MALAYSIA: Imigran Sabah dan Masa Depan Mereka
April 2nd, 2007 by Vanitha Nadaraj
Malaysia bertekad untuk meningkatkan operasi terhdap pekerja migrant illegal di negeri itu. Jumlahnya diperkirakan mencapai satu juta orang lebih. Kebanyakan bekerja di Sabah, Malaysia Timur. Meskipun para pekerja ini berperan besar dalam pembangunan Malaysia, terdapat kekahwatiran diantara warga sabah kalau suatu hari, wilayah itu akan diambil oleh kaum pendatang. Laporan Vanitha Nadaraj dari Sabah akan disampaikan oleh ANDRE NUGROHO.
Kedai kopi di Sabah Timur ini sesak dengan kaum pendatang dan anak-anak mereka. Orang-orang di kedai Lahad Datu ini berasal dari Filipina Selatan atau Bugis. Pria di samping saya datang ke sini 20 tahun silam dan punya kartu identitas Malaysia. Anaknya yang sudah beranjak remaja pergi ke sekolah negeri. Sekarang, mereka menganggap diri mereka sebagai orang Malaysia.
“When there is a badminton game between Malaysia and Indonesia on TV, we support Indonesia but they support Malaysia.�
Perasaan seperti itu tidak asing lagi. Seperti anak-anak lainnya, mereka tumbuh sebagai warga Malaysia.
Dua pengemudi taksi ini bercakap-cakap di luar pusat pervenjaan di Kota Kinabalu. Hampir semua pengemudi disini keturunan Indonesia, tetapi mereka punya kartu identitas Malaysia. Banyak pekerjaan yang didominasi oleh kaum pendatang, seperti di perkebunan, konsutruksi dan pabrik.
Konsulat Jendral Indonesia, DIDIK EKO PUJIANTO mengatakan para pekerja tersebut memiliki pekerjaan yang berbahaya, sulit dan kotor. Jenis pekerjaan yang dijauhi oleh warga lokal.
Setiap hari, kantornya dipenuhi oleh orang Indonesia yang datang untuk mengadukan kondisi kerja yang buruk, atasan yang kasar dan rendahnya bayaran yang mereka terima.
Salah satu diantaranya adalah Marina. Ia mengaku ditipu untuk datang kesini dari rumahnya di Sulawesi Selatan. Ia mengira akan mendapatkan gaji yang lebih baik di sebuah pabrik udang.
“In Indonesia, it was agreed that the salary would be RM 350. However once I got here, I was only given RM60 a month. I complained to my agent in Indonesia and he just said come back to Indonesia and we can work out the problem,�
Marina keluar dari pekerjannya dan sedang mencari yang baru.
Hidup disini berar, tetapi orang masih berdatangan dan banyak pula yang berhasil. Imigran yang datang tanpa uang sepeser pun dapat kembali dengan hasil kerja mereka di negeri jiran.
Pengusaha Sabah bernama John menceritakan tentang sebuah keluarga yang pulang seperti itu di suatu malam.
“Sebuah keluarga beranggotakan enam orang membawa TV, radio dan semua barang yang mereka beli disini. Mereka membawanya ke perahu motor dan berangkat ke Filipina jam delapan malam. Pelabuhan terdekat dari sini adalah Bungau,�
Hanya 10 kilometer dari tempat keluarga ini berlabuh, terletak Kampung Paris. PARIS adalah singkatan dari Penempatan Anak Perantau Indonesia Sabah. Orang yang tinggal disini adalah orang Indonesia. Banyak dari mereka yang telah berhasil. Hal itu terlihat dari jajaran mobil mewah yang berbaris di jalanan.
Di wilayah ini, warga pendatang mendominasi.
Ada juga wilayah pendatang lain yang cukup terkenal, seperti Pulau Gaya dan Telipok di Kota Kinabalu.
Wilayah kumuh dimana warga lokal enggan untuk datang juga ada. Bahkan polisi pun takut untuk datang kesana.
SIMON SIPAUN adalah bekas pejabat tinggi di Sabah. Ia menceritakan sebuah insiden yang terjadi beberapa tahun lalu. Persitiwa itu berdampak besar terhadap dan masih terus diingat oleh warga lokal.
“Banyak orang yang masih ingat insiden itu. Mereka datang dari Filipina, kalau tidak salah. Mereka datang dengan perahu. Anda tahu, LAHAD DATU dekat dengan laut. Mereka memakai seragam dan membawa senjata, jadi warga lokal menyangka dia adalah angkatan bersenjata Malaysia. Mereka lalu pergi ke kedai kopi, menaruh senjata di samping mereka dan minum. Mereka kemudian pergi ke bank, merampoknya dan menembakkan senjata. Saya rasa, ada yang tewas saat itu,�
Ia menambahkan, ada kekhawatiran kalau Sabah akan menjadi tidak terkendali jika kaum pendatang dibiarkan datang dan pergi dengan bebas.
“Polisi mengatakan ada banyak kejahatan yang terkait dengan orang-orang ini. Departemen Kesehatan mengatakan, sekitar 30% orang yang datang ke rumah sakit kami adalah pendatang. Kebanyakan dari mereka memabwa penyakit menular. Banyak dari mereka yang tidak punya deokumen resmi dan pergi dari rumah sakit tanpa membayar. Jika Anda bepergian di malam hari, terutama di Kota Kinabalu atau kota besar lainnya di Sabah, Anda tidak akan merasa aman. Ada banyak copet dan tindak criminal lainnya,�
Politikus dari partai UMNO [baca:AMNO] mengatakan, ada kecemasan diantara warga Sabah tentang tujuan para pendatang. Ia mengunjungi Filipina Selatan dan mengklaim, para imigran sering dimanfaatkan menjadi mata-mata.
“Di Filipina Selatan, ada yang meminjamkan perahu untuk informasi. Warga pendatang dipinjamkan perahu untuk mengumpulkan informasi, keluar-masuk Sabah. Setiap kali menyetor informasi, jumlah pinjaman yang harus dibayar mengecil, sampai perahu itu lunas. Mengapa Filipina tertarik kepada Sabah? Sabah masih belum aman. Kita tidak bisa diam dan membiarkan hal ini terjadi,�
Klaim yang dibuat oleh pemimpin UMNO sangat sulit untuk diperiksa. Bagaimanapun, pernyataan itu mengungkapkan kekhawatiran warga Sabah kalau suatu hari tanah mereka akan jatuh ke tangan orang imigran atau Filipina.
Bukan kaum pendatang saja yang mengubah wajah Sabah. Dalam waktu 30 tahun, jumlah penduduk Melayu di Sabah meningkat lima belas kali lipat.
Etnis Melayu bukanlah warga asli Sabah. Mereka merupkaan ras dominant di semenanjung Malaka, tapi tidak ada migrasi besar-besaran dari wilayah semenanjung ke Sabah.
Minggu depan, VANITHA NADARAJ akan menyelidiki bagaimana kaum migran digunakan oleh kalangan politisi untuk memperoleh kekuasaan. (*)

Leave a Reply