Ledakan Investasi Hijau Di Cina
May 3rd, 2008 by Elise Potaka
Cina adalah negara penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia saat ini.
Seiring membaiknya kesejahteraan penduduk, kebutuhan energi pun meningkat.
Lembaga Energi Internasional memprediksi produksi listrik Cina akan meningkat dua kali lipat dalam 10 tahun mendatang.
Ini membuat tekanan pada lingkungan makin besar.
Tapi ada yang melihat hal ini sebagai peluang mengeruk keuntungan.
Laporan soal ini disampaikan Elise Potaka. Simak laporannya bersama Sutami.
Walau Cina belum memasuki musim panas, temperatur mencapai 20 derajat celcius. Ini membuat warga Cina mulai menghidupkan pendingin ruangannya.
Pembangkit listrik tenaga batubara memasok 70 persen listrik Cina dan banyak kota di negara itu harus berjuang memenuhi ketersediaannya.
Tapi tuntutan ini menawarkan kesempatan unik. Di mana solusi masalah lingkungan ada, di situ ada celah mendapat uang.
Saat ini, industri teknologi ramah lingkungan atau ‘cleantech’ berkembang pesat dan investor dari seluruh dunia berebut keuntungan dari situ.
David Wu tengah beristirahat di lobi hotel Beijing.
Tahun lalu, perusahaan barunya, Netpower, mendapat kucuran investasi 92 milyar rupiah untuk membuat alat penyimpan energi.
“Dengan memakai alat penyimpan listrik, kita dapat menyimpan listrik selama bukan waktu beban puncak dan memakainya pada saat beban puncak.”
Mereka meningkatkan efisiensi energi dengan menempatkan unit penyimpan listrik ini di rumah dan kantor.
Penyimpan energi ini seperti baterai besar yang dapat menyimpan energi untuk digunakan sewaktu-waktu.
David Wu mengatakan mereka juga mempermudah pemasok listrik seperti PLTN menggunakan energi terbarukan.
Ini terjadi karena matahari dan angin bukan sumber energi tetap.
“Angin dan matahari bukan sumber energi stabil sehingga kerap menimbulkan masalah dalam penggunaannya. Dengan menggunakan penyimpan energi, kita dapat menstabilkan energi yang dihasilkan. Buangan yang bersih mengurangi emisi karbon yang timbul dibandingkan fasilitas pembakaran batubara.”
David Wu adalah salah seorang dari banyak pengusaha teknologi ramah lingkungan Cina.
Seperti yang lain, perusahaannya dibiayai invertor asing yang melihat proyek teknologi hijau di Cina dapat menghasilkan uang.
Investasi teknologi ramah lingkungan meningkat 150 persen antara 2005 dan 2006 di mana nilainya mencapai 4,5 triliyun rupiah.
Jim Mahoney, Direktur Utama Kelompok Cleantech Cina.
“Kami membentuk komunitas yang terdiri dari investor, perusahaan dan pengusaha yang peduli dengan teknologi ramah lingkungan dan mengkoordinir mereka.”
Kelompok Cleantech menghubungkan investor dengan proyek teknologi ramah lingkungan yang menguntungkan dan bermanfaat bagi lingkungan.
Kelompok ini memiliki anggota 8000 investor dan 6000 perusahaan.
Menurut Jim Mahoney, ini bukan sekedar soal menghemat energi.
“Penerapan air untuk konservasi dan usaha daur ulang adalah hal penting. Ini bukan gebrakan baru tapi satu metode menarik di mana menggabungkan teknologi yang sudah ada menjadi proses inovatif. Ini kemudian diaplikasikan di pembangkit listrik tenaga limbah yang 15 persen lebih efisien. Soal plastik yang bisa diurai adalah hal lain…saya kira ini sangat menarik!”
Di sisi lain, ada keprihatinan soal perkembangan pesat teknologi ramah lingkungan ini.
Investor sebenarnya bisa memilih antara teknologi lebih bersih atau paling bersih.
Contohnya, investor memilih berinvestasi mengurangi emisi pembangkit tenaga listrik batubara dari pada berinvestasi pada pembangkit energi terbarukan.
Di kantor Greenpeace di Beijing, para aktivis mulai mengkampanyekan investasi hijau baru.
Man Kei Tam mengatakan mereka menggunakan beberapa stategi menyakinkan investor dan perusahaan untuk berinvestasi pada pilihan yang paling ramah lingkungan.
“Kami membujuk investor mengalihkan investasi dari pembangkit listrik tenaga nuklir atau batubara kepada sumber energi terbarukan seperti angin dan matahari yang dalam 15 tahun ke depan akan berkembang pesat.”
Misi lain Greenpeace adalah meyakinkan lebih banyak investor lokal kembali ke teknologi ramah lingkungan.
Greenpeace mengatakan dengan menjaga lingkungan perekonomian pun terjaga.
“Lingkungan bisa jadi resiko bagi mereka. Anda lihat di Cina, jika pabrik mencemari sungai, maka pabrik itu akan ditutup, izin mereka dibekukan, didenda triliunan rupiah dan ujung-ujungnya mempengaruhi pendapatan. Ini soal ekonomi tidak hanya moralitas.”
Jika ini tidak mengubah prilaku investor lokal, maka menurut Man Kei Tam, mengajak investor dan pengusaha bicara soal potensi mendapatkan keuntungan, juga adalah cara yang baik.
“Jika Anda melihat ini sebagai peluang bukan resiko, maka ada banyak sektor berpotensi. Teknologi ramah lingkungan dalam dua tiga tahun terakhir meningkat dua kali lipat.”
Lingkungan menjadi fokus utama pemerintah Cina saat ini.
Tahun lalu, mereka berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca dan polusi air besar-besaran sebelum 2010.
Tahun ini mereka membentuk Kementrian Lingkungan.
Investor melihat ini sebagai lampu hijau dalam investasi proyek hijau Cina.

Leave a Reply