Filipina Mensahkan Undang-Undang Obat Murah

May 3rd, 2008 by Madonna Virola  Print This Post/Page
 

Phillipines Cheaper Medical (web)_1.JPGFilipina tercatat sebagai salah satu negara termiskin di Asia.

Dalam kondisi seperti ini, harga obat-obatan juga mahal.

Data Badan Kesehatan Dunia WHO menyebut Filipina merupakan negara kedua termahal harga obat-obatannya.

Menyikapi ini, pemerintah menerbitkan Undang-undang baru yang diharap dapat mengubah kondisi ini.

UU yang disahkan minggu lalu ini, memungkinkan perusahaan lokal membuat versi generik obat mahal yang dibuat perusahaan multinasional.

Toko obat juga diharuskan menjual produk ini sehingga perusahaan farmasi besar tidak bisa memaksa toko obat hanya menjual obat mereka.

Madonna Virola menelusuri apakah peraturan baru ini membawa perubahan hidup orang miskin Filipina.

Dibawakan Doddy Rosadi.

Marie tiba di rumah terakhir di jalanan kotor yang melintasi pertanian di pinggiran kota Calapan.

Patung Bunda Maria besar berdiri di depan rumah.

Marie datang ke sini untuk menyembuhkan sakit perut akutnya.

“Saya menghabiskan banyak uang berobat di rumah sakit tapi tidak sembuh juga. Tabib di sini sangat ramah dan biayanya terserah pada kami.”

Di dalam, Lorna Brucal yang telah 15 tahun mengobati, meletakkan jarinya di belakang perut Marie.

“Saya memberi resep jamu dan menyuruhnya berdoa. Kami hanya mengajarkan proses. Daripada membeli obat, lebih baik uang mereka untuk beli makanan. Banyak orang miskin datang ke sini.”

Meroketnya harga makanan, membuat orang miskin harus memilih antara obat-obatan atau makanan.

Untuk mengurangi penderitaan itu, Kongres mensahkan UU tentang Obat Murah.

Ini memungkinkan perusahaan lokal membuat versi generik obat mahal yang dibuat perusahaan multinasional.

Impor obat juga dimungkinkan jika harganya di negara lain lebih murah.

Namun pasal soal dokter hanya menuliskan resep obat generik, dihapuskan di saat terakhir.

Perusahaan obat besar dan pekerja di bidang kedokteran menolak pasal ini.

Dr. Lynn Mejico, seorang ahli dermatologi dan bekas presiden asosiasi dokter.

“Versi ini lebih baik. Memang ada reaksi keras dari komunitas kedokteran dan asosiasi rumah sakit. Terutama adanya ketentuan supaya tidak mencantumkan merek tapi hanya nama generik. Menurut mereka ini tidak adil.”

Tapi Consuelo Salamanca dari Asosiasi Farmasi Filipina percaya pemerintah tunduk pada tekanan perusahaan obat.

Dia ingin melihat obat generik dipromosikan sebagai pilihan terbaik.

“Obat generik atau bermerek bahannya sama. Masyarakat bisa berhemat dengan obat generik namun masih ada anggapan makin mahal obat makin manjur. Ini harus diubah.”

Pemerintah meminta apotik menjual semua obat generik namun para pembeli mengeluh hanya 12 jenis obat yang tersedia.

Nelda Ibon sedang membeli obat bermerek di apotik swasta di kota Calapan.

Dia tak pernah dengar soal obat generik.

“Jika benar ada obat generik yang lebih murah, saya akan konsumsi obat itu.”

Dengan kuatnya perusahaan farmasi yang dilindungi para dokter, banyak orang Filipina sinis UU baru ini membawa perubahan.

Don Encarnacion, seorang guru ilmu politik setempat.

“Sangat tergantung kemauan politik pemerintah melaksanakan UU baru ini. Tapi banyak UU bagus yang kita miliki tidak pernah dilaksanakan.”

Leave a Reply

 


ON AIR THIS WEEK
 

Topan Burma Menundukkan Militer Burma: Korban tewas akibat topan Nargis di Burma terus bertambah. Menurut pekerja kemanusiaan, jumlahnya  mencapai 20 ribu orang dan ribuan lainnya luka-luka. Ada kekhawatiran angka ini terus bertambah akibat kolera dan penyakit bawaan air lainnya yang menyebar diantara  penduduk yang kehilangan tempat tinggal, yang mencapai  dua juta orang. Militer Burma berada ditekan Perserikatan Bangsa Bangsa agar membiarkan pekerja  kemanusiaan bekerja tanpa batas menangani bencana ini. Koresponden kami  melaporkannya untuk Anda.

Para Pelajar Kamboja Putus Sekolah Karena Tak Lagi Menerima Bantuan WFP :  Persediaan beras dunia kian berkurang dan berada di titik terendah  dalam  20 tahun belakangan ini.   Alhasil, harganya melonjak  lebih dari dua kali lipat  sejak awal 2008. Jurubicara Badan Pangan Dunia (WFP), Paul Risley mengatakan orang yang paling miskin akan kelaparan,  karena badan itu  tak sanggup memebeli beras.  Sejak bulan ini, WFP menghentikan pengiriman sarapan gratis untuk setengah juta anak sekolah Kamboja. Sorn Sarath dari  Radio of Democracy (VOD) mengunjungi salah satu sekolah itu,  dan mencari tahu dampakbya pada mereka.


 

RELATED POSTS