Perjuangan Masyarakat Melawan Perang Batin

January 1st, 2008 by Rebecca Henschke  Print This Post/Page
 

Philippines_inter_faith_ed__web_.JPGFront Pembebasan Islam Moro dan pemerintah Filipina akan menandatangi kesepakatan perdamaian tahun ini. Kesepakatan ini akan mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama hampir 30 tahun.

Dalam pemberontakan itu, 120.000 tewas dan sedikitnya dua juta warga kehilangan tempat tinggal mereka sejak tahun 1960-an. MILF menuntut pembentukan wilayah otonomi Islam, dengan hukum Syariah dan kelompok itu mengendalikan keamanan dan sumber daya alam.

Namun, Mindanao adalah pulau dengan penduduk mayoritas umat Kristen sementara umat Islam mencapai 18 persen dari seluruh penduruk Filipina. Sejumlah pihak khawatir bila hal ini tidak diterapkan dengan baik, malah akan memicu kekerasan antar umat beragama di wilayah itu.

Rebecca Henschke menyoroti upaya masyarakat setempat untuk menangatasi ketegangan antar umat beragama dan laporannya dibacakan Vitri Angreni.

Kami bisa mendengar suara tawa saat berjalan mendekati sebuah rumah yang ada di tengah peternakan sapi.

Kami melewati banyak sekali pos penjagaan militer untuk sampai ke sini. Pengamanan sangat ketat karena hari ini adalah hari pemilihan umum lokal. Di dalam rumah ini, sejumlah pemuda berkumpul.

Mereka adalah kandidat untuk posisi pemimpin muda, berasal dari kelompok Kristen, Muslim dan suku asli Lumad. Mereka berkumpul hari ini untuk mempelajari cara menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.

“Kami telah mengalami perang terus menerus di Pikit. Dan orang-orang ini terpaksa menjadi pengungsi.�

Suster Adil adalah fasilitator dalam diskusi hari ini tentang pelatihan perdamaian di Pikit Cotabao. Tahun 2003 silam, rumahnya menjadi pusat pertempuran sengit ketika Presiden kala itu, Joseph Estrada, memerintahkan perang besar-besaran melawan Front Pembebasan Islam Moro, MILF.

“Ketika seorang Muslim terbunuh, mereka akan menyalahkan kelompok Kristen, yang diidentifikasi sebagai tentara. Ketika seorang Kristen terbunuh, mereka balik menyalahkan kelompok Muslim, karena dianggap bagian dari Front Pembebasan Islam Moro. Ada jurang besar yang harus dijembatani.�

Pemimpin-pemimpin muda dari berbagai latar belakang agama ini bersesakan dalam mini bus.

Kami akan menjalani tur ke zona damai.

Di tujuh wilayah ini terjadi dialog yang aktif antara komunitas Muslim dan Kristen. Di sini pula genjatan senjata pada tahun 2004 diawasi dengan ketat.

Warga setempat terlihat bersemangat mengikuti pembicaraan damai antara MILF dan Pemerintah Filipina di Malaysia.

Tapi Pendeta Katolik Bert Lyson mengatakan, masyarakat berada dalam perang yang berbeda: perang di dalam hati setiap orang.

“Misalnya, seorang bayi lahir di pusat evakuasi dan meninggal tiga hari kemudian. Saya mengatakan kepada sekelompok ibu Katolik, betapa sedihnya saya karena bayi ini meninggal. Mereka berkata, ’Oh bagus’. Saya langsung tersadar, wah, betapa panjang perjalanan yang harus dilalui. Kawan-kawan Muslim saya mengatakan kalau Imam di mesjid kerap menjelek-jelekkan kelompok Kristen. Perasaan seperti ini sudah begitu mengakar dan muncul dalam bentuk hubungan antar orang, di pasar, di sekolah dan lainnya. Dan ini buruk bagi situasi yang damai.�

Di dalam mini bus, saya duduk di samping Alexander Zikiri. Ibunya Kristen, ayahnya Muslim. Alexander adalah pemimpin gerakan mahasiswa, yang mengupayakan keharmonisan komunitasnya. Tapi, kata dia, ada saat-saat di mana dia harus berhadapan dengan prasangka buruk.

“Setelah lulus, saya melamar kerja di sebuah lembaga keuangan, di bank. Pewawancara mengatakan kepada saya kalau saya bukan orang yang tepat untuk pekerjaan itu, karena nama keluarga saya Muslim. Saya sangat kecewa karena saya pikir mereka bakal memilih saya. Tapi saya tidak akan pernah bergabung dengan MILF. Saya berjuang untuk keadilan, dari segi yang ideologis.�

Dia percaya, media berperan sangat besar dalam memanas-manasi perbedaan yang ada. Alexander ingin mengubah stereotip buruk bahwa Muslim adalah teroris.

Kami tiba di rumah kecil dari bambu, letaknya di sisi jalan raya. Dinding luar ditutupi banyak poster kampanye. Di situ ada Bong, remaja berusia 15 tahun, yang sedang tersenyum.

“Saya punya banyak poster. Lebih banyak lagi di seputaran kota.�

Dengan bangga Bong memperkenalkan teman-temannya yang beragama Kristen dan dari Suku Lumad kepada keluarga besarnya yang beragama Muslim. Ia dengan senang hati bekerja sama demi perubahan.

“Saya ingin memperkenalkan sistem pemerintahan yang baik di sini, juga mendatangkan proyek pembangunan.�

Tapi hanya 10 kilometer dari sini, anak laki-laki seumuran Bong membawa senjata dan membunuh demi MILF.

“Kata mereka, mereka tidak akan meletakkan senjata, sampai mereka diberikan pengelolaan otonomi untuk tanah bagi Bangsamoro, yang beragama Muslim.�

Saat ini tengah dibicarakan, seberapa besar otonomi yang bakal mereka terima, dan berapa besar yang akan diberikan Pemerintah Filipina. Tapi saat ini terlanjur menyebar ketakutan di antara komunitas Kristen kalau pemerintah menjual hak tanah mereka kepada MILF.

Pendeta Lyson mengatakan, semua kelompok mesti duduk bersama dan berdialog secara damai, atau konflik baru akan muncul.

“Saya tidak terganggu dengan perang yang terorganisir karena itu punya mekanisme sendiri dan kami bisa mencegahnya. Tapi kalau kekerasan sudah menyebar sampai ke tingkat komunitas, ini bisa menjadi kekerasan komunal di mana warga sipil terlibat! Kalau sudah begini akan sulit diatasi, seperti yang terjadi di komunitas Afrika. Kelompok masyarakat sipil sadar soal ini.�

Mereka berusaha menghentikan konflik lewat proyek perdamaian, salah satunya lewat pelatihan resolusi konflik dengan pemimpin muda, kata Lyson.

Kami tiba di pemberhentian terakhir. Dua perempuan Kristen tampak mengeluarkan tas mereka. Mereka akan menginap di sini bersama keluarga Muslim.

“Nama saya Janet, dari komunitas Kristen. Saya tak sabar untuk segera menginap bersama mereka, untuk mendengar cerita bagaimana mereka bertahan selama perang dan bagaimana mereka mengatasi ketakutan dan prasangka.�

Suster Ida dan Pendeta Lyson tersenyum.

“Kami membangun zona damai ini dengan dukungan MILF dan Pemerintah Filipina. Sangat lucu ketika mereka duduk bersama di satu meja (tertawa). Ini jadi proses penyembuhan tersendiri bagi mereka, untuk melihat orang yang selama ini menyebabkan mereka menderita. Kami menanam bibit kebaikan tanpa tahu kapan bibit itu akan tumbuh.�

Pada seri konflik puluhan tahun Mindanao berikutnya, kami akan mencari tahu peran perang antar suku dan para militer sipil dalam konflik tersebut.

Leave a Reply

 


ON AIR THIS WEEK
 

Cyclone brings Burmese military to its knees: Now aid workers say at least 20,000 are dead and tens of thousands more injured. There are fears that the number will rise due cholera and other water-borne disease breaking out amongst the two million people made homeless by the cyclone.The Burmese military is under mounting pressure to allow UN aid workers unlimited access to deal with the disaster. However, as our correspondents report, they are resistant to receive outside help.

Cambodian school children drop out of school after the WFP stops providing rice: Global stocks of rice are at their lowest in two decades. As a result rice prices have more than doubled since the start of the year. The United Nations World Food Programme’s spokesperson, Paul Risley, says the “poorest of the poor” will go hungry because their agency can’t afford to buy rice. As of this month the United Nations World Food Programme has suspended free breakfasts to nearly half a million school children. Sorn Sarath from VOD went to visit one of the schools affected to see the impact.

Asia Calling : Your Window on Asia


 

RELATED POSTS