Kemiskinan Menjadi Musuh Manila Dalam Peperangan Melawan Terorisme

January 1st, 2008 by Rebecca Henschke  Print This Post/Page
 

Philipine__web_.JPGPlank dengan tulisan “Selamat datang di Pulau Firdaus� menyambut para pengunjung di Pulau Basilan. Namun, sekarang tidak ada lagi turis asing di pantai yang dikelilingi oleh pohon kelapa.

Daerah kepulauan Sulu di Filipina Selatan dikenal bukan karena keindahan pantainya.

Daerah itu adalah tempat asal Abu Sayyaf, kelompok militan yang keras yang bertujuan untuk membentuk negara Islam.

Amerika Serikat, Filipina dan Belgia telah menaruh nama kelompok ini dalam daftar organisasi teroris.

Ribuan pasukan dari Manila, didukung Amerika Serikat, dikirim ke sana untuk menghancurkan kelompok radikal ini. Mereka mengklaim sedikit lagi berhasil menghilangkan kelompok ini setelah menembak sejumlah pemimpin senior kelompok Abu Sayyaf.

Tapi kebanyakan orang lokal berpikir, kemiskinan adalah penyebab terorisme, bukan dilatarbelakangi ideologi Islam. Karena itu, peningkatan kualitas dan standar hidup bisa menekan teror kekerasan.

Rebecca Henshcke menginvestigasi hal ini dari Basilan dan laporannya akan dibawakan oleh Citra Prastuti.

Salaam menyendok nasi untuk keluarganya. Kami duduk di lantai, di rumah satu kamarnya di Tipo-Tipo Proper.

‘Mari makan bersama kami,’ dia menawari, meski jumlah anggota keluarganya sendiri sudah cukup banyak.

“Sebelumnya hanya ada tiga orang tinggal di sini. Sekarang ada 13, karena dua keluarga pindah ke mari.�

Sahida A. Alasa berasal dari kelompok bantuan lokal, Nagdilaab.

Dia sedang tur berkeliling desanya. Dia ingin mengunjungi orang-orang yang terpaksa jadi pengungsi akibat bentrokan antara militer dan kelompok pemberontak bersenjata.

“Dalam budaya kami di Baslian, tidak ada kamp pengungsi untuk pengungsi internal. Mereka tinggal pindah ke keluarga mereka.�

Dia memperkirakan, ada 20 ribu keluarga pengungsi di sini sekarang.

Beberapa laki-laki tampak merokok dan berlindung dari hujan.

“Pemerintah, militer dan marinir, semua masuk ke wilayah kami. Jadi kami pindah. Wilayah ini telah jadi pusat evakuasi bagi kami sejak konflik mulai pada 1970-an. Kami pergi ke sana ke mari, semua tergantung konflik. Ini membuat kami sulit mencari uang. Kami, warga sipil, terlalu takut untuk kembali ke rumah kami, karena operasi militer masih berlangsung.�

Petani lain, Bishari, mengklaim pasukannya dan sebuah mesjid hancur akibat operasi militer September lalu. Operasi ini digelar untuk menghabisi kelompok Abu Sayyaf.

Saat ini banyak kasus kurang gizi dialami anak-anak di sana, juga angka buta huruf yang tinggi, terutama di daerah-daerah yang paling miskin di Filipina.

“Halo, saya Mande Musiddik, penasihat provinsi Tipo-Tipo Proper.

Ia mengklaim, banyak anggota kelompok Abu Sayyaf yang bergerak karena uang, bukan karena ideologi Islam.

“Tidak ada sesuatu yang menyebutkan kalau mereka berasal dari kelompok Abu Sayyaf, karena saya tidak tahu apa itu kelompok itu. Saya hanya tahu kelompok yang tidak tahu aturan hukum di sini.�

Media lokal belakangan ini menuduh saudara Mande sebagai anggota kelompok militan yang telah menculik dan membunuh orang asing dan anak-anak sekolah.

Mande mengatakan, saudaranya adalah bandit bersenjata tanpa pekerjaan. Kemiskinan membuat ia menculik untuk mendapat tebusan.

Pemerintahan yang lemah dan kehadiran militer yang terlihat di sana sini telah menciptakan budaya kekerasan di Pulau Mindanao.

Anggota kongres yang berkuasa di Basilan, Wahab Akbar, dikenal sebagai mengatakan, kultur di sini memang bernuansa kekerasan.

“Kultur di Provinsi Baslian dan sejumlah provinsi Muslim di Pulau Mindanao adalah kekerasan dan senjata. Dan banyak orang yang menyukai senjata. Militer datang dan ingin melucuti senjata warga sipil. Bahkan orang-orang sipil yang tidak melawan pemerintah akan menantang militer yang berupaya merebut senjata mereka. Satu-satunya cara untuk menghilangkan kekerasan di sini adalah menyediakan pembangunan ekonomi.�

Perang melawan teror hanya bisa dimenangkan di atas meja perundingan, bukan di medan perang, kata Akbar sebelum dia meninggal.

Tapi Pemerintah Filipina justru mengirimkan lebih dari tiga ribu tentara ke Pulau Mindanao untuk memerangi kelompok Abu Sayyaf. Tentara meyakini, jumlah anggota kelompok ini sekarang kurang dari 100.

Di penjuru pulau yang subur ini, terlihat keberadaan militer yang sangat mencolok.

Setiap kilometer, tampak pos pemeriksaan militer.

Kendaraan tank hilir mudik di jalanan kota.

Warga lokal Muslim mengeluh, mereka merasa diperlakukan seperti pemberontak.

“Kalau ketidakadilan militer berlanjut mereka akan merekrut pemberontak dua atau tiga kali lipat dari jumlah para pemberontak yang ada sekarang ini.�

Jocelyn Zabala telah melihat konflik berlangsung selama beberapa dekade di sini.

Suaminya adalah tentara, dia sendiri bagian dari Tim Pengawas Gencatan Senjata yang dibentuk pada 2003.

Kata Jocelyn, damai atau tidaknya di sini sangat tergantung kepada pemimpin militer setempat.

“Kalau masyarakat sering menyaksikan kekerasan oleh militer, mereka akan balik melawan. Terutama jika kultur masyarakat setempat ikut diperhitungkan.�

Sebuah helikopter Amerika Serikat mendarat di kamp militer Luis, di Kota Isabella.

Brigadir Jendral Juancho Sabban menjelaskan, mereka bekerja sama sangat erat dengan Amerika Serikat untuk memerangi kelompok Abu Sayyaf.

Tapi ia sangat marah dengan anggapan bahwa militer ikut memicu konflik.

“Saya kira Anda bicara dengan orang-orang yang salah. Saya tidak percaya omongan Anda kalau masyarakat tidak menginginkan tentara di sini. Beberapa hari belakangan, kami telah melakukan lebih banyak proyek kemanusiaan dibandingkan pemerintah manapun atau LSM manapun. Tidak ada operasi militer di sini, peran terbesar justru dimainkan batalyon bagian teknik. Banyak orang meminta kami memperbaiki jalan dan sekolah, untuk mencegah anak-anak mereka menjadi generasi penerus Abu Sayyaf. Kami sekarang memerangi musuh di segala tingkatan..�

Militer berkeras, mereka telah berhasil memenangkan simpati masyarakat.

Di sebuah kantor LSM lokal, Nagadilla Dedette Suacito yakin, selama Pemerintah Filipina mengambil langkah kekerasan terhadap kelompok Abu Sayyaf, maka mereka tidak akan pernah berhasil.

“Anak-anak muda yang kini bergabung dengan kelompok pemberontak dulunya adalah anak-anak yang keluarganya dibunuh oleh militer. Jadi ini semacam lingkaran kekerasan; ini yang kita ajarkan ke anak-anak jika kekerasan militer terus berlanjut.�

LSM ini berusaha mengajar anak-anak muda dengan hal berbeda.

Untuk itu mereka membuka Pusat Pelatihan baru di sana.

Di luar tempat pelatihan, tampak empat perempuan belajar menjahit. Juga ada Sekolah Pijat untuk Salon, di mana para siswa dibekali keterampilan terapi natural.

Kalau mereka punya masa depan, mereka tidak akan melirik kesempatan memanggul senjata, begitu kata Dedette.

Ia pernah dianugerahi penghargaan perdamaian atas kegiatannya.

Kembali ke Tipo-Tipo Proper, saya bertanya kepada dua anak laki-laki, apakah mereka ingin bergabung dengan militer atau kelompok Abu Sayyaf.

Tidak yang mana pun. Saya hanya ingin jadi petani, kata salah satu anak.

Kelompok LSM mengatakan, perubahan kultur kekerasan di sini harus dimulai dengan memberikan anak-anak ini harapan.

Leave a Reply

 


ON AIR THIS WEEK
 

Cyclone brings Burmese military to its knees: Now aid workers say at least 20,000 are dead and tens of thousands more injured. There are fears that the number will rise due cholera and other water-borne disease breaking out amongst the two million people made homeless by the cyclone.The Burmese military is under mounting pressure to allow UN aid workers unlimited access to deal with the disaster. However, as our correspondents report, they are resistant to receive outside help.

Cambodian school children drop out of school after the WFP stops providing rice: Global stocks of rice are at their lowest in two decades. As a result rice prices have more than doubled since the start of the year. The United Nations World Food Programme’s spokesperson, Paul Risley, says the “poorest of the poor” will go hungry because their agency can’t afford to buy rice. As of this month the United Nations World Food Programme has suspended free breakfasts to nearly half a million school children. Sorn Sarath from VOD went to visit one of the schools affected to see the impact.

Asia Calling : Your Window on Asia


 

RELATED POSTS