpin di sekolahnya. Dia juga menjadi asisten guru bahasa Inggris karena sering menggunakan bahasa itu di sekolah kami. Jadi, kami memiliki catatan yang baik tentang mereka yang terus melanjutkan sekolah. Beberapa alumni kami juga ada yang bekerja di kantor, pabrik serta perkebunan kelapa sawit dan kami hanya mendapat laporan baik tentang mereka! Tiga guru kami awalnya adalah murid di sekolah ini dan kita akan memiliki lebih banyak guru lagi di masa depan,�
Memang, dalam kesepakatan antara Kuala Lumpur dan Jakarta, 51 guru Indonesia akan ditempatkan di sekolah Humana. Seratus guru lainnya akan tiba tahun depan.
Konsul Indonesia di Kota Kinabalu, ISKANDAR ABDULLAH mengatakan, anak-anak Indonesia juga akan diajarkan tentang tanah airnya. Ia menambahkan, keputusan itu diambil setelah ia berbicara dengan seorang anak di sebuah perkebunan di pantai Timur Sabah.
“Ketika kita kesana, kita tanyakan, siapa Presiden Indonesia? Tidak ada satupun yang mengetahuinya, Itu sangat-sangat menyentuh sekali bagi kita krena mereka tetap sebagai bagian dari Indonesia. Selain mendapat pendidikan basic: menghitung, menulis dan membaca, mereka juga mendapat pengetahuan tentang Indonesia,�
Sekitar 10 kilometer di dalam Kampung Silam terdapat sekolah lain yang dijalankan oleh warga Muslim Filipina dari Jolo, yaitu USAND POLO.
Sekolah itu menerima anak-anak nelayan yang tidak berdokumen. Mereka umumnya berasal dari Filipina Selatan.
Unsang, 49 tahun, sudah tinggal di Malaysia selama hampir 20 tahun. Di pondok kayu ini, ia mengajarkan pendidikan dasar kepada 40 anak-anak Filipina dengan iuran 10 ringgit atau sekitar DUA PULUH LIMA RIBU RUPIAH per bulan.
“Jika saya tidak mengajari anak-anak ini, mereka akan tumbuh dan mungkin akan bersentuhan dengan narkoba. Jika pikiran mereka tertutup, mereka tidak dapat menjelaskan sesuatu dengan baik atau melakukan sesuatu dengan benar, karena orang yang buta huruf tidak tahu apa yang baik dan apa yang buruk,�
Oleh warga lokal, kaum pendatang sering dituduh sebagai penyebab tingginya angka kriminalitas di Sabah.
TORBEN VENNING mengingatkan pentingnya sekolah ini bagi Sabah.
“Menurut saya, semua orang setuju bahwa anak-anak yang tidak berpendidikan memiliki peluang besar untuk menimbulkan masalah di masyarakat nantinya. Kontribusi mereka untuk ikut menyumbang ke masyarakat akan sangat, sangat kecil. Menurut saya, penyelesaiannya terletak pada solusi yang menguntungkan semua pihak, termasuk orangtua, anak-anak, masyarakat lokal dan semua orang,� (*)

Leave a Reply