Dibalik Kamp Kelompok Pembebasan Islam Moro

January 1st, 2008 by Rebecca Henschke  Print This Post/Page
 

MILF_rebels_2__web_.JPGKelompok pemberontak terbesar Asia Tenggara, MILF, telah memperjuangkan negara otonomi Bangsamoro selama puluhan tahun di pulau Mindanao.

MILF mempunyai 12 ribu Mujahidin bersenjata yang mengatakan bahwa mereka sedang berjuang untuk mengambil kembali “tanah mereka.�

Rebecca Henschke mengunjungi salah satu kamp mereka di luar kota Cotabato untuk menggali apa yang para pejuang ini terima sebagai perdamainan, laporannya dibacakan Vivie Zapkie.

Kami saat ini berada di salah satu kamp, Darapanan, yang berada diantara hutan palem di kaki gunung. Kami bertemu sekitar 100 pejuang pemberontak dalam perjalanan menuju kamp tersebut.

Banyak diantaranya terlihat baru berusia 15 atau 16 tahun. Mereka berseragam militer dan membawa senjata semi otomatis.

Rex, seorang veteran perang berusia 45 tahun. Dia bergabung dengan pasukan pemberontak sejak usia 13 tahun.

“Ini adalah arti sebenarnya dari Jihad. Dimulai sejak zaman Marcos. Kami diserang militer selama masa Presiden Estrada. Banyak teman saya yang terbunuh. Sulit untuk hidup terpisah dengan keluarga saya tapi ini adalah pengorbanan yang harus dilakukan.�

Abdul, seorang prajurit muda, berjalan di sampingnya.

Dia berkata bergabung dengan gerakan ini saat berusia 12 tahun.

Saat ini dia sudah 23 tahun namun terlihat lebih muda. Abdul membawa senjata AK 47 buatan Rusia layaknya seperti prajurit professional dan mengikuti perintah komandannya dengan tenang.

Meskipun demikian dia terlihat malu dan menarik diri ketika sampai pada perbincangan mengapa dia ikut mengangkat senjata.

“Saya bergabung karena agama saya. Saya merasa harus melindungi masyarakat Bangsamoro dari penjajahan…yang mencuri tanah kami. Saya tidak takut.�

Dia menambahkan orangtua yang jarang ia temui, sangat bangga padanya. Juru bicara MILF, Eid Kabbalu, mengatakan di sini berjuang adalah sebuah tradisi keluarga.

“Bahkan anak kecil pun diajarkan bagaimana membawa dan menggunakan senjata, untuk mempersiapkan mereka untuk bertahan.�

Abdul mencapai akil baliq beberapa tahun lalu dan telah berjuang dalam beberapa pertempuran. Seribu prajurit pemberontak itu telihat tangguh, dipersenjatai lengkap dan terorganisir baik.

Mereka dengan bangga memperlihatkan senjata M-16 buatan Amerika, Ak 47-nya Rusia dan granat bermesin roket buatan Moro.

“Banyak senjata kami berasal dari militer. Tapi tidak secara langsung. Banyak orang yang mengambil keuntungan dari konflik ini. Pihak ketiga. Kami menggunakan jenis senjata yang sama dengan militer.�

Fasilitas kamp ini juga sangat minim di mana persediaan air dan listrik sangat terbatas.

Di sana ada pasar kecil dan pertanian yang dikelilingi pagar. Di tempat inilah para wanita menyiapkan makanan untuk para pejuang.

Anak-anak kecil berlarian tanpa baju diantara prajurit bersenjata lengkap, Al Mudik, 35 tahun salah satunya.

“Saya bergabung dengan jihad ini karena perintah Allah. Kami tidak menerima gaji atau pun bayaran. Tidak ada seorang pun yang mengajak kami berjihad selain Allah. Saya adalah prajurit Bangsamoro. Kami tidak keberatan hidup sulit karena kami hanya ingin perdamaian berdasarkan Al Quran. Ini berarti masyarakat Bangsamoro memiliki hak untuk mengontrol tanah mereka di Mindanao karena tanah kami dicuri dan dirampas dari kami.�

Di belakangnya berdiri Nora Ibrahim.

Saudara laki-laki, suami dan kedua anak lelakinya semua adalah mujahidin.

“Bahkan laki-laki tua pun bagian dari MILF. Beberapa dari kami terbunuh tapi itu adalah kehendak Allah. Kami bergabung dalam penderitaan dan perjuangan mereka. Orang berpikir apa yang dilakukan MILF itu salah tapi apa yang mereka perjuangkan adalah benar.�

Saat saya bertanya pada wanita itu apa yang dia inginkan, serempak mereka menjawab, Damai. “Bukankah itu yang semua orang inginkan? tanya mereka.

Ada rasa optimis perdamaian akan segera datang di kamp itu, dengan sedang berjalannya dialog damai antara pemerintah Manila dan sayap politik MILF.

Rex mengatakan mereka telah diberitahu atasannya bahwa kesepatan akan segera tercapai. Manila telah menerima permintaan pemberontak untuk menguasai apa yang mereka sebut sebagai tanah leluhur mereka, katanya.

Jika ini terjadi, dia ingin hidup tenang dengan keluarganya sebagai petani.

Dalam temaram cahaya, para pria melepaskan senjatanya dan masuk ke masjid.

Mereka berlutut menghadap Mekah dan berdoa untuk dikuatkan.

Kami kemudian bergerak keluar dari kamp itu.

Saat kami berjalan, seorang anak kecil lain mendekat untuk menceritakan mimpinya pada saya.

“Saya sangat ingin masuk universitas, tapi saya tidak punya uang, kami sangat, sangat miskin.�

Maka sebagai gantinya ia ingin jadi pejuang.

Para pria ini harus di beri kesempatan kerja dan alternatif cara hidup jika kesepakatan damai dapat tercapai.

Leave a Reply

 


ON AIR THIS WEEK
 

Cyclone brings Burmese military to its knees: Now aid workers say at least 20,000 are dead and tens of thousands more injured. There are fears that the number will rise due cholera and other water-borne disease breaking out amongst the two million people made homeless by the cyclone.The Burmese military is under mounting pressure to allow UN aid workers unlimited access to deal with the disaster. However, as our correspondents report, they are resistant to receive outside help.

Cambodian school children drop out of school after the WFP stops providing rice: Global stocks of rice are at their lowest in two decades. As a result rice prices have more than doubled since the start of the year. The United Nations World Food Programme’s spokesperson, Paul Risley, says the “poorest of the poor” will go hungry because their agency can’t afford to buy rice. As of this month the United Nations World Food Programme has suspended free breakfasts to nearly half a million school children. Sorn Sarath from VOD went to visit one of the schools affected to see the impact.

Asia Calling : Your Window on Asia


 

RELATED POSTS