Pembakaran Masjid-Terancamnya Kebebasan Beragama Di Indonesia

May 3rd, 2008 by Rebecca Henschke  Print This Post/Page
 

Indonesia_Ahmadiyah_rebecca__web_.JPGPenganiayaan terhadap anggota kelompok Ahmadiyah makin meningkat di Indonesia.

Pekan ini, ratusan orang membakar Masjid mereka di Jawa Barat.

Penyerangan ini merupakan kekerasan terbaru pada kelompok yang saat ini anggotanya mencapai 200ribu di seluruh Indonesia.

Ini menyusul himbauan Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk melarang kelompok tersebut.

Badan itu mengatakan mereka telah “menyimpang dari prinsip-prinsip Islam” karena tidak menganggap Muhammad sebagai nabi terakhir.

Wisnu Subroto dari Bakorpakem mengatakan mereka akan dihukum.

“Ini kan ada aspek hukumnya. Kalau mereka sudah dibubarkan ternyata mereka tetap melakukan kegiatan ini, itu kena 156, yaitu KUHP penodaan agama. Ancamannya lima tahun. Ini konsekuensinya. Oleh sebab itu urutan-urutan itu harus dilalui. Masa nanti 10 juta orang kita masukin ke penjara. Ini ada proses. UU juga minta proses ini dilakukan.”

Sebelum Ahmadiyah dibubarkan, ternyata komunitas itu telah mengalami banyak kekerasan.

Rebecca Henschke melaporkan dari Jawa Barat. Dibacakan Vitri Angreni.

Lima pria berlutut menghadap Mekah dan berdoa di bilik sempit bercat putih.

Diluar, berjaga puluhan polisi. Pria yang tengah bersembahyang itu berasal dari kelompok Ahmadiyah yang anggotanya mencapai 400 orang di wilayah itu.

“Kami dihantui ketakutan bila polisi meninggalkan tempat ini, orang-orang itu akan menyerang kami lagi. Polisi tak bisa selamanya melindungi kami dan orang yang membakar Masjid kami masih berkeliaran.”

Tak perlu jauh-jauh untuk mengetahui mengapa mereka ketakutan.

Di Masjid seberang jalan, seorang perempuan bersama anak-anaknya mengatakan mereka dibubarkan karena dianggap melanggar hukum.

Diujung jalan desa Parakan Salak dapat kita lihat di sebelah kiri adalah Masjid Ahmadiyah.

Masjid itu tinggal kerangka. Pecahan genteng berserakan di tanah. Kayu pintu dan jendela habis terbakar. Bau kertas dan kayu terbakar pun masih kuat tercium. Di sebelah kanannya ada Madrasah bagi anak-anak Ahmadiyah yang juga dirusak.

Seorang anak menuliskan ayat Quran di tanah diantara pecahan kaca dan batu.

Pecahan kaca berserakan di mana-mana.

Polisi memeriksa delapan orang termasuk kepala desa terkait perusakan ini.

700 meter di kaki bukit ada Masjid At-Taqwa, di bagian depan Masjid ada tulisan “Kembalikan Ahmadiyah ke jalan Islam yang benar”.

Ustad Oman adalah Imam di sana.

Tegangan di desa yang terletak di sisi bukit yang indah ini merefleksikan apa yang terjadi di seluruh negri ini.

Ribuan orang terdiri dari perempuan, anak–anak dan laki-laki menyerukan “Bunuh dan Bubarkan Ahmadiyah” dalam aksi protes di ibukota Jakarta.

Yanto, pengikut Ahmadiyah yang berada diantara para pemrotes mendengarnya langsung.

“Saya tidak tahu bagaimana menggambarkan rasa takut saya. Mereka ingin bunuh kami. Saya takut dibunuh. Saya dengar sendiri mereka bilang darah Anggota Ahmadiyah halal. Saya menangis dalam hati mendengar ini.”

Di bawah tekanan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Presiden Indonesia sedang mempertimbangkan pelarangan kelompok Ahmadiyah.

Bekas Presiden, Abdurrahman Wahid mengatakan pelarangan itu melanggar konstitusi.

“Pokokya UU kita menjamin hidupnya Ahmadiyah. Mau ajaran apa, terserah. Bagaimana melanggar islam? melangar islam kan kata MUI. Tanyaian aja yang lain. MUI juga bagi perspektif Ahmadiyah juga melanggar? Iyah. Bukan sesat saja. Sesat dan menyesatkan.”

Dua organisasi Muslim terbesar di Indonesia, Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah juga menentang pembubaran ini.

Cendekiawan muslim, Pendiri Maarif Institute, Syafii Maarif menilai agama tidak bisa dijadikan landasan melakukan kekerasan terhadap orang lain.

“Agama tidak bisa dipakai untuk melakukan kekerasan terhadap siapa saja. Bahkan saya berpendapat sangat ekstrim, yang ateis saja harus dilindungi. Ateis yang tidak percaya kepada Tuhan tapi mereka menjalankan konstitusi harus dilindungi. Apa hak kita membunuh mereka, menganiaya mereka, membunuh mereka, mengusir mereka. Di planet bumi ini semua mahkluk kok yang beriman dan tidak beriman.”

Dunia internasional terus memantau perkembangan kasus ini.

Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, Indonesia kerap dijadikan contoh keberhasilan demokrasi dan keberagaman beragama.

Penulis Muslim Amerika, Irshad Manji, saat berkunjung ke Indonesia, prihatin identitas ini akan hilang.

“Indonesia kehilangan identitasnya sebagai bangsa yang majemuk serta mengalami kemunduran, seperti kondisi di Saudi Arabia. Indonesia adalah sumber pemimpin baru di antara dunia Muslim namun Indonesia belum memaksimalkan ini untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin berjiwa pluralis. Bagi saya ini sebuah tragedi besar.”

Kembali ke desa Parakan Salak, anak-anak Ahmadiyah melafalkan Al Quran didepan Masjid mereka yang terbakar.

Mereka bilang takut dan sedih bila sekolahnya dirusak karena tak ada tempat lagi untuk belajar.

Mereka terlalu muda untuk mengerti mengapa.

Leave a Reply

 


ON AIR THIS WEEK
 

Topan Burma Menundukkan Militer Burma: Korban tewas akibat topan Nargis di Burma terus bertambah. Menurut pekerja kemanusiaan, jumlahnya  mencapai 20 ribu orang dan ribuan lainnya luka-luka. Ada kekhawatiran angka ini terus bertambah akibat kolera dan penyakit bawaan air lainnya yang menyebar diantara  penduduk yang kehilangan tempat tinggal, yang mencapai  dua juta orang. Militer Burma berada ditekan Perserikatan Bangsa Bangsa agar membiarkan pekerja  kemanusiaan bekerja tanpa batas menangani bencana ini. Koresponden kami  melaporkannya untuk Anda.

Para Pelajar Kamboja Putus Sekolah Karena Tak Lagi Menerima Bantuan WFP :  Persediaan beras dunia kian berkurang dan berada di titik terendah  dalam  20 tahun belakangan ini.   Alhasil, harganya melonjak  lebih dari dua kali lipat  sejak awal 2008. Jurubicara Badan Pangan Dunia (WFP), Paul Risley mengatakan orang yang paling miskin akan kelaparan,  karena badan itu  tak sanggup memebeli beras.  Sejak bulan ini, WFP menghentikan pengiriman sarapan gratis untuk setengah juta anak sekolah Kamboja. Sorn Sarath dari  Radio of Democracy (VOD) mengunjungi salah satu sekolah itu,  dan mencari tahu dampakbya pada mereka.


 

RELATED POSTS