KOREA UTARA : Tempat Yang Menyulitkan Wartawan; Negara Bagaikan Cerita ‘Alice in Wonderland’
April 24th, 2007 by Rebecca Henschke
Korea Utara, adalah negara yang paling tertutup di dunia. Bahkan kehidupan masyakarat setempat boleh dibilang masih misterius. Saking tertutupnya, para wartawan internasional jarang sekali masuk ke negeri itu.
Namun, pekan lalu, 70 wartawan dari seluruh dunia, diperbolehkan berkunjung ke Korea Utara. Bahkan, mereka sempat mengikuti tur selama tiga hari ke Gunung Kumgang dan kota Gaeseong. Tur bersejarah ini, diadakan oleh Federasi Jurnalis Korea, dan pemerintah Korea Selatan.
Rebecca Hencshke adalah salah satu jurnalis yang beruntung bisa mengikuti kegiatan tersebut. Laporannya akan mengajak kita ke Korea Utara. Laporannya akan disampaikan Citra Prastuti.
“Radio tidak boleh dibawa. Apa ada yang bawa alat perekam? Itu juga tidak boleh, termasuk HP, batre dan charger. Bendera seperti Amerika Serikat, Korea Utara dan Jepang dilarang. Jadi, Anda boleh bawa apa saja, selain barang-barang yang sudah disebutkan tadi,”
Inilah sederet daftar barang yang dilarang dibawa masuk ke Korea Utara.
Pemandu tur kami terlihat gelisah. Sambil berjalan di lorong bis, ia mengumpulkan barang-barang terlarang yang dibawa para jurnalis seperti : handphone, suratkabar, MP3, kamera, majalah dan kalender.
Sepanjang perjalanan, kami juga tidak boleh menyebut-nyebut nama Kim Jong-Il atau membicarakan Semenanjaung Korea yang terpisah.
Sekitar 300 meter setelah kami melewati pos militer Korea Selatan, kami melihat tentara Korea Utara yang pertama. Tentara itu mengenakan seragam yang mirip dengan tentara bekas negara Soviet. Lengkap dengan sebuah pin bergambar pemimpin negeri itu Kim-Jong Il, melekat di seragamnya.
Sekarang, kami berada di wilayah demiliterisasi. Di sebelah saya ada Dr Rudiger Claus Direktur Insitut Jurnalisme Internasional di Berlin. Sejak tahun 1982, ia sering berkunjung ke Pyongyang.
“Di Korea Utara semuanya jadi rahasia militer. Karena mereka merasa sangat terancam dengan militer Amerika Serikat dan Korea Selatan. Mereka selalu beranggapan musuhnya bukan Korea Selatan tapi Amerika Serikat. Mereka sangat terobsesi dengan negara itu. Jadi mereka merasa terancam dengan segala hal yang berasal dari negara itu. Bahkan di sekolah-sekolah mengajarkan musuh Korea Utara bukan Korea Selatan tapi Amerika,”
Selanjutnya kami melintasi kawasan yang belum tersentuh. Kawasan ini juga dipenuhi ranjau darat. Tidak seorangpun pernah menyentuh daerah ini selama 50 tahun terakhir.
Udara di dearah ini terasa sejuk. Saya memandang jauh daerah yang ada dihadapan saya. Disana hanya ada satu tentara yang berjaga. Tapi rupanya saya terlalu lama melihat daerah itu, sampai - sampai tentara yang berada di belakang saya bersiul, dan menatap tajam kearah saya. Pengemudi bis kemudian menyuruh saya menunduk.
“Peran militer di Korea Utara sangat penting. Mereka menjamin kedaulatan negara ini. Selama sepuluh tahun terkakhir ada kebijakan yang memprioritaskan tentara. Jadi kalau negara kekurangan apapun, mereka duluan yang harus dilayani. Dan banyak yang bilang, hal itu sudah biasa, karena rakyat sangat menyayangi tentara lebih dari apapun. Jadi mereka sangat bangga dengan kedaultan negaranya,”
Berbagai larangan di negeri ini sangat menyulitkan para jurnalis. Di pos pemeriksaan Korea Utara, semua kamera, alat perekam dan tas kami diperiksa. Komputer laptop dan kamera dilarang.
Bahkan ada jurnalis Italia yang sangat marah. Ia mengatakan kepada pihak berwajib, ia sebelumnya pernah ke Korea Utara, dan boleh merekam gambar dengan kameranya.
Tur ini bukan sekedar perjalanan liputan biasa, tapi sebenarnya merupakan simbol politik. Bahkan Korea Selatan harus menunggu berbulan-bulan untuk dapat izin supaya bisa mengadakan tur ini. Mereka sangat berharap, acara ini bisa memperbaiki hubungan
“Ini kali pertama begitu banyak jurnalis yang diperbolehkan masuk ke Korea Utara. Ini kujungan yang bersejarah. Ada sesuatu yang terjadi sementara kami ada disini. Ibaratnya kami hanya mengetuk pintu dan kira-kira dalam lima atau sepuluh tahun ke depan, akan ada lebih banyak jurnalis yang datang ke Korea Utara dan membuat semnanjung ini lebih damai,”
Akhirnya kami melintasi perbatasan. Disinilah, kali pertama kami melihat penduduk desa Korea Utara.
Jalanan terlihat kosong. Saya tidak melihat mobil atau truk satupun. Semua orang beriring-iringan berkendara sepeda. Tak lama, kami pun melewati peternakan besar. Di sana tampak seekor kuda menarik kereta yang digunakan untuk membajak sawah.
Pemandu tur kami mengatakan sisi positif Korea Utara. Yaitu, semua warganya diberikan rumah dan makanan setiap hari. Selain itu pendidikan SMA dan universitas, tidak dikenakan biaya. Sayang, kami tidak punya kesempatan sedikit pun untuk berbicara dengan penduduk desa.
Setelah kami melihat-lihat kawasan pedesaan, kami sampai di tempat wisata Gunung Kumgang.
Tempat wisata ini jauh berbeda dengan semua yang ada disekitarnya. Di kompleks ini, ada hotel berbintang delapan, spa, dan gedung pertujunkan. Tempat wisata ini merupakan proyek gabungan antara Korea Selatan dan Korea Utara, yang dibuka pada tahun 1996.
Di dalam gedung pertunjukkan itu, kami bergabung dengan warga Korea Selatan. Mereka datang ke sini sebagai turis dan ingin melihat, seperti apa Korea Utara.
Kami diajak ke pertunjukan akrobat Pyongyang. Pertunjukkan ini sangat menarik dengan gaya pertunjukkan khas bekas negara Soviet. Seperti kostum yang berwarna-warni, dan gerakan yang sangat memukau.
Korea Utara sangat terkenal dengan pertujunkkan ini. Ada yang mengatakan, semua murid disini belajar di sekolah kesenian. Mereka belajar musickdan akrobat tanpa biaya.
Dua pelawak naik ke atas panggung dan menarik salah satu penonton. Penonton itu adalah wartawan Korea Selatan.
Kedua pelawak itu menyuruhnya menangkap bola, tapi harus menggunakan keranjang yang ditaruh di atas kepalanya. Ternyata ia gagal terus dan penontonpun ketawa terbahak-bahak.
Setelah itu, ia memeluk kedua badut Korea Utara itu di atas panggung. Momen seperti ini jarang sekali terjadi.
Setalah pertunjukkan itu, jurnalis tersebut yaitu, Sung Hee, merasa terharu.
“Mereka mirip dengan adik perempuan atau saudara laki-laki saya. Sebelum kedua Korea reunifikasi, saya ingin bertemu dan berbicara dengan mereka lagi. Saya merasa sangat senang tapi saya sedih juga. Jadi saat ini saya merasa bahagia dan sedih di saat yang bersamaan,”
Momen ini juga terasa istimewa bagi para pemandu tur Korea Selatan yang datang ke negara ini untuk kali pertama.
“Situasi politik antara Korea Selatan dan Korea Utara sudah berubah. Limas tahun lalu waktu saya mulai pekerjaan ini, kami tidak pernah membayangkan kalau para warga bisa bergerak bebas dari Korea selatan ke Korea Utara seperti ini. Walaupun ini daerah wisata. Tapi yang paling penting yang kami harus ingat adalah kami semua berasal dari satu Korea,”
Dr. Claus mengatakan, selama beberapa tahun terakhir, ia melihat begitu banyak perubaahan di Pyongyang. Ia lebih bebas bepergian sendirian dan tahun lalu.. Setelah tur ini, ia akan mengajarkan fotografi digital kepada para jurnalis Korea Utara selama tiga minggu.
“Pelatihan ini akan menyiapkan mereka untuk yang masa depan. Saya yakin walaupun Korea Utara adalah negara yang miskin, sebentar lagi negara ini akan beralih ke foto digital. Pihak berwenang Korea Utara meminta saya untuk melatih para jurnalis dan saya senang bisa mememberikan pelatihan ini,”
Tapi ia menambahkan, para jurnalis hanya boleh mengambil foto yang sudah atur sebelumnya dan yang telah diizinkan negara. Di negeri ini tidak ada akses internet dan termasuk jaringan telekomunikasi untuk telepon genggam.
Perubahan di Korea Utara berjalan dengan sangat perlahan.
Seharusnya para jurnalis Korea Utara ikut dalam tur ini. Tapi mereka malah mendadak batal datang karena terlalu sibuk meliput negoisasi Korea Utara dan Amerika Serikat.

Leave a Reply