Korban Selamat Musibah Industrial Terburuk Di Dunia Menuntut Keadilan

May 3rd, 2008 by Bismillah Geelani  Print This Post/Page
 

India_bhopal_protest_union_carbide_bg.jpgTragedi Bhopal pada 1984 silam, merupakan musibah industrial terburuk di dunia.

Pada pagi 2 Desember 24 tahun lalu, ratusan ton gas beracun bocor dari sebuah pabrik pestisida.milik perusahaan Amerika Serikat.

Hampir delapan ribu orang tewas seketika. Dua puluh tiga tahun berlalu, para korban yang selamat masih terus memperjuangkan keadilan.

Kini mereka berdemo di New Delhi, menuntut pemerintah India memberikan perawatan kesehatan dan mengadili pihak yang bertanggung jawab.

Bismillah Geelani mengikuti salah satu unjuk rasa itu, dan laporannya disampaikan oleh Fia Anwar.

Di bawah terik matahari 200 warga Bhopal bernyanyi “Mari kita berjuang, untuk menghapus kepedihan.”

Mereka telah duduk dekat gedung parlemen India, sejak akhir Maret lalu, di tengah panas 40 derajat.

Mereka adalah para korban yang selamat dari musibah industrial terbesar di dunia, yang dikenal sebagai Tragedi Gas Bhopal 1984.

Sebagian datang ke lokasi demonstrasi dengan berjalan kaki sejauh 8000km dari Bhopal. Salah satunya, Hajira Bee, 55 tahun.

“Pada 2006 silam, Perdana Menteri berjanji akan memberikan pekerjaan, perawatan kesehatan yang lebih baik, dan air minum untuk para korban yang selamat. Tapi sejauh ini, mereka belum melakukan apa-apa.”

Mimpi buruk Hajira Bee terjadi 2 Desember 1984 lalu.

Pagi itu, ratusan ton gas beracun bocor dari pabrik pestisida milik perusahaan Amerika, Union Carbide.

Kejadian menewaskan hampir 8000 orang seketika.Beruntung, Hajira Bee selamat.

“Orang-orang berteriak….’cepat lari!’ Tiba-tiba mata kami terasa panas dan kami mulai batuk-batuk. Rasa panas itu kemudian menyebar dan terasa sangat pedih, seperti ada cahaya kuning dalam tubuh kami …Kejadian itu mengerikan sekali.Mayat-mayat bergelimpangan, orang-orang sibuk mencari sanak saudara mereka. Hal yang terakhir saya terlihat adalah, polisi menumpukkan mayat-mayat di atas trotoar. Setelah itu saya pingsan.“

Dua puluh tiga tahun kemudian, para korban selamat masih belum pulih dari penyakit yang mereka derita akibat bencana itu.

Rachna Dhingra adalah sekretaris Sambhavana Trust, sebuah LSM yang menyediakan perawataan kesehatan gratis untuk masyarakat setempat.

“Masalah umum pada orang yang terkena gas adalah rasa nyeri di persendian, kecemasan, trauma, sering panik dan semua kelainan pernafasan sertaparu-paru. Gas itu juga menyerang sistem endokrin perempuan. Akibatnya, sebagian tidak menstruasi secara teratur, dan bahkan mengalami menopause pada usia 30 tahun.“
Dhingra mengatakan, limbah beracun masih ditemukan di pabrik terlantar yang terletak di Bhopal.”

Menurut dia, limbah itu telah mencemari air, sehingga mengancam kesehatan para warga.

“Union Carbide meninggalkan lebih dari 10 ribu ton limbah beracun di belakang pabrik. Limbah itu diserap air tanah, dan mencemari air yang dikonsumsi oleh lebih 20 ribu orang. Tapi sampai sekarang, anak-anak yang tinggal di daerah ini, tidak mendapatkan perawatan kesehatan gratis atau uang pensiun.”

2001 lalu, perusahaan berbasis di Amerika Serikat, Dow Chemicals, membeli perusahaan Union Carbide.

Para pendemo menuturkan, Dow semestinya juga bertanggungjawab atas musibah itu serta segala dampaknya.

Sementara itu, Satinati, kepala Group of Information and Action atau Kelompok Informasi dan Aksi Bhopal, menyuarakan tuntutan para korban yang selamat.

“Perusahaan Union Carbide seharusnya dihukum. Mereka menghindari pengusutan di pengadilan. Dow Chemicals, pemilik pabrik saat ini, harus bertanggungjawab atas rusaknya kesehatan dan lingkungan di dalam maupun sekitar pabrik, serta membayar kompensasi. Kami meminta komisi nasional, untuk memberikan perawatan kesehatan jangka panjang, dan rehabilitasi untuk para korban selamat.”

Namun, Dow Chemicals menolak bertanggungjawab. Mereka mengatakan, ketika membeli perusahan itu, tidak mewarisi tanggungjawab Union Carbide.

Menurut mereka, nasib para korban selamat ada di tangan pemerintah India dan aparat lokal negara bagian Madhya Pradesh.

Sementara itu, pemerintah lokal mengaku berupaya sekuat tenaga untuk membantu para korban selamat itu.

Seperti yang diungkap M. K. Varshney, Kepala Bhopal Gas Tragedy Relief and Rehabilitation Department atau Departemen Bantuan dan Rehabilitasi Tragedi Bhopal.

“Mereka sudah mendapatkan ganti rugi, sesuai keputusan pengadilan. Para korban juga mendapatkan perawatan kesehatan gratis. Bahkan, kami memberikan perawatan untuk enam ribu orang per hari. Ini sekadar gambaran seberapa besar perawatan kesehatan yang kami sediakan untuk mereka. Kami melakukan apa saja yang kami mampu lakukan.”

Namun, itu tidak cukup bagi para pendemo dan pendukung mereka di New Delhi.

Sejumlah aktivis sosial, pemerhati politik, pengacara dan pelajar ikut berdemo bersama mereka.

Seperti Nusrat, pelajar kelas 1 SMU, yang sangat simpati dengan mereka.

“Kami telah mendengar soal kejadian ini selama bertahun-tahun. Kami datang ke unjuk rasa ini karena kami merasa pemerintah masih berlaku tidak adil kepada para korban. Menurut kami, tuntutan mereka harus dipenuhi.

L.K. Atheeq petugas senior di Kantor Perdana Menteri mengatakan, telah mendengarkan keluhan mereka dan bakal menanggapinya.

“Semua tuntutan dan memorandum mereka sudah kami terima, dan kami tengah memeriksanya. Kami juga telah berkonsultasi dengan Kementriaan urusan kimia dan petro kimia. Sekretaris Kabinet juga akan menangani masalah ini.”

Sementara itu para pendemo mengatakan, mereka tidak akan pulang bila tuntutan belum dipenuhi.

Leave a Reply

 


ON AIR THIS WEEK
 

Topan Burma Menundukkan Militer Burma: Korban tewas akibat topan Nargis di Burma terus bertambah. Menurut pekerja kemanusiaan, jumlahnya  mencapai 20 ribu orang dan ribuan lainnya luka-luka. Ada kekhawatiran angka ini terus bertambah akibat kolera dan penyakit bawaan air lainnya yang menyebar diantara  penduduk yang kehilangan tempat tinggal, yang mencapai  dua juta orang. Militer Burma berada ditekan Perserikatan Bangsa Bangsa agar membiarkan pekerja  kemanusiaan bekerja tanpa batas menangani bencana ini. Koresponden kami  melaporkannya untuk Anda.

Para Pelajar Kamboja Putus Sekolah Karena Tak Lagi Menerima Bantuan WFP :  Persediaan beras dunia kian berkurang dan berada di titik terendah  dalam  20 tahun belakangan ini.   Alhasil, harganya melonjak  lebih dari dua kali lipat  sejak awal 2008. Jurubicara Badan Pangan Dunia (WFP), Paul Risley mengatakan orang yang paling miskin akan kelaparan,  karena badan itu  tak sanggup memebeli beras.  Sejak bulan ini, WFP menghentikan pengiriman sarapan gratis untuk setengah juta anak sekolah Kamboja. Sorn Sarath dari  Radio of Democracy (VOD) mengunjungi salah satu sekolah itu,  dan mencari tahu dampakbya pada mereka.


 

RELATED POSTS