Kehidupan Jurnalis Yang Penuh Ancaman di Mindanao

January 1st, 2007 by Rebecca Henschke  Print This Post/Page
 

Philippines_Media__web_.JPGMindanao, Filipina Selatan, merupakan tempat paling berbahaya yang kedua di dunia setelah Irak, bagi seorang jurnalis.

Menurut Persatuan Jurnalis Nasional, 51 reporter telah terbunuh sejak Presiden Arroyo berkuasa enam tahun lalu.

Reporter KBR68H, Rebecca Henschke mencari tahu mengapa media menjadi musuh di wilayah itu. Laporannya disampaikan oleh Sutami.

Tim program Sarapan Pagi di Radio Notre Dam, baru selesai siaran.

Sambil duduk dan minum kopi, mereka meninjau program hari itu. Radio tersebut, baru-baru ini dijuluki sebagai stasiun radio lokal yang terpopuler di kota Cotabato.

“Kami putar musik yang biasa dan juga ada berita pagi. Kami juga mempromosikan perdamaian. Jadi kami menyajikan semuanya yaitu: informasi, musik dan berita.“

Namun, Koordinator Reportase Ronald, mengakui, tidak semua warga yang senang dengan program mereka.

“Memang ada berbagai isu sensitif yang harus diangkat lewat cara yang damai. Kalau tidak, akan ada ancaman yang datang lewat SMS seperti ‘apa yang Anda lakukan? Anda masih ingin hidup besok?. SMS dan telfon seperti itu, dan juga ancaman bom. Tahun lalu, ada dua ancaman bom di stasiun radio kami.“

Sayang Ronald tidak menjelaskan siapa yang mengancam.

Tapi di ruangan manajer, Edwin Fernandez menuturkan siapa kira-kira dibalik intimidasi itu.

“Biasanya ancaman itu datang dari para politisi lokal. Di daerah ini, budayanya memang berbeda. Para politisi itu berpikir, kalau kami tidak mendukung mereka, berarti kami menentang mereka. Kalau memberi waktu siaran lebih banyak dengan politisi tertentu, mereka berpikir kami berpihak pada politisi itu. Dan di saat seperti itulah, mereka mulai mengancam dan kirim pesan seperti, ‘Anda tak akan hidup lebih lama lagi’ atau Anda terlalu berat sebelah.â€?

Dan di Mindanao, ada begitu banyak senjata.

Karena konflik antara kelompok separatis dan pemerintah telah berlangsung selama 30 tahun, senjata api mudah didapatkan.

“Ini tidak termasuk senjata api pejuang gerakan revolusioner. Militer memperkirakan ada lebih dari 50 ribu senjata api di Mindanao. Kecintaan terhadap senjata sudah jadi hal yang biasa. Bahkan, di beberapa daerah di wilayah otonomi Islam, tidak ada mayor yang jalan sendiri. Pasti ada sedikitnya enam pengawal bersenjata, tentara dan polisi yang khusus menjaga dia.�

Pembunuhan para jurnalis termasuk dalam gelombang pembunuhan politik di Filipina. Sejumlah kelompok hak azasi manusia mengklaim, lebih dari 800 orang dari kelompok-kelompok kiri telah terbunuh sejak 2001 silam. Karena itu, pemerintahan Presiden Gloria Macapagal Arroyo, ditekan oleh dunia internasional untuk mengadili dalang dari pembunuhan itu.

Pada awal tahun ini, wakil khusus PBB dikirim ke sana, untuk menginvestigasi pembunuhan tersebut. Dia menyimpulkan, militer Filipina atau AFP terlibat.

“AFP terus menyangkal kalau mereka harus menanggapi jumlah pembunuhan yang besar yang besar dengan cara yang efektif dan tepat. Presiden harus membujuk militer supaya reputasi dan keefektifan mereka akan lebih baik lagi dan tidak buruk kalau mereka mengakui ada sangkut pautnya dengan pembunuhan itu dan mulai melakukan investigasi.�

Karena tekanan dunia internasional seperti itu, Presiden Arroyo berjanji untuk bertindak.

Namun sebagian jurnalis mengatakan, yang bisa mereka lakukan sekarang ini adalah pindah ke tempat lain atau tidak mengangkat topik-topik tertentu.

Jeff Maitem, jurnalis yang dua tahun ini melaporkan pertikaian di Mindanao untuk surat kabar nasional “Daily Inquirer�, terpaksa pindah dari kota Cotabato, akibat berbagai SMS ancaman dari para politikus lokal. Padahal dia kenal dekat dengan Front Pembebasan Islam Moro maupun militer dan telah mengalami berbagai pengalaman yang membahayakan nyawanya.

“Saya dapat ancaman dari para politisi karena pekerjaan saya. Jadi saya serta istri pindah ke kota lain. Contoh ancaman itu seperti ini “Hati-hati, Anda diawasi.” Mereka mencari saya. Jadi waktu kami diancam seperti itu, kami putuskan untuk pindah.â€?

Jeff sudah tahu, ancaman seperti itu bukan sekedar gertakan saja.

“Memang berbahaya jadi jurnalis di Filipina. Bahkan empat hari lalu, dua penyiar dekat kota kami, ditembak oleh seorang laki-laki yang naik motor. Untungya mereka selamat dan tidak terbunuh.�

Namun, Jeff dan para jurnalis dari Radio Notre Dame mengatakan akan terus bekerja di media, meski kerap diancam.

“Menurut saya, saya ditakdirkan untuk menjadi jurnalis dan saya akan teruskan pekerjaan saya, meski diancaman. Saya tidak takut. Saya baru pindah, karena harus memikirkan keamanan keluarga saya, anak perempuan saya.�

“Memang ada hal-hal yang tidak perlu diambil ke hati. Kalau tidak, kami akan ketakutan untuk datang pagi-pagi ke stasiun radio.�

Leave a Reply

 


ON AIR THIS WEEK
 

Cyclone brings Burmese military to its knees: Now aid workers say at least 20,000 are dead and tens of thousands more injured. There are fears that the number will rise due cholera and other water-borne disease breaking out amongst the two million people made homeless by the cyclone.The Burmese military is under mounting pressure to allow UN aid workers unlimited access to deal with the disaster. However, as our correspondents report, they are resistant to receive outside help.

Cambodian school children drop out of school after the WFP stops providing rice: Global stocks of rice are at their lowest in two decades. As a result rice prices have more than doubled since the start of the year. The United Nations World Food Programme’s spokesperson, Paul Risley, says the “poorest of the poor” will go hungry because their agency can’t afford to buy rice. As of this month the United Nations World Food Programme has suspended free breakfasts to nearly half a million school children. Sorn Sarath from VOD went to visit one of the schools affected to see the impact.

Asia Calling : Your Window on Asia


 

RELATED POSTS