Perang Suku di Filipina Selatan Memprihatinkan
January 1st, 2008 by Rebecca Henschke
Perang suku atau yang lebih dikenal sebagai “Rido�, kian menyebar di Filipina bagian Selatan.
Penelitian yang dilakukan Institut Studi Bangsamoro menemukan, sejak 1930-an telah terjadi lebih dari seribu pertikaian suku di daerah itu.
Akibat pertikaian itu 5.000 warga tewas dan puluhan ribu kehilangan tempat tinggal mereka.
Perang Suku yang berbeda keyakinan itu terjadi akibat permusuhan politik dan bisnis, bukan karena isu agama.
Seperti yang dilaporkan Rebecca Henschke, perang suku yang telah berlangsung lama ini malah menyulitkan proses perdamaian di wilayah itu.
Simak laporannya bersama Sutami.
Inilah rumah yang paling bagus di kota Isabella tempat asal anggota kongres, Wahab Akbar. Ratusan orang bersesakan dalam ruang tamu rumah itu, sehari sebelum pemilihan umum berlangsung.
Mora, cucu perempuan Akbar mengatakan, mereka semua adalah para kandidat yang berupaya mendapatkan dukungan politik maupun dana.
Salah satu pekerja lembaga bantuan Jocelyn Zabala menuturkan, keluarga Wahab Akbar sangat berkuasa di pulau itu.
“Satu partai politik berkuasa di Basilan. Disini ada dinasti politik dan tidak ada transparansi.�
Wahab Akbar sudah memiliki tiga isteri dan sedang mencari istri yang keempat. Semua isterinya itu, memegang jabatan penting.
Isteri pertamanya adalah Gubernur Basilan, sementara yang kedua anggota dewan setempat dan yang ketiga adalah salah satu calon dalam pemilihan umum.
Para kritikus mengatakan, Wahab Akbar memerintah pulau itu dengan senjata dan uang hasil korupsi. Namun dia ketawa waktu saya menyampaikan tudingan itu.
“Tanya saja Indonesia soal korupsi. Negeri itu sangat korup dan menurut saya apa yang terjadi di sana juga terjadi di sini. Menurut saya korupsi di Indonesia itu sudah biasa dan mungkin hal yang sama juga terjadi disini.�
Wahab Akbar adalah bekas pemberontak Fron Pembebasan Islam Moro. Dia mulai mengangkat senjata ketika masih berusia 13 tahun dan dikenal sebagai pecinta senjata api.
“Senjata sudah menjadi bagian dari budaya di provinsi Basilan dan beberapa provinsi Islam di Mindanao. Dan orang yang gila suka dengan senjata. Sementara itu, militer datang dan ingin melucuti senjata. Bahkan warga sipil yang tidak melawan pemerintah, bakal bertikai kalau senjata mereka diambil.�
Banyak pihak yang menjadi musuhnya akibat gaya pemerintahannya itu. Seminggu setelah wawancara ini, dia meninggal terkena serangan bom dekat gedung parlemen di Manila.
Berdasarkan investigasi, kematiannya disebabkan oleh para saingan politiknya.
Dalam kesaksian polisi, para tersangka berulangkali mengatakan, ingin menghentikan kekuasaan Wahab Akbar di provinsi itu.
Permusuhan yang dipicu oleh kekuasaan semacam itu, merupakan penyebab perang suku di Mindanao.
Abhoud Syed Lingga adalah direktur Institut Studi Bangsamoro yang baru-baru ini merampungkan studi mendalam yang pertama mengenai Rido.
“Yang menjadi korban bukan orang yang menjadi sasaran sang musuh, tapi anggota keluarga musuh itu juga. Kalau sudah ada korban keluarga korban akan menyerang balik. Makanya rido bisa terjadi selama beberapa generasi.�
Dia menambahkan pertikaian juga kadang terjadi akibat cinta segitiga atau pertengkaran permainan olahraga basket. Para pemimpin Islam Moro termasuk anggota kongres Akbar mengatakan, kepemilikan senjata dan main hakim sendiri sudah menjadi bagian dari budaya Moro.
Namun Lingga berpendapat lain. Dia mengatakan hal itu terjadi karena warga tidak percaya dengan polisi atau pengadilan.
“Rido terjadi karena tidak ada sistem keadilan yang efektif. Kalau itu ada, tentu ‘rido’ tidak ada lagi. Ada beberapa daerah di Filipina Selatan yang tidak dikendalikan oleh pemerintah. Salah satu aspek pemerintahan yang baik adalah rakyat merasa bagian dari sistem pemerintah itu sendiri. Saat ini, rakyat tidak merasakan hal itu. Mereka sering katakan, pemerintah asinglah yang berkuasa. Artinya mereka merasa tidak perlu melindugi pemerintah.�
Dia menuturkan, bila pemerintahan yang baik bisa tercipta di Filipina Selatan, maka akan menjadi kunci untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama hampir 40 tahun di wilayah itu.
Kembali ke Basilan, isteri-isteri Akbar mengatakan, tidak akan balas dendam atas kematian suami mereka, dalam perang suku.
Sementara para pekerja LSM seperti Jocelyn Zabala berharap, kematian Akbar akan menghentikan kekuasaan politik keluarga Akbar di wilayah itu.
“Seharusnya ada mekanisme pengawasan. Kalau tidak ada oposan yang kuat siapa yang akan mengawasi pemerintah. Kalau ada sistem pengawasan berarti akan ada transparansi pemerintah lokal.�

Leave a Reply