MALAYSIA: Permainan Angka Politik di Sabah
April 2nd, 2007 by Vanitha Nadaraj
Dalam waktu 30 tahun, jumlah warga Melayu di Sabah meningkat enam belas kali lipat. Etnik Melayu bukanlah orang asli Sabah. Mereka adalah ras dominan di semenanjung Malaka. Penduduk Sabah heran mengapa hal itu bisa terjadi, terutama karena tidak adanya perpindahan masal dari semenanjung ke wilayah itu. Vanitha Nadaraj mengungkapkan bagaimana bekas Perdana Menteri Mahathir Muhammad berada dibalik fenomena itu. Ia menggunakan imigran Indonesia dan Filipina untuk mempertahankan kekuasaannya. Laporan ini akan disampaikan oleh FIA ANWAR.
Liyah, imigran asal Sulawesi berumur 35 tahun sedang menyiapkan makan malam di Kota Kinabalu. Delapan belas tahun lalu, ia meninggalkan keluarga dan kehidupannya yang miskin untuk masuk ke Sabah dengan izin sosial.
Di awal 1990an, ia mendengar bahwa ada yang menyebarkan Akte Kelahiran Malaysia secara gratis. Saat itu, Liyah sedang bekerja di sebuah pabrik. Ia pun segera berangkat untuk memperolehnya. Akte itu akan memudahkan dia untuk mendapatkan kartu identitas Malaysia.
“Yang lain mendaftar, jadi saya mendaftar juga. Sebelumnya, tahun 90an, banyak orang yang mendaftar. Tidak hanya satu, tapi ribuan. Saya tidak yakin apakah mereka memberikan akte kelahiran agar saya memilih mereka. Yang lain bilang, itu tujuannya. Tapi saya tidak pernah memilih, saya tidak akan pernah memilih.�
Pemimpin madya di partai UMNO Sabah tahu betul akan hal itu. Ia membantu pemeberian akte kelahiran dan kartu identitas kepada warga Indonesia dan Filipina. Ia juga membantupara imigran menjadi anggota partai itu.
Ia menolak memberikan namanya saat diwawancara, khawatir kalau hal itu akan menggagalkan karir politiknya. Kita panggil saja dia Irvan.
“Saat itu, warga Muslim Melayu masih menjadi minoritas di Sabah. Jadi, mereka diberikan kartu identitas dan harus memilih Barisan Nasional. Hal ini terjadi saat UMNO masih belum berkuasa dan tidak ada di negara bagian ini. Saat UMNO berkuasa pada pertengahan tahun 1990an, pemberian kartu identitas tidak diperlukan lagi. Saya hanya membantu para pemilik kartu untuk menjadi anggota UMNO saja. Tidak masalah apakah mereka orang Indonesia atau Filipina, asalkan mereka Muslim. Mereka harus bergabung dengan UMNO. Karena itu ada kecurigaan apakah pemimpin madya UMNO adalah benar-benar orang Malaysia. Departemen pendaftaran menyatakan, mereka dan kartu identitas mereka asli. Bagaimana bisa seseorang yang baru datang ke Sabah, mendapatkan kartu identitas, lalu dua tahun kemudian menjadi pemimpin UMNO cabang?�
Pada awal tahun 1990an, partai Kristen PBS berkuasa di Sabah. UMNO yang berada dibawah kepimpinan Mahathir Mohammad ingin menurunkan mereka.
Warga Sabah tidak mendukung UMNO. Banyak penduduk lokal yang memiliki dendam terhadap sesuatu yang berasal dari semenanjung Malaka. Jadi, strategi UMNO adalah mengajak kaum pendatang untuk bergabung.
Proyek ini pertama kali terungkap kepada publik pada bulan Februari 2000. Saat itu, hasil pemilihan umum di distrik Sabah dibawa ke pengadilan.
Pengadilan menerima bukti yang menunjukkan bahwa kartu identitas diberikan kepada kaum imigran. Mereka kemudian diarahkan untuk memilih Barisan Nasional yang sedang dipimpin oleh Mahathir Muhammad.
Skandal pemilihan umum itu dikenal sebagai Proyek IC atau Proyek MM. IC adalah singkatan dari Identity Card atau kartu identitas, sementara MM adalah singkatan dari Mahathir Muhammad.
SIMON SIPAUN menceritakan kepada saya tentang proyek ini. Ia sekarang pension dari posisi Sekretaris Negara Bagian, jabatan tetringgi dalam birokrasi Sabah.
“Awalnya, tentu saja hal ini didorong oleh Tun Mustapa karena factor ke-Islamannya. Menurut saya, dukungan dari pemerintah federal untuk menciptakan hegemoni Muslim di Sabah akan selalu ada. Hal ini untuk memastikan adanya pemerintahan yang dipimpin oleh orang Islam di sini.�
Skandal itu segera menjadi berita di Malaysia. Pejabat Sabah dan Komisi Hak Azasi Manusia menuntut agar kebenaran diungkapkan. Tetapi sampai saat ini, pemerintah tetap diam.
Pemerintah sekarang dan sebelumnya menolak untuk diwawancarai mengenai kasus ini. Tetapi dari hasil penyelidikan saya, pemberian kartu identitas ini tidak dipelopori oleh Mahathir.
Ada dua kasus serupa yang memakai pendekatan itu. Yang pertama adalah pendekatan partai Muslim Berjaya di tahun 1980an dan partai Kristen PBS pada awal tahun 90an.
Irvan, pemimpin menengah di partai UMNO mengatakan, ada metode lain yang digunakan untuk mendapatkan suara bagi Barisan Nasional. Hal itu dilakukan dengan menerbitkan ‘surat IC’. Dalam surat itu disebutkan bahwa orang yang memegangnya telah memenuhi syarat untuk mendapatkan kartu identitas.
“Saat masa pemilihan umum sudah dekat, berikan dokumen pada para imigran gelap dan suruh mereka untuk memilih. Mereka sangat bahagia. “Ini kartu Anda, pilih UMNO, pilih Barisan�. Dahulu bekas kepala Departemen Pendaftaran melakukan hal ini. Pilih imigran gelap, berikan mereka surat IC. Sehari sebelum pemilihan umum, para petugas pergi ke daerah perkebunan lalu membawa para pekerja imigran ke dalam bis. Kami menempatkan mereka ke dalam sebuah rumah, jumlahnya sekitar 200 sampai 300 orang. Kami memberikan mereka surat itu dan mengirim mereka ke pos pemungutan suara. Lalu kami mengirimkan mereka kembali ke perkebunan.�
Metode ini masih digunakan. Cara ini membantu Barisan Nasional untuk tetap berkuasa dan mereka tidak terburu-buru untuk meninggalkannya. (*)

Leave a Reply