Revolusi Para Blogger

May 3rd, 2008 by Clarence Chua  Print This Post/Page
 

Malaysia_blogger__web_.JPGPemilu yang baru-baru ini digelar di Malaysia telah memperbaharui, istilah revolusi internet.

Beberapa bloger menjadi kandidat dari pihak opoisi, sementara yang lainnya berkampanye menentang pemerintah pada ribuan orang di seluruh negeri itu.

Akibatnya, untuk kali pertama hasilnya jauh berbeda dari sebelumnya.

Pemerintah berkuasa, Barisan Nasional mempertahankan kekuasaannya dengan kemenangan tipis sebanyak 51 persen.

Kini, Menteri Informasi yang baru berencana untuk bertarung lewat dunia maya.

Namun, para blogger mengatakan hal itu sudah terlambat.

Simak laporan Clarence Chua yang dibawakan oleh Riska Firdani.

Kebebasan media di Malaysia sangat terbatas.

Partai berkuasa, Barisan Nasional masih mengawasi secara ketat semua perusahaan media yang besar.

Bahkan, pemantau media internasional ‘Reporters Without Borders’ atau Reporter Tanpa Batas, menempatkan Malaysia di bawah negara Sierra Leone dan Kamboja.

Wani adalah salah satu reporter harian lokal bahasa Inggris.

“Biasanya para reporter tidak boleh bekerja independen. Mereka membatasi diri karena perusaahan surat kabar tempat mereka bekerja, punya hubungan politik. Jadi tidak boleh ada pemberitan yang bisa membuat pemerintah kelihatan buruk. Sementara, surat kabar yang lebih kecil dan dalam bahasa lokal juga punya koneksi politik. Selalu ada hal-hal yang ditutup-tutupi. Izin percetakan selalu tidak diperpanjang dan mereka bisa bermasalah karena Undang-Undang Rahasia Negara. Mereka yang saya maksud adalah para editor dan jurnalis yang terkait.”

1997 silam, ketika bekas wakil perdana menteri, Anwar Ibrahim dipecat dan kini menjadi pempimpin de fakto oposisi-situs baru seperti Malaysia kini menjamur.

Dan setelah teknologi blogging gratis, berbagai blog vokal seperti Screenshots dan Malaysia Today menjadi media yang berpengaruh, terutama di kalangan kelas menengah di perkotaan.

Kini, para blogger menjadi politisi.

Jeff Ooi dari Screenshots adalah kandidat dari partai Democratic Action Party atau Partai Tindakan Demokratis.

Ia memenangkan 16.000 suara mayoritas.

“Waktu saya mulai menulis situs blog saya lima tahun lalu, saya tidak menyangka kalau suatu hari nanti blogging menjadi menjadi hal yang besar. Kemudian 2006 silam, para jurnalis veteran mulai menulis blog dan ini menjadi titik yang menentukan. Media yang baru ini, bisa menjadi alat yang kuat untuk mempengaruhi publik dan mendorong perubahan.”

Sementara itu, Menteri Informasi yang baru, Ahmad Shabery Cheek terpaksa mengakui pihaknya meremehkan kekuatan internet.

Kini ia berencana memenangkan para pemilih lewat dunia maya.

Bahkan, beberapa menteri dari Barisan Nasional telah membuat blog masing-masing.

Namun blogger veteran Rocky mengatakan mereka harus bekerja keras supaya masyarakat kembali mendukung pemerintah.

“Pihak oposisi sudah lama menggungakan blog. Blog menjadi elemen yang besar pada pemilu 1999 yang lalu. Setelah itu mulai mati dan ada blogger seperti Jeff Ooi dan Sangkancil. Tapi mereka tidak membuat sebuah gerakan atau bersatu. Baru setelah tuntutan hukum Januari 2007 lalu, para blogger di luar lingkungan politik, bersatu. Pemerintah harus memperbaiki kerusakan yang terjadi selama 10-11 tahun belakangan. Selama dua tahun ini, kami melihat pemerintah, para menteri, dan pemimpin partai mengejar para blogger tanpa alasan. Sekarang, pemerintah yang tadinya anti blogger, menjadi pemerintah yang mendukung atau malah ramah dengan blogger. Perubahan yang cepat ini hanya akan membuat masyarakat curiga.”

Wani yakin untuk menangkal dampak blog yang menentang pemerintah, aparat setempat harus melepaskan cengkramannya pada media umum.

Pemerintah harus menciptakan suasana kebebasan pers. Tapi kemudian timbul masalah, seberapa besar kebebasan itu? Pemerintah harus siap menyebarkan banyak informasi yang tidak biasanya mereka sebarkan lewat media massa umum.“

Sementara itu Jeff ingin memperluas jangkauan blog.

“Kami tidak hanya ingin bicara dengan orang-orang yang sudah berubah pendiriannya. Tapi ingin melebarkan sayap. Memenangkan hati mereka yang terputus dari dunia internet. Itu yang menjadi fokus saya.”

Nampaknya, revolusi blogger di Malaysia telah dimulai dan bakal berlanjut di masa mendatang.

Leave a Reply

 


ON AIR THIS WEEK
 

Topan Burma Menundukkan Militer Burma: Korban tewas akibat topan Nargis di Burma terus bertambah. Menurut pekerja kemanusiaan, jumlahnya  mencapai 20 ribu orang dan ribuan lainnya luka-luka. Ada kekhawatiran angka ini terus bertambah akibat kolera dan penyakit bawaan air lainnya yang menyebar diantara  penduduk yang kehilangan tempat tinggal, yang mencapai  dua juta orang. Militer Burma berada ditekan Perserikatan Bangsa Bangsa agar membiarkan pekerja  kemanusiaan bekerja tanpa batas menangani bencana ini. Koresponden kami  melaporkannya untuk Anda.

Para Pelajar Kamboja Putus Sekolah Karena Tak Lagi Menerima Bantuan WFP :  Persediaan beras dunia kian berkurang dan berada di titik terendah  dalam  20 tahun belakangan ini.   Alhasil, harganya melonjak  lebih dari dua kali lipat  sejak awal 2008. Jurubicara Badan Pangan Dunia (WFP), Paul Risley mengatakan orang yang paling miskin akan kelaparan,  karena badan itu  tak sanggup memebeli beras.  Sejak bulan ini, WFP menghentikan pengiriman sarapan gratis untuk setengah juta anak sekolah Kamboja. Sorn Sarath dari  Radio of Democracy (VOD) mengunjungi salah satu sekolah itu,  dan mencari tahu dampakbya pada mereka.


 

RELATED POSTS